Kamis, 21 Mei 2020

pentigraf_Mauly A.R_7B/15


          PENDIDIKANKU ADALAH KESUKSESANKU
                                 Karya : Mauly Arfelita Regisya

Halo semua, perkenalkan nama saya Amira. Saya adalah seorang wirausaha yang bisa dibilang sukses, dan saya berasal Bandung. Saya akan mencerikatan sedikit kisah lika-liku hidup saya sebelum saya sesukses sekarang.
Saya tinggal di Bandung bersama kedua orang tua saya dan adik saya. Dahulu, saya termasuk keluarga yang kurang mampu. Kami hidup serba kekurangan. Makan satu hari sekali, sekolah menggunakan seragam bekas, buku-buku hasil pungutan dari tempat sampah, dan susah bersekolah. Bapak saya bekerja bekerja sebagai pengangkut sampah, dan ibu saya mengalami sakit keras. Menyedikan sekali bukan?

Bapak saya adalah salah satu orang yang sangat menentang pendidikan. Berbanding terbalik dengan ibu saya, beliau sangat mendukung anaknya untuk bersekolah dan meraih cita-cita. Beliau pernah berkata kepada saya,
"Pendidikan itu penting Amira, jangan sampai kamu putus sekolah walaupun keluarga kita kurang mampu"
Karena bapak adalah orang yang tegas dan menentang pendidikan, aku bersekolah secara diam-diam. Tentu saja ibu sangan mendukung saya. Sampai-sampai bapak memergokiku sedang sekolah waktu dia sudah pulang dari pekerjaannya. Beliau marah besar dan menyeretku untuk pulang. Tentu saja aku menolak. Aku ingin sekali bersekolah supaya bisa mewujudkan mimpiku. Tapi bapak tetaplah bapak yang keras kepala, dia tetap menyeretku untuk pulang walau saya sudah merengek dan menangis.
Sampai dirumah, saya dimarahi habis-habisan oleh bapak. Beliau tidak membiarkanku keluar rumah sama sekali sejak kejadian itu. Tetapi saya tetaplah saya, ingin sekali bersekolah. Jadi saya belajar sendiri dengan buku-buku yang saya dapatkan dari tumpukan sampah bapak.
Alhamdulillah saat itu saya tidak ketahuan dengan belajar secara diam-diam. Guru saya disekolah pun selalu memberikan soal-soal ujian kepada saya untuk digunakan latihan. Nilai yang saya dapatkan dari hasil latihan tersebut pun selalu mendapatkan nilai sepuluh. Saya sangat bangga sekali.
Sampai saya ditunjuk sebagai perwakilan desa dalam mengikuti lomba cerdas cermat. Saya memberitahukan kabar gembira itu kepada ibu. Beliau tersenyum senang. Saya pun bahagia melihat senyuman ibu.

Satu hari sebelum perlombaan, ibu saya meninggal. Saya dan keluarga sangat terpukul atas meninggalnya ibu. Tadinya saya ingin sekali pergi ke perlombaan itu dengan ibu. Tapi tuhan berkata lain dengan mengambil nyawa ibu sebelum perlombaan. Mau tidak mau, saya harus mengatakan hal yang sesungguhnya kepada bapak. Dan meminta bapak untuk menjadi wali saya di perlombaan.
Saat saya mengatakannya kepada bapak, tentu saja bapak sangat marah. Beliau tidak mengizinkan saya untuk mengikuti perlombaan tersebut.
Saya berusaha membujuk bapak dengan selembut mungkin, dengan iming-iming permintaan terakhir ibu. Dengan itu bapak mau menemani saya.
Perlombaan dimulai, saya masuk ke babak enam besar. Saya dapat melihat bapak tersenyum senang. Saya masuk ke babak tiga besar, babak penentuan siapa yang akan menjadi juara. Babak ketiga saya lalui dengan baik, dan alhamdulillah, saya mendapat peringkat satu. Bapak tersenyum haru lalu menangis bahagia. Bapak berkata kepada saya,
"Amira maafkan bapak, bapak akan berusaha mencari uang lebih giat suapaya kamu bisa bersekolah lagi, bapak janji akan selalu mendukung kamu."
Sejak hari itu saya diperbolehkan bersekolah oleh bapak, saya sangat bersyukur sekali. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut. Saya juga mendapatkan beasiswa waktu SMA. Saya mendapat beasiswa untuk bersekolah di Universitas Gajah Mada. Salah satu sekolah impian saya.
Akhirnya sampai sekarang, saya menjadi Wirausaha yang sukses. Saya tentu sangat berterimakasih pada seluruh guru-guru dan karyawan yang mendukung saya, bapak saya, dan tentunya ibu saya. Karena tanpa mereka, saya tidak akan bisa sampai sekarang ini. Saya yakin Ibu saya pasti bahagia di atas sana, atas kesuksesan yang saya capai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar