Antara Damalang – Pasar Gede
Oleh: Sukarni
Angkot jurusan Damalang – Pasar Gede berjalan perlahan. Dalam angkot panas dan pengap karena ada penumpang yang merokok. Aku kesal sekali.
Di depan RSUD, dua penumpang naik. Belum lima menit, seorang nenek membawa ember tempat ikan masuk. Hidungku tersumbat, bau amis yang luar biasa menyeruak, membuatku sesak napas. Nenek itu mengambil tempat persis di sebelahku. Aku berusaha menjauh, tapi tak ada tempat lagi. Yang bisa kulakukan hanya menutup hidung. Bau keringat campur amis membuatku makin pening. Sayang, nenek ini cerewet sekali. Ia menanyaiku macam-macam. Aku menjawab sekenanya sambil membuang muka. Sampai Kebon Baru, kondektur menarik karcis. Betapa terkejutnya aku ketika kubuka tas ternyata dompetku tak ada. Sampai semua anakan kugeledah, tak kutemukan selembar uang pun. Wajahku memanas, bingung. Kulihat nenek itu menarik ujung stagen-nya, mengeluarkan uang recehnya, menghitung, dan menyerahkannya pada kondektur. Ia hendak membundelnya lagi ketika tiba-tiba ia melihatku. Ia tentu melihat wajahku yang pucat dengan tas masih terbuka. Ia tidak jadi membundel ujung stagen-nya. “Ini ongkos angkot Neng ini,” katanya. “Hati-hati, Neng!” katanya sebelum berlalu.
Leherku sakit, tak bisa berkata-kata. Mataku berkaca-kaca.... Ya Tuhan..., maafkan aku, hari ini aku belajar sesuatu.
Pendapa Kabupaten Cilacap, 7 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar