Senin, 18 Mei 2020

Pentigraf_Liandrari_17_7A


MASA DEPAN KELABU
Oleh: Liandrari Dwina E

Suara sol sepatu beradu dengan keramik sekolah terdengar nyaring dan menggema di sepanjang koridor. Gedung sekolah sudah sepi penghuni, hanya tersisa beberapa siswa dan petugas kebersihan. Namun seorang gadis berkulit pucat masih berkutat dengan kegiatanya di sekolah. Arutala, namanya. Jarum jam sudah menunjukan angka lima namun gadis itu enggan pulang dari sekolah. Sambil menaikkan kacamata bundarnya yang sedikit menurun, Arutala menelisik jajaran buku tebal di hadapannya. Kini ia di perpustakaan, mencari beberapa buku sumber untuk referensi ujian masuk universitasnya besok. Arutala berencana masuk jurusan kedokteran. Menjadi dokter bukan perkara yang mudah, sehingga Arutala tak akan tenang bila dirinya pulang awal dari sekolah. Gadis itu tak perlu panik karena sekolah buka sampai jam sembilan malam. Arutala mengaitkan penyuara kuping di telinganya untuk mendengar musik lalu mulai mengerjakan latihan soal.

Di tengah kesibukannya, tiba-tiba gawai Arutala berbunyi membuat gadis itu terlonjak sebelum membaca nama yang muncul di layar gawai. Ya, itu ibunya. Arutala menarik napas saat mulai menjawab telepon ibunya. “Kuucapkan sekali lagi, bocah. Masuklah jurusan bisnis. Jadilah kaya dan rebut warisan ayahmu. Dengarkan, Aru. Menjadi dokter itu hanya membuang waktu” Arutala hanya diam, ia lelah selama ini cita-citanya dipaksakan. Orang tuanya bercerai, namun sang ibu sangat ingin memiliki kekayaan mantan suaminya lewat anaknya sendiri. “ Jangan berharap kau bisa pulang ke rumah atau tidur dengan nyaman, Aru. Aku kecewa padamu” Arutala meremas surai hitamnya kesal, ibunya terus memaksa. Bagaimana ia bisa tenang menjalani cita-citanya tanpa restu orang tua? Gadis berkulit pucat itu terus menghembuskan napas nya pasrah. Begitu juga dengan pustakawan di sana terheran mengamati Arutala yang begitu gelisah.

Jingga gelap, langit saat ini. Awan-awan tercerai berai seperti kapas. Hari sudah mulai gelap. Arutala sudah hampir menyerah dan menuruti perkataan sang ibu. Namun, gadis itu tiba-tiba teringat akan petuah seorang sesepuh dari desa neneknya. ‘Masa depan yang kelabu dapat membuatmu sukses, namun masa depan yang berwarna dapat membuatmu bahagia. Sekalipun masa depan yang kelabu menuntutmu, cobalah mewarnai dengan warnamu sendiri”. Arutala tersenyum semangat, kini ia tak lagi bingung. Arutala akan tetap menjadi dokter dan terus berusaha, ia akan membuktikan bahwa menjadi dokter juga bisa menguntungkan kepada sang ibu. Arutala berpikir malam ini ia akan tidur di rumah ayahnya dan meyakini sang ibu esok harinya. Tuhan, aku memohon kepada-Mu, jadikanlah warna dan keinginanku merupakan jalan terbaik yang Engkau gariskan kepadaku.

Nama: Liandrari Dwina Endyarti
Kelas: VIIA
No: 17


Tidak ada komentar:

Posting Komentar