Sabtu, 16 Mei 2020

Pentigraf Kirana Mustika Prabandini_16_7A

   Jangan mudik!

  "Ibu, Oza lebaran nanti pulang ya," ucapnya dari mulut Oza lewat perantara ponsel. Ibunya hanya bisa menghela nafas. Bagaimana bisa sang anak pulang ke kampung halaman pada musim corona seperti ini? Gumamnya. Ibu pun mencoba membujuk anaknya, "Jangan mudik dulu, Za. Sekarang sedang ada pandemi, kamu gak bisa pulang dulu. Kita harus menaati himbauan pemerintah untuk tetap dirumah agar pandemi ini lekas pergi dari Indonesia,"

     "Tapi Bu, Oza kangen ibu. Selain itu, aku bosan di kos kosan terus, uang bulanan juga menipis" keluh sang anak. Ibu kembali mengusap wajahnya. Dia pun mencoba untuk kembali menjelaskan kepada si sulung, "Tapi Oza, tetap saja kamu tidak boleh pulang. Coba bayangkan, mungkin sekarang kamu kelihatan baik baik saja, tapi gak tahu nanti diperjalanan. Bisa bisa kamu malah tertular, lalu membawa virus ke kampung. Kemudian Oza dapat menulari ibu, adik, ayah, dan semua warga kampung. Ibu juga kangen kamu, tapi ini juga untuk kebaikan bersama, Nak."

     "Oh iya juga ya, Bu. Kalau begitu, Oza gak jadi mudik deh. Eum.. tapi omong omong, uang bulanan bagaimana Bu? Hehe" tanya Oza. Sang ibu pun tersenyum simpul. "Nah begitu dong. Oza tetap jaga kesehatan, rajin cuci tangan, jangan lupa pakai masker, dan patuhi himbauan pemerintah ya. Untuk urusan uang bulanan mah gampang, nanti ibu transfer deh hahaha."

Nama: Kirana Mustika Prabandini
No. Absen: 16
Kelas: VII A

Pentigraf Mutiara Balqis Sabila_17_7B

                          Di Rumah Aja 

     Monster corona masih mengintai dunia dengan korban-korban baru.Makhluk tak kasat mata itu,masih menimbulkan korban meninggal dunia,yang dicemaskan warga bumi dalam setiap harinya. Dengan banyaknya penambahan pasien corona berarti masyarakat masih kurang disiplin dalam mematuhi aturan pemerintah.Sekarang masyarakat mulai membiasakan hidup bersih karena adanya virus ganas ini. 

     Dul dan keluarganya tak menghitung hari lagi sudah berapa lama meringkuk di rumah.Kebebasan menikmati kehidupan luar, dia penjarakan dahulu agar terhindar dari ancaman virus ganas tersebut. Dul masih di rumah saja sampai waktu yang ditentukan.Setiap pagi setelah bersih-bersih rumah, Dul bersama ayah dan ibunya berjemur menyerap sinar matahari untuk memicu imunitas tubuh dan mencegah munculnya virus corona mewabah. Biasanya selepas pukul 07.00 rumah sudah sepi. Dul berangkat ke sekolah sedangkan orang tuanya bekerja ke kantor. Kini mereka belajar dan bekerja secara online serta menghabiskan waktunya di rumah. 

     Sekarang Dul hanya selalu membayangkan bertapa ganasnya virus corona hingga memakan korban jiwa tidak peduli status tua, muda, kaya,dan miskin. Dul hanya bisa melepas nafas. Sekarang disadarinya bahwa tetap di rumah dan jangan pergi itu sangat penting dan meringankan petugas medis dalam memutus mata rantai persebaran virus corona. Berdiam di rumah juga dapat mempererat kasih sayang antar anggota keluarga.

Nama  : Mutiara Balqis Sabila
Kelas   : VII B
Absen  : 17

Puisi Ananda Dwi_7B_03



Virus Corona


Engkau datang secara tiba-tiba
Tanpa memberi tahu banyak orang
Mengejutkan banyak orang
Dan datang membawa banyak kerugian

Mengapa engkau merusak bumi ini? 
Membuat Bumi menjadi sunyi sepi
Menciptakan sebuah jarak
Bahkan, mampu membatasi kegiatan

Jika ku bisa memutar waktu
Ku ingin kembali ke masa lalu
Dimana pada saat itu
Ku dapat mendengar keramaian




Keanehan Corona


Ku terbangun dari tidurku
Dengan hangatnya sang mentari
Mempersiapkan diri untuk bersekolah
Namun, kini tidak lagi

Ku menunggu azan berkumandangDengan alunan nada yang merdu
Berjalan ke mushola dan beribadah
Namun,  kini tidak lagi

Kini ku sadari keanehan ini
Keanehan suatu virus
Yang mengubah banyak hal
Yaitu Virus Corona




Ramadhan dengan Corona


Jika teringat tentang Ramadhan
Yang ku ingat keberkahan
Namun,  jika teringat tentang Corona 
Yang ku ingat hanya virus pemisah

Tarawih bersama
Buka puasa bersama
Mengaji bersama di mushola
Ramadhan kini tak kulalukan

Corona, Corona, Oh Corona 
Mengapa engkau datang ke muka Bumi ini? 
Engkau datang di bulan Ramadhan
Bulan yang suci dan penuh berkah



Nama       : Ananda Dwi Kharisma Putri
Kelas        : VII B
No.absen : 03

Pentigraf Ananda Dwi_7B_03


Persengketaan Tanah



     Di suatu desa terdapat sebuah tanah yang diatasnya dibangun sebuah  masjid sesuai permintaan pemiliknya, KH. Mashurroh.Masjid tersebut dinamakan Masjid al-Jaliil yang artinya Maha Luhur.Namun,setelah pembangunan Masjid selesai, KH. Mashurroh meninggal dunia.Anaknya yang sedang merantau kembali ke desa untuk melihat proses pemakaman ayahnya.Pada saat melihat proses pemakaman, ia teringat dengan janji ayahnya yang ingin memberikannya sebuah tanah.Namun, ternyata tanah tersebut sudah digunakan untuk pembangunan masjid.



    Mendengar tanah tersebut sudah digunakan untuk pembangunan masjid, anaknya merasa kecewa terhadap ayahnya karena ayahnya sudah mengingkari janjinya sendiri.Merasa marah, ia meminta pengurus masjid untuk menghancurkan masjid dan memberikan tanah masjid tersebut.Namun, pengurus masjid menolak,karena ia merasa telah diamanahkan untuk menjaga masjid tersebut.Mendengar pengurus masjid tidak mau menuruti perintahnya,ia berniat ingin menghancurkan Masjid al-Jaliil sendiri.Pada saat ingin menghancurkan masjid,pengurus masjid mengatakan bahwa sebenarnya Masjid al-Jaliil  dibangun KH. Mashurroh dengan tujuan untuk diberikan kepada anaknya.Hal tersebut bertujuan supaya anaknya lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. 

     Setelah itu, anaknya mengakui bahwa ayahnya tidak mengingkari janjinya.Anaknya pun meminta maaf kepada pengurus masjid atas segala perbuatannya.Anaknya sangat berterimakasih kepada Tuhan YME karenanya ia dapat tersadar dengan apa yang dilakukannya.Akhirnya, anaknya pun menjalankan amanah dari ayahnya untuk menjaga masjid dengan ikhlas. 



Nama       : Ananda Dwi Kharisma Putri
Kelas        : VII B
No.absen : 03

Puisi-Fandy 7B-06


VIRUS CORONA

Siapakah engkau,Corona?
Sejak engkau datang,kami mengurung diri dirumah
Kami menutup pintu dan jendela rumah
Engkau ada di luar atau di dalam tubuh kami
                                        
                    Oh,corona....
                    Kau menjangkiti seluru negeri di bumi ini                                                                
                    Kau menyerang begitu cepat dan luas
                    Setiap hari kau telah membunuh ribuan orang di dunia ini

Kau adalah tentara yang diturunkan oleh tuhan
Kau telah membuat developer game berjaya,dan semua yang berhubungan dengan daring
Kini bersin lebih di jauhkan dari pada kentut yang bau nya tak terhingga sekalipun
Dulu kita dekat semenjak ada kau,kita jauhan

                                        SEMOGA CORONA BERLALU
Jangan menyerah hingga pandemi ini selesai,walaupun kamu terjangkiti
Jadikanlah libur ini untuk memperbanyak  ibadah di rumah
Dan sesuatu yang bermanfaat lainnya
Jangan jadikan libur untuk melakukan yang tidak bermanfaat

                                 Kau datang tak diundang
                                 Pulang pun tak usah menunggu lama
                                Cepatlah pergi dari bumi kita
                                Apa kau tidak memikirkan orang telah kau sakiti

Entah sampai kapan wabah ini hilang
Hanya berharap pada keajaiban dan doa dari kita semua
Lenyap dari bumi selamanya sirnah                                                                                                   
Kau hilang kitapun  senang

                                                                     Nama:Fandy Luqmana Firmansyah
                                                                      Kelas: 7B/06

Pentigraf - Fandy 7B-06


Senyuman (agama)

          Ningsih berjalan tertatih-tatih,menyusuri lorong gelap di sebuah kampung terpencil.Mata sendunya menatap jalang pada apapun yang lalu lalang di hadapan ketika telah tiba di depan lorong.Keinginan menggebu telah menanti untuk terpuaskan.Dahaga yang sungguh menyiksa.
          Juwita,kembang desa yang masih belia itu terlihat dari jauh hendak melintasinya.Senyum mereka,mekar di kedua sudut  bibir.Pertanda penantiannya akan segera berakhir.”Hai Juwita,lihat aku!”serunya sebelum gadis cantik itu berlalu terlalu jauh.
            Mendengar namanya disebut,ia segera menoleh.Senyuman ningsih berdaya magis.Juwita tak berdaya dan terbengong saat ningsih bersenyum.Juwita menarik tangannya ningsih masuk ke dalam lorong gelap itu.Tak berapa lama kemudian,dari mulut lorong itu keluarlah seorang gadis cantik berparas sendu sambil tersenyum kearah depannya.Ningsih tersenyum bahagia saat gadis cantik itu keluar dari dalam goa yang sangat gelap.
                                          

                                                                            Nama:Fandy luqmana firmansyah
         Kelas:7B/06

Pentigraf Diandra Mayliza 8i

Nama : Diandra Mayliza Nurazizah
Kelas  : 8i
Absen : 12

Pesan dari Ayah

Sore itu sepulang kerja, Pak Farid membuka gerbang rumah mewahnya. Istri dan anaknya sudah menanti sedari tadi.Tanpa mengucap sepatah kata, pria berjas itu langsung memasuki rumahnya dan menuju kamar tidur. Sembari merapikan barang kerjanya, ia bergumam "Katanya.. Semua orang membencinya, tapi mengapa ia begitu baik padaku? Memberikan apapun yang kumau, termasuk rumah ini. Apa yang salah dengan dirinya?"

Bel rumah tiba-tiba berbunyi. Dengan segera, ia membukakan pintu."Pak Farid Rusyam?" ucap dua pria asing. "Iya saya sendiri, ada apa?"."Maaf Pak, bisa ikut kami sebentar?"."Tap-"belum saja berbicara, kedua pria itu meminta Pak Farid beserta keluarga untuk masuk kedalam sebuah mobil hitam. Sampai ditujuan, gedung megah terpampang jelas didepan matanya. Perasaannya campur aduk. Takut, sedih, dan kecewa. Vonis memang belum jatuh, tapi penjara sudah menanti. Polisi menunjukkan berbagai rekaman yang membuktikan PakFarid melanggar hukum. Istrinya yang tak mengetahui apapun, tak tanggung-tanggung meneteskan air mata.

Setelah bersaksi di pengadilan, pria malang itu terbukti bersalah dan dipidana penjara selama 15 tahun. Kecil kemungkinan bisa lolos dari jeratan kasus tersebut. Kini hidupnya diselimuti dengan penyesalan. Anaknya yang berusia 8 tahun hanya memasang wajah polos ketika melihat ayahnya sendiri melakukan tindakan tercela. Sebelum dimasukkan sel, Pak Farid membisikkan pesan kepada anaknya, "Jangan mengikuti jejak ayahmu sebagai koruptor, Nak"


Kutipan:
Karena sejatinya sepasang musuh yang paling dibenci negara adalah korupsi & koruptor

- info lengkap penulis klik disini -

Puisi Diandra Mayliza 8i

Nama : Diandra Mayliza Nurazizah
Kelas  : 8i
Absen : 12



Saat bumi mulai merintih
Saat itulah corona mengambil alih
Mengambil semua warna pelangi
Mengambil semua tekad dan ambisi

Aku jengah termenung sendiri
Dengan pikiran yang menyelimuti
Bagaimana ini bisa terjadi?
Mungkin saja kehendak Sang Maha Pengasih

Kabar duka yang silih berganti
Ekonomi yang kini menurun drastis
Membuat kami khawatir
Apa yang terjadi di kemudian hari

Tetapi dilain sisi
Tuhan pasti memiliki rencana yang 'apik'
Menyisipkan skenario terbaik
Agar manusia tak hanya mementingkan "duniawi"


- info tentang penulis -

Jumat, 15 Mei 2020

puisi_walyn_7b_32


CORONA
Virus berbahaya dari china,menyerang manusia tak berdosa
Kau menghancurkan hari-hari  ku,dan orang lain
Walaupun ku libur,aku tetap tak senang
Setiap hari ku ingin bertemu dengan temanku,tetapi kau menghancurkannya

            Oh,corona….
            Kau menjangkiti seluruh negeri di bumi ini
            Kau menyerang begitu cepat dan luas
            Setiap hari kau telah membunuh ribuan orang di dunia ini

Kau adalah tentara yang diturunkan oleh tuhan
Kau telah membuat developer game berjaya,dan semua yang berhubungan dengan daring
Kini bersin lebih di jauhkan dari pada kentut yang bau nya tak terhingga sekalipun
Dulu kita dekat semenjak ada kau,kita jauhan

SEMOGA CORONA BERLALU
Jangan menyerah hingga pandemi ini selesai,walaupun kamu terjangkiti
Jadikanlah libur ini untuk memperbanyak ibadah di rumah
Dan sesuatu yang bermanfaat lainnya
Jangan jadikan libur untuk melakukan yang tak bermafaat

          Kau datang tak diundang
          Pulang pun tak usah menunggu lama
          Cepatlah pergi dari bumi kita
          Apa kau tidak memikirkan orang telah kau sakiti
Entah sampai kapan wabah ini hilang
Hanya berharap pada keajaiban dan doa dari kita semua
Lenyap dari bumi selamanya sirnah
Kau hilang kitapun senang

Pentigraf_Gradien Ridholumintu_7B_08





Kenikmatan Sesaat
Namaku Ravi. Sejak kecil, aku suka dengan travelling. Aku dan sekeluarga sudah merencanakan untuk liburan ke suatu danau pada hari ulang tahunku nanti.

Hari yang ditunggu pun tiba, kami sekeluarga berangkat ke tujuan yang sudah kami nantikan. Sesampainya di bandara, ayahku terkena serangan jantung. Tanpa diduga, ia meninggal seketika. Aku yang sangat sedih pun sudah tak ada semangat untuk pergi ke danau yang ayah bilang sangat indah itu. Hampir seharian aku mengurung diri di kamar hotel, aku masih tak menyangka dengan kejadian itu. Esoknya, ibu dan kakak ku membujuk ku agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ia mengajak ku untuk ke danau tersebut. Aku yang sudah tak punya semangat ini pun hanya mengiyakan nya dengan terpaksa. Di sana, aku duduk di tepi danau, aku memilih untuk memisahkan diri dari yang lain. Air danau yang biru, semburat kemerahan di kala senja, hembusan angin yang menenangkan,  suara daun yang berjatuhan, aku terlena dengan kenikmatan sesaat. Tiba – tiba saja, aku merasa tubuhku melayang di angkasa, melewati awan – awan, dan menembus cakrawala. Semua keluh kesah ku hilang seketika.

Keesokan harinya, aku tersadar. Aku tak ingat apa yang terjadi. Hanya saja, aku sudah berada di lain dunia, di situ aku melihat kerumunan warga dan Tim SAR mengililingi danau itu seakan mencari sesuatu.