Kamis, 21 Mei 2020

Pentigraf_Rangga_7A_11






SALAH PAHAM

Suatu hari, diriku terasa berseri. Aku mendapatkan pekerjaan di rumah orang kaya. Walaupun hanya menjadi satpam, aku masih bersyukur masih mendapat pekerjaan. Aku tinggal di rumah peninggalan orang tuaku bersama istri dan anakku. Sejak aku terkena PHK, aku menjadi pengangguran. Hingga aku mendapatkan pekerjaan ini.

Pagi hari, aku telah berada di pos. “Selamat pagi, Pak”, salamku kepada tuanku sambil membukakan pintu mobil dan gerbang. Namun, dia hanya diam dan langsung berangkat bekerja. Seketika, aku berpikir bahwa tuanku adalah orang sombong. Setelah seminggu bekerja, aku selalu mendapatkan sembako di pos. Aku selalu membawanya ke rumah. Hal itu terus terjadi hingga tuanku meninggal karena kecelakaan. Sejak itu, aku tidak mendapatkan sembako. Kebutuhan keluargaku menjadi sulit terpenuhi.

Suatu hari, aku meminta kepada istri tuanku untuk berhenti bekerja karena kurang gaji. “Mengapa?”, pertanyaannya padaku. “Sebenarnya, kebutuhan keluargaku dimudahkan oleh sembako yang selalu ada di pos.”, jawabku. Dia langsung menangis. “Kamu adalah orang ke-7 yang mendapatkan santunan dari suamiku.”, ucapnya. Ternyata, orang yang selalu menaruh sembako di pos adalah tuanku. Bahkan, dia telah membiayai dan merencanakan sekolah anakku hingga kuliah. “Suamiku mengalami masalah pendengaran, sehingga dia tidak bisa mendengar sapaanmu yang lirih”, ucapnya. Akupun terkejut, karena selama ini aku salah menilai tuanku.




Penulis : Gus Rangga Aditama
No./ kelas : 11/ 7A


Tidak ada komentar:

Posting Komentar