- nama : damara aulia praditha
- kelas : 8I
- absen : 09
Malam seakan mengerti keadaanku. Angin yang dingin, sama seperti dinginnya hatiku.
Keadaan yang sangat tenangnya, sepi tanpa ada nya orang yang berlalu lalang, disertai angin yang menyeruak, menusuk kulit tubuhku, hanya ada suara jangkrik yang terdengar dan ditemani dengan suara lagu galau yang mengalun di earphone milikku membuat diriku lupa akan masalah yang terjadi padaku, seperti itulah tampakku saat ini.
Kuberjalan, ditengah gelapnya malam yang dingin, pencahayaan hanya dari sinar rembulan, dan lampu jalanan, yang tampak remang. Terlihat biasa memang, tapi ku sangat berharap hujan turun saat ini, untuk menutupi kesedihan yang sedang kualami. Waktu berjalan lambat, tetapi segala perasannya yang terpendam mucul dengan cepatnya.Perlahan ku mulai menitikkan air mata, ya tuhan kapan hujan akan turun? aku tak mau ada seorang pun yang mendengar tangisanku. Aku semakin merenung kala itu.
Hari demi hari terus berganti, segala kesedihan dan beban mengucur keluar begitu saja bak air yang mengalir. Begitu banyak peristiwa yang menghanjurkan hati. Semakin malam, semakin diriku tak dapat terkontrol, marah sedih campur aduk jadi satu. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam semua peristiwa seakan muncul satu persatu, seakan terkuak dengan cepatnya, hati semakin hancur. Beberapa malam belakangan ini aku semakin terpuruk. Air mata tak lagi keluar, tetapi hati terasa beku. Apakah aku tak lagi sedih? kurasa tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar