PENDIDIKANKU ADALAH KESUKSESANKU
Karya : Mauly Arfelita Regisya
Halo semua,
perkenalkan nama saya Amira. Saya adalah seorang wirausaha yang bisa dibilang
sukses, dan saya berasal Bandung. Saya akan mencerikatan sedikit kisah
lika-liku hidup saya sebelum saya sesukses sekarang.
Saya tinggal
di Bandung bersama kedua orang tua saya dan adik saya. Dahulu, saya termasuk
keluarga yang kurang mampu. Kami hidup serba kekurangan. Makan satu hari
sekali, sekolah menggunakan seragam bekas, buku-buku hasil pungutan dari tempat
sampah, dan susah bersekolah. Bapak saya bekerja bekerja sebagai pengangkut
sampah, dan ibu saya mengalami sakit keras. Menyedikan sekali bukan?
Bapak saya
adalah salah satu orang yang sangat menentang pendidikan. Berbanding terbalik
dengan ibu saya, beliau sangat mendukung anaknya untuk bersekolah dan meraih
cita-cita. Beliau pernah berkata kepada saya,
"Pendidikan
itu penting Amira, jangan sampai kamu putus sekolah walaupun keluarga kita
kurang mampu"
Karena bapak
adalah orang yang tegas dan menentang pendidikan, aku bersekolah secara
diam-diam. Tentu saja ibu sangan mendukung saya. Sampai-sampai bapak
memergokiku sedang sekolah waktu dia sudah pulang dari pekerjaannya. Beliau
marah besar dan menyeretku untuk pulang. Tentu saja aku menolak. Aku ingin
sekali bersekolah supaya bisa mewujudkan mimpiku. Tapi bapak tetaplah bapak
yang keras kepala, dia tetap menyeretku untuk pulang walau saya sudah merengek
dan menangis.
Sampai
dirumah, saya dimarahi habis-habisan oleh bapak. Beliau tidak membiarkanku
keluar rumah sama sekali sejak kejadian itu. Tetapi saya tetaplah saya, ingin
sekali bersekolah. Jadi saya belajar sendiri dengan buku-buku yang saya
dapatkan dari tumpukan sampah bapak.
Alhamdulillah
saat itu saya tidak ketahuan dengan belajar secara diam-diam. Guru saya
disekolah pun selalu memberikan soal-soal ujian kepada saya untuk digunakan
latihan. Nilai yang saya dapatkan dari hasil latihan tersebut pun selalu
mendapatkan nilai sepuluh. Saya sangat bangga sekali.
Sampai saya
ditunjuk sebagai perwakilan desa dalam mengikuti lomba cerdas cermat. Saya
memberitahukan kabar gembira itu kepada ibu. Beliau tersenyum senang. Saya pun
bahagia melihat senyuman ibu.
Satu hari
sebelum perlombaan, ibu saya meninggal. Saya dan keluarga sangat terpukul atas
meninggalnya ibu. Tadinya saya ingin sekali pergi ke perlombaan itu dengan ibu.
Tapi tuhan berkata lain dengan mengambil nyawa ibu sebelum perlombaan. Mau
tidak mau, saya harus mengatakan hal yang sesungguhnya kepada bapak. Dan
meminta bapak untuk menjadi wali saya di perlombaan.
Saat saya
mengatakannya kepada bapak, tentu saja bapak sangat marah. Beliau tidak
mengizinkan saya untuk mengikuti perlombaan tersebut.
Saya
berusaha membujuk bapak dengan selembut mungkin, dengan iming-iming permintaan
terakhir ibu. Dengan itu bapak mau menemani saya.
Perlombaan
dimulai, saya masuk ke babak enam besar. Saya dapat melihat bapak tersenyum
senang. Saya masuk ke babak tiga besar, babak penentuan siapa yang akan menjadi
juara. Babak ketiga saya lalui dengan baik, dan alhamdulillah, saya mendapat
peringkat satu. Bapak tersenyum haru lalu menangis bahagia. Bapak berkata
kepada saya,
"Amira
maafkan bapak, bapak akan berusaha mencari uang lebih giat suapaya kamu bisa
bersekolah lagi, bapak janji akan selalu mendukung kamu."
Sejak hari
itu saya diperbolehkan bersekolah oleh bapak, saya sangat bersyukur sekali.
Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut. Saya juga
mendapatkan beasiswa waktu SMA. Saya mendapat beasiswa untuk bersekolah di
Universitas Gajah Mada. Salah satu sekolah impian saya.
Akhirnya
sampai sekarang, saya menjadi Wirausaha yang sukses. Saya tentu sangat
berterimakasih pada seluruh guru-guru dan karyawan yang mendukung saya, bapak
saya, dan tentunya ibu saya. Karena tanpa mereka, saya tidak akan bisa sampai
sekarang ini. Saya yakin Ibu saya pasti bahagia di atas sana, atas kesuksesan yang saya capai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar