MASA DEPAN KELABU
Oleh: Liandrari Dwina E
Suara sol sepatu beradu
dengan keramik sekolah terdengar nyaring dan menggema di sepanjang koridor.
Gedung sekolah sudah sepi penghuni, hanya tersisa beberapa siswa dan petugas
kebersihan. Namun seorang gadis berkulit pucat masih berkutat dengan kegiatanya
di sekolah. Arutala, namanya. Jarum jam sudah menunjukan angka lima namun gadis
itu enggan pulang dari sekolah. Sambil menaikkan kacamata bundarnya yang
sedikit menurun, Arutala menelisik jajaran buku tebal di hadapannya. Kini ia di
perpustakaan, mencari beberapa buku sumber untuk referensi ujian masuk
universitasnya besok. Arutala berencana masuk jurusan kedokteran. Menjadi
dokter bukan perkara yang mudah, sehingga Arutala tak akan tenang bila dirinya
pulang awal dari sekolah. Gadis itu tak perlu panik karena sekolah buka sampai
jam sembilan malam. Arutala mengaitkan penyuara kuping di telinganya untuk
mendengar musik lalu mulai mengerjakan latihan soal.
Di tengah kesibukannya,
tiba-tiba gawai Arutala berbunyi membuat gadis itu terlonjak sebelum membaca
nama yang muncul di layar gawai. Ya, itu ibunya. Arutala menarik napas saat
mulai menjawab telepon ibunya. “Kuucapkan sekali lagi, bocah. Masuklah jurusan
bisnis. Jadilah kaya dan rebut warisan ayahmu. Dengarkan, Aru. Menjadi dokter itu
hanya membuang waktu” Arutala hanya diam, ia lelah selama ini cita-citanya
dipaksakan. Orang tuanya bercerai, namun sang ibu sangat ingin memiliki
kekayaan mantan suaminya lewat anaknya sendiri. “ Jangan berharap kau bisa
pulang ke rumah atau tidur dengan nyaman, Aru. Aku kecewa padamu” Arutala
meremas surai hitamnya kesal, ibunya terus memaksa. Bagaimana ia bisa tenang
menjalani cita-citanya tanpa restu orang tua? Gadis berkulit pucat itu terus
menghembuskan napas nya pasrah. Begitu juga dengan pustakawan di sana terheran
mengamati Arutala yang begitu gelisah.
Jingga gelap, langit
saat ini. Awan-awan tercerai berai seperti kapas. Hari sudah mulai gelap.
Arutala sudah hampir menyerah dan menuruti perkataan sang ibu. Namun, gadis itu
tiba-tiba teringat akan petuah seorang sesepuh dari desa neneknya. ‘Masa depan yang kelabu dapat membuatmu
sukses, namun masa depan yang berwarna dapat membuatmu bahagia. Sekalipun masa
depan yang kelabu menuntutmu, cobalah mewarnai dengan warnamu sendiri”. Arutala
tersenyum semangat, kini ia tak lagi bingung. Arutala akan tetap menjadi dokter
dan terus berusaha, ia akan membuktikan bahwa menjadi dokter juga bisa
menguntungkan kepada sang ibu. Arutala berpikir malam ini ia akan tidur di
rumah ayahnya dan meyakini sang ibu esok harinya. Tuhan, aku memohon kepada-Mu, jadikanlah warna dan keinginanku
merupakan jalan terbaik yang Engkau gariskan kepadaku.
Nama: Liandrari Dwina Endyarti
Kelas: VIIA
No: 17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar