Letnal Kolonel Isdiman, sahabat yang tak akan terlupakan.
Seminggu yang lalu,sambil tersenyum dirimu memberi hormat kepadaku. Seusai upacara dilaksanakan,dirimu menghampiriku menjabat tangan ku dengan erat. "selamat,atas kesuksesan mu,pak, telah menjadi panutan kami sebagai panglima TKR. MERDEKA!!!". teriakan mu yang lantang dan kemudian memelukku. Kehangatan mu yang menguatkan tubuhku yang lemah sejak terpapar TBC beberapa tahun yang lalu. Tanganmu yang kuat sambil menepuk punggung ku dan berujar "bapak harus sehat,bapak sehat bukan untuk saya ssja,tetapi juga untuk Indonesia." tiba-tiba saja terdapat genangan air di mata ini mendengar semangat dari mu, sahabat ku.
Pada hari ini aku mengantar mu ke tempat peristirahatanmu yang terakhir. Serangan sekutu pada tanggal 26 November telah menghilangkan senyuman mu yang penuh semangat. tank" itu menggempurkan pasukan mu tanpa ampun. Pesawat cocor merah pun memburumu seolah tak memberimu kesempatan untuk berlindung. duh, sahabat ku.
Ini ujianku, ya ujian pertama ku sebagai panglima TKR. Harus mempertahankan Indonesia dari tentara sekutu. harus mempertahankan tanah kelahiran ku,tanah Jawa yang telah membesarkan ku. dan aku harus melampiaskan kesedihanku atas kehilangan mu, Letnal Kolonel Isdiman. Jangan panggil aku dengan nama Sudirman jika menyerah karena kehilangan mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar