Rabu, 27 Mei 2020

Pentigraf : MARCHEL_15_8J

Keadilan

by : Marchel D.A.W (VIIIJ/15)

    Namaku adalah Alex, aku dilahirkan dari keluarga yang tak mampu. Hitam, jelek, gendut itulah rupaku aku bersekolah di SMAN 5 Jaya Raya.

    Di sekolah aku sering kali di bully oleh teman-temanku. Mereka sering kali menyebutku buruk rupa. Sampai disitu hari aku di hajar habis-habisan oleh teman-temanku hanya karena aku dituduh menghilangkan pulpen. Aku pulang dengan keadaan babak belur, sampai dijalan aku bertemu wanita berpakaian jas mendekatiku. "Ada apa denganmu?" Tanyanya. "Tidak apa-apa, ini sudah biasa" jawabku. "Cepat katakan sejujurnya!" Tanyanya dengan nada tegas, akupun bercerita semuanya yang aku alami. "Sudah keterlaluan! Aku akan menegakkan keadilan untukmu. Perkenalkan aku adalah kuasa hukum disini, perlakuan temanmu itu sudah keterlaluan". "Aku tidak mau, biarlah mereka lakukan. Aku ini orang miskin, bagaimana aku menuntut mereka?". "Kau tidak usah khawatir, aku akan menanggung semuanya. Tak peduli tingkatanmu, kau berhak mendapat keadilan". Aku hanya mengangguk dan sampai di suatu hari setelah aku selesai menuntut mereka, akhirnya mereka tertangkap. Mereka mengancamku, tapi aku sudah tidak takut lagi. Akupun diberi rumah yang layak oleh pemerintah, aku belajar dengan giat dan tekun agar dapat beasiswa sampai akhirnya kehidupanku berubah. Aku telah sukses menggapai cita-citaku menjadi kuasai hukum agar Nani aku bisa menegakkan keadilan untuk orang diluar sana.

    Keadilan tidak melihat betapa kaya orang itu dan berapa lemah orang itu. Setiap warga NKRI berhak mendapat keadilan, dan keadilan adalah hal tertinggi dalam kehidupan.



Puisi : MARCHEL_15_8J

Kelabu Di Negeriku

Oleh : Marchel Dimas Angger Wahyono (VIIIJ/15)

Terdengar dengan jelas

Rintih demi rintih kesakitan

Kau renggut keramaian kota

Ku bunuh tawa anak bermain

Hilang sudah tawa mereka

 

Detik demi detik hilang

Canda tawa telah tiada

Semua lenyap seketika

Tanpa bekas tanpa jejak

Tenggelam dalam kesediham


Hanya pilu yang terdengar

Lenyap sudah canda tawa itu

Tuhan...bantulah kami

Usaikan cerita kelam ini

Kembalikanlah canda tawa mereka



Senin, 25 Mei 2020

Pentigraf : ARMENIA_03_7A

Keluarga ODP

Karya  : Armenia Zendy Purwanto (7A/03)

          Keluarga ku semua adalah perantau, rumah kami berada di Bantarsari. Aku seorang pelajar yang bersekolah di Cilacap, ayah ku yang bekerja di Purwakarta, dan kakak ku sedang mencari pekerjaan di Bekasi. Sebelum PSBB dimulai, ayah ku dan kakak ku pulang dari rantau yang berbeda provinsi dari ku. Karena di daerah Jawa Barat dan sekitarnya sudah masuk zona merah. Aku khawatir, namun ayah ku selalu berkata padaku agar aku tidak boleh takut.

          Karena pada dasarnya jika kita merasa takut, maka imunitas kita akan turun. Dan mudah terserang Covid-19. Aku bersyukur semakin hari berlalu, keluarga ku tidak ada yang terkena Covid-19. Dan yang sangat ku syukuri adalah, ketika aku bisa berkumpul bersama keluarga ku. Ternyata Covid-19 juga mempunyai sisi baik nya. Aku jadi sering membantu ibu dan lebih banyak berinteraksi bersama keluarga.

         Jika terdapat sisi positif nya, pasti terdapat sisi negatif nya. Antara lain, sekolah-sekolah diliburkan, para pekerja wiraswata kehilangan pekerjaanya, dan para pemudik tidak bisa pulang ke kampung halaman.

Minggu, 24 Mei 2020

Puisi : YEHEZKIEL_32_8J

Puisi Tentang Corona:

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


Corona berjalan membabi buta
Tak terlihat tapi nyata
Membuat orang kehilangan nyawa 
Kita semua melihatnya di seluas dunia

                            Corona membatasi kita semua 
                            Semua bertanya mana obatnya
                            Ilmuwan berlomba dengan giat                               
                            Tenaga medis berjuang bahkan mengorbankan nyawa

Semua tertunduk berpasrah bersimpuh
Seolah sadar hidup tak bisa dihitung dengan waktu
Sekarang saatnya kita dengarkan petunjuk
Ayo rajin cuci tangan tinggal di rumah selalu


Sabtu, 23 Mei 2020

Pentigraf : VANNESA.S.P_30_8J

KURANGNYA KESADARAN

Oleh : Vanessa Sekar Pambajeng (30/8J)

        Aku pergi untuk membeli beberapa jajan takjil untuk berbuka puasa, tak lupa sesuai anjuran pemerintah, aku memakai masker dan cuci tangan sebelum keluar rumah. Namun, aku terkejut karena sewaktu di perjalanan, masih banyak warga yang tidak memakai masker, bahkan tidak memakai helm saat berkendara, aku ingin sekali mengingatkan, namun aku tidak berani, jujur aku menyesal karena tidak mengingatkan, harusnya aku melawan rasa takut dan berani mengingatkan, sebab situasi saat ini bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri.

        Rasa terkejutku bukan hanya sampai disana, sesampainya di sebuah gerobak kecil di pinggi jalan yang menyajikan jajanan takjil, aku terkejut akan betapa ramainya tempat itu. Benar mereka memakai masker, namun, bukannya menjaga jarak juga penting?. Namun, lagi-lagi aku takut untuk mengingatkan sebab rata-rata dari mereka adalah ibu-ibu, jika nanti aku dibilang sok tau, kan tidak lucu.

        Bukan hanya di kotaku yang seperti itu, baru-baru ini aku melihat di media sosial, ada beberapa orang yang masih menyepelekan pandemi ini, bahkan mereka berkata bahwa memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak itu tidak penting. Mereka yang berkata seperti itu sangatlah tidak menghargai tenaga medis. Bahkan ada beberapa oknum yang menggunakan pandemi ini untuk ajang mencari ketenaran, atau bisa di sebut pansos. Rasanya, kapan pandemi ini akan berakhir jikalau pikiran manusia masih seperti itu, aku menghela napas dan menutup ponselku. Melamun dan memikirkan betapa indahnya jikalau warga menaati aturan dan pandemi akan cepat berakhir

Puisi : VANESSA S. P_30_8J


Luka

Oleh : Vanessa Sekar Pambajeng (30/8J)

Bumi yang sudah menginjak masa tua
Pun meminta ketenangan
Meminta pada tuhan
Untuk mendamai sejenak

                Tuhan mengabulkan
                Sebab manusia sudah tak bisa terluruskan
                Luka menyerang
                Hiruk pikuk jalanan pun mulai melenggang

                                    Manusia berpikir
                                    Bawalah mereka yang paling dibutuhkan
                                    Nyatanya
                                    Bumi masih masih baik-baik saja tanpa manusia

                                                        Luka mendalam
                                                        Hidup manusia makin terendam
                                                        Saat yang tepat
                                                        Untuk berdoa dalam-dalam

Sadarlah, buka pikiran
Ini saatnya untuk melindungi
Bukan hanya diri sendiri
Namun juga demi saudara seisi bumi

                Berdoa, 
                berdiam, 
                bangkit mulai maju
                Membiarkan bumi menikmati ketenangan

                                    Menyembuhkan luka
                                    Meluruskan jiwa
                                    Menenangkan pikiran
                                    Memperbaiki kelakuan

                                                        Dan pasti suatu hari
                                                        Tuhan kan menyembuhkan
                                                        Bumi merindukan penduduknya
                                                        Manusia kembali ke jalan yang benar
                                                        Dan jiwa-jiwa pun mulai berdamai

Puisi : NAILAH AIDA_17_8J

PUISI  1

Bersatu Kita Melawan Virus Corona

Karya : Nailah Aida Apsarini/17/8J

Oh corona...
Kau telah menyebar kemana mana
Menyerang seluruh dunia
Tidak mengenal warna kulit dan ras

Untuk Indonesia marilah kita bersatu
Melawan virus corona
Patuhi anjuran pemerintah
Belajar, berkerja, dan beribadah di rumah saja 

Untuk dokter, perawatan, dan para medis
Terimakasih atas pengabdianmu
Berkerja dengan taruhan nyawa
Akhirnya kepada Tuhan jualah kita memohon
Agar virus corona segera berlalu 


PUISI  2


Dampak Virus Corona

Karya : Nailah Aida Apsarini/17/8J

Corona datang meluluhlantahkan kehidupan
Perekonomian terpuruk
Banyak pabrik tutup
PHK terjadi dimana – mana

Untuk Indonesia marilah kita bersatu
Bangkit melawan virus COVID-19
Jaga jarak dan hindari kerumunan
Gunakan masker bila keluar rumah

Ayo budayakan hidup bersih
Lindungi dirimu dan orang lain
Taatilah anjuran pemerintah
Agar pandemi corona segera berakhir








Pentigraf : NAILAH AIDA_17_8J

Akibat Sikap Acuh

Karya : Nailah Aida Apsarini (8J/17)


         Cilacap adalah sebuah kota kecil yang di padati oleh orang, pagi ini matahari muncul menyinari bumi, nyaris setiap hari begini, aku berdiam diri di kamar nyamanku, bermain hp kegiatanku setiap hari. Tiba-tiba aku dikejut berita yang muncul di hp ku, aku bergegas membacanya. Tetanggaku yang dulu tinggal di samping rumahku ternyata terkena virus corona. Dia bernama Ani, dia gadis yang baik, ramah, cantik, rambut panjang, berkulit kuning langsat. Ayahnya seorang pengangguran. Membaca beritanya  aku tersentuh tak terasa air mataku bergulir membasahi bantalku. Yang membuatku sangat sedih, keluarganya tak mempunyai uang untuk makan. Ibunya melamar pekerjaan kesana kemari namun, semua mengacuhkannya.
Seminggu yang lalu ia memasang status WhatsApp, “Aku tak takut pada virus corona,maka dari itu aku jalan jalan.” Kemudian hpnya mati tak dapat dihubungi.
         Aku tak bisa menjenguknya, karena memang sudah ketentuan kesehatan. Aku menghubungi keluarganya, mengucapkan belasungkawa. Lalu aku berinisiatif menggalang dana, allhamdulillah dalam seminggu dana yang terkumpul cukup banyak, lalu aku membeli sembako di warung dekat rumahku dan bergegas memberinya.
         Keluarganya sangat bersyukur mendapatkan sembako, lalu bergegas menghubungi ketua RT di rumahnya, “Pak,ada warga bapak yang tidak mampu, dan orang-orang sekitar acuh tak acuh, apakah bapak tidak tau?” Akhirnya warga sekitar membantu keluarga Ani dan membantu orang-orang yang tidak bisa makan karena adanya lockdown akibat virus corona yang sudah menyebar luas.

Puisi : AMELIA A._04_8J

Si  Mematikan

Karya : Amelia Archie P.S 8J/04


Covid-19 serangan mematikan di seluruh bumi
Kita dibuat buta virus menular dengan senang hati
Kehidupan tidak seperti biasa
Semua beristirahat dengan gemerlapnya kehidupan
Dibalik itu alam bersuka cita
Alam beristirahat dari egois nya manusia
Saatnya kita diam untuk membantu sang pahlawan
Ayolah manusia tentramkan hati diamlah sebentar

Pentigraf : AMELIA A._04_8J

Laki-Laki Besi Saya
Karya : Amelia Archi_8j_04

     Ayah..jika memperhatikan sosok Ayah sangatlah luar biasa tidak cukup hanya ditulis seperti ini,sosok Ayah memanglah sangat berharga dan seperti saya anak perempuan tunggal,Ayah memanglah cinta pertamaku dan seperti pahlawan.Bagi saya,Ayah saya adalah salah satu orang yang dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena leluconnya,nam na terkadang Ayah saya juga sedikit membuat saya kesal karena Ayah ketika bercanda suka membuat kesal,namun dengan hal itu yang membuat saya myanya tidak kaku seperti Ayah anak biasa tetapi juga bisa memposisikan sebagai teman untuk bercerita.
     Ayah saya bernama Triyogo Prihantoro,5 bersaudara yang tinggal di Secang,Magelang.Ayah saya kembar wajahnya sangat mirip hingga saat ini pun saya susah membedakan antara ayah dengan kembarannya memiliki kesamaan yang cukup banyak suara sama, cara tertawa sama,berjalannya pun sama,hanya yang membedakan Ayah saya lebih tinggi dibandingkan kembarannya.
     Ayah saya berkepribadian sangat disiplin,tegas,senang bercerita,mudah membuat orang lain tertawa, humoris,aangat  menyenangkan mempunyai Ayah seperti Ayah Triyogo Prihantoro.Ayah sehat sehat ya, terimakasih sudah membuat amel merasa jadi anak terbahagia di dunia ini.