Halaman

Selasa, 02 Juni 2020

Puisi : GHEA R._15_8I

Karena Kau

Oleh: Ghea Resita Azzahra Kelas VIII I / 15

 

Corona virus Disease

Kau dikenal sebagai Covid-19

Kehadiranmu tanpa permisi...

Kedatanganmu melukai

Keberadaanmu mengubah kegiatan insani

 

Kami terhentak

Kami terhenyak

Kami bingung harus berbuat apa....

Jauh ...jauh...semakin jauh dari kawan kawan baik kami...

Smakin jauh dari guru-guru kebanggaan kami...

 

Segera lah kau berlalu...

Pergi...pergi...dan pergi lah kau....

Jauh...Jauh...dan semakin jauhlah engkau...

Agar kami dapat belajar bersama kembali

Di Sekolah kebanggaan kami....

 

Ya Allah, Ya Tuhan Kami...

Semoga Covid segera usai

Berganti new normal

Asa nan baru

Wujudkan mimpi-mimpi besar kami

Tuk bisa belajar dan berbakti untuk negeri ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tugas : :Pentigraf

Maaf dan terima kasih

Oleh: Ghea Resita Azzahra Kelas VIII I / 15

 

Kala itu, malam telah larut.  Seseorang naik ojek memasuki kawasan kampung Sehati  Tidak banyak yang melihat kedatangan oramg tersebut.  Keluarga bu Dian melihat seseorang memasuki rumah Pak marto, dengan membawa ransel lusuh.  Suasana malam itu hening, dedaunan tak bergerak, angin pun tak berdesir.  Hanya sesekali bunyi katak yang bersahutan, diselingi bunyi jangkrik yang sambung menyambung.

Pak Marto hidup seorang diri, dikenal sebagai orang yang suka bekerja keras dan taat beribadah, Kesehariannya Pak Marto beternak ayam, dan sesekali ke pasar Berkah untuk menjual ayam dan telur ayam dengan mengayuh sepeda tua lengkap dengan keranjang bambu di kanan dan kiri boncengannya.

Pagi harinya Pak Marto mulai dijauhi tetangga tetangganya. Pak Marto bingung, ada apa gerangan sehingga orang -orang tidak menyapa Pak Marto, ketika melintas di sepanjang jalan kampung. Biasanya orang - orang kampung suka membeli telur ayam kampung ke Pak Marto. Penghasilan Pak Marto menjadi sangat menurun.  Pak Marto merenung, namun belum menemukan jawabannya.  

Malam minggu itu, Pak Marto berbincang bincang dengan Mas Chandra tentang usaha beternak ayamnya yang semakin menurun, bahkan tak seorang pun yang membeli dagangan Pak Marto. Diskusi itu pun belum memperoleh jawaban yang menyebabkan dagangan Pak Marto sama sekali tidak laku

Sore itu, Pak marto kedatangan tamu. Pak Marto kaget sekali, baru kali ini sampai usia lebih dari 70 tahun,  rumahnya yang sederhana itu didatangi Pak Kepala Desa.

Pak Kepala Desa, yakni Pak Baharuddin menyampaikan pada Pak Marto, kalau warga desa Sehati resah dan juga tidak nyaman dengan Pak Marto karena di rumah Pak Marto ada tamu dari luar kota.

Warga khawatir tamu itu membawa virus Corona.  Kemudian Pak Marto menjelaskan bahwa tamu itu adalah Chandra, seorang pemuda yang berasal dari Jakarta dan pernah diasuh Pak Marto. Kemudian Pak Marto memperkenalkan Chandra dengan Pak Kepala Desa

Chandra menyampaikan pada Pak Lurah bahwa dia tengah isolasi diri untuk mencegah penularan Covid-19 pada warga lain. Kemudian Chandra menjelaskan mengenai maksud dan tujuan kedatangannya di desa Sehati Chandra adalah seorang pengusaha dari Jakarta yang hendak memberikan bantuan atau sumbangan dalam bentuk pembagian sembako kepada warga miskin di desa Sehati yang terkena PHK, miskin, dan kesulitan ekonomi lainnya,Pak Lurah pun girang dan menyampaikan terima kasih. Setiap awal bulan, di depan pintu rumah warga tersedia sudah sembako lengkap dengan perlengkapan pencegahan Covid 19 berupa masker, sanitizer dan sabun cuci tangan. Warga sangat berterima kasih pada Chandra dan pak Marto....sebaliknya Chandra meminta maaf pada Pak Kepala Desa dan warga karena lupa belum laporan kedatangan sebagai tamu di desa Sehati pada  era Covid 19 ini.

 

Senin, 01 Juni 2020

Puisi : KEISHA A._14_8J



Seakan Hilang

Karya : Keisha Ayu N.S (8J/14)


Sunyi dan sepi
Hampa ikut menyelimuti
Suasana yang sungguh membosankan
Tak ada senyum kebahagiaan
Tak ada canda dan gurawan

Semua sirnah..
Hanya tangisan
Hanya rintihan yang terdengar
Hanya menunduk dan mengucap nama Nya
Semua berserah dan berpasrah hanya kepada Nya...


Pentigraf : KEISHA A._14_8J

Pentingnya Menyaring Informasi

Karya : Keisha Ayu N.S (8J/14)


    Sasa,Ara,dan Mahesa sedang melakukan belajar bersama di rumah Ara. Mereka sesekali berbincang tetang topik virus corona yang sedang hangat di perbincangkan. Merela salng bertukar info yang mereka dengar dari lisan maupun dari handphone atau tv.
    Ara bercerita tetang virus ini yang sulit diketahui karna gejalanya hampir mirip dengan sakit seperti pada umumnya,seperti batuk,gangguan pernafasan,diare,dll. Sasa bercerita tetang sudah banyaknya orang yang terkena virus ini dan belum ada faksin sama sekali yang dapat menyembuhkan virus ini. Sedangkan Mahesa memberitahu Ara dan Sasa untuk berhati-hati dan lebih menyaring info yang didapat dan jangan langsung menyebarkannya bila belum pasti.
    Berbagai info tetang virus ini menyebar dengan kepastian yang masih tidak diketahui. Jadi sebagai masyarakat kita harus lebih hati-hati,dan jangan langsung percaya dengan satu sumber saja. Dan tetap berada di rumah agar virus ini tidak menyebar lebih luas lagi.


Pentigraf : TSAMARA_29_8J

Kegiatan Bulan Ramadhan

Karya : Tsamara Zharifah Yumma (8J/29)


    Virus corona memang tengah melanda dunia, khususnya indonesia. Virus yang telah lama dibincangkan oleh berbagai media memang dapat menarik perhatian masyarakat. masyarakat selalu dihimbau agar tetap menjaga kebersihan. tetapi sayang, Bulan Ramadhan datang pada sekitar akhir bulan Mei lalu. Ramadhan tahun ini pun tak seindah Ramadhan tahun sebelumnya. Ramadhan tahun ini memang istimewa. Ramadhan paling beda dari tahun berikutnya. Di sebuah masjid, ada pembagian takjil secara gratis bagi warga sekitar dan jamaah masjid yang diberi kupon.
    Warga diberi takjil setiap harinya dengan cara menukarkan kupon yang ada kepada panitia masjid. Para warga datang berhamburan tanpa mengenakan masker dan jaga jarak. Mereka sudah ditegur oleh panitia masjid, tapi tetap saja ada yang membandel. Warga yang membandel tidak melakukan imbauan memakai masket dan jaga jarak akan diberi sanksi tegas. 
    Mulai dari hari itu, para warga sekarang sudah memakai masker dan mengikuti imbauan jaga jarak. _SAY GOODBYE TO COVID-19!_

Puisi : TSAMARA_29_8J


VIRUS

karya : Tsamara Zharifah (29/8J)

Kecil tak tertampak
Bentuk tak terlihat
Menulari banyak manusia
Membuat jarak antar insan
Hadirmu hanya untuk menulari
Bukan untuk mengobati
Pergilah menjauh
Buat dunia ini kembali normal
Aku perlu bantuanmu
Untuk mengusirmu

Pentigraf : PANDU S._22_8J

DAMPAK COVID-19

          Pada tanggal 2 Maret 2020, bapak Presiden Ir. Joko Widodo mengumumkan warga Indonesia yang pertama kali terpapar virus CORONA / COVID-19. 2 Warga Negara Indonesia (WNI) ini adalah orang pertama yang terpapar virus COVID-19 setelah berkontak langsung dengan Warga Negara Asing (WNA). Setelah kejadian itu viral di seluruh belahan Indonesia, saya terkejut & protokol kesehatan sudah 
memulai memberlakukan kegiatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pemerintah menyarankan untuk menjalankan PHBS dengan cara memakai masker ketika keluar rumah / bepergian dan mencuci tangan minimal setiap 20 menit sekali ketika sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Saya pun langsung menjalankan apa yang dikatakan oleh pemerintah tersebut.
          
          Di sekitar rumah saya terdapat 4 warga yang sudah terpapar virus COVID-19. Mereka memiliki gejala yang sama, yaitu demam,flu,sesak nafas & sakit tenggorokan. Kemudian, ke-4 warga tersebut langsung dijemput oleh pihak medis / pihak rumah sakit & melakukan karantina selama 14 hari di rumah sakit. .Mirisnya, setelah mengetahui ke-4 warga tersebut terpapar virus CORONA, warga setempat masih ada aja warga yang tidak mematuhi aturan dari pemerintah setempat.

    Dampak dari adanya virus COVID-19 ini adalah semua orang harus melakukan aktivitasnya dirumah masing-masing. Salah satunya adalah saya yang harus melakukan kegiatan belajar mengajar dirumah masing-masing sampai pemerintah mengizinkan kembali berkumpul di sekolah kita tercinta. Tak hanya itu saja, ibadah pun harus dilakukan di rumah masing-masing. Berat sekali ketika mendengar berita itu, tapi apa dayaku untuk melawan peraturan pemerintah yang bertujuan untuk memutus mata rantai virus COVID-19 ini.


Nama : Pandu Setiaji
Kelas : 8J
Absen : 22
























Puisi : PANDU S_22_8J


PUISI

Karya : Pandu Setiaji (8j/22)

Pada tahun sebelumnya aku bahagia
Tahun yang penuh suka cita
Bertemu keluarga menyusun canda tawa
Namun tahun ini terasa hampa

Dunia seakan mati
Kehidupan yang tentram hanya angan-angan
Kematian seakan mengikuti setiap langkah
Ketakutan, kegelisahan akan kematian semakin merambah

Di luar, jalanan sepi 
Terlihat seperti kuburan, sunyi
Orang-orang mengunci diri
Sembari memanjatkan doa kepada Yang Kuasa

Minggu, 31 Mei 2020

Puisi : JONATHAN/8J/13


Virus Corona datang menerjang
Menyebar luas tanpa diketahui
Menembus dunia yang tak terbatas
Membuat segala bangsa geger 

Setiap hari penuh dengan kekhawatiran
Nyawa setiap orang mulai hilang
Tenaga medis berjuang sebaik mungkin
Bahkan mengorbankan nyawanya

Para ahli berusaha dengan giat
Untuk menemukan obat dan vaksin
Segala doa telah dipanjatkan
Akhirnya kepada Tuhan jualah kami memohon

Sabtu, 30 Mei 2020

Puisi : MAULANA D._22_8I

CORONA
Karya : Maulana Dicky A (8I/22)

Setiap hari penuh kekhawatiran....
Segala doa doa terbaik sudah di panjatkan....
Semua kegiatan aktivitas sudah di rumahkan....
Semua tenaga medis sudah berjuang sebaik mungkin....

Virus ini sudah menyebar luas hingga kepelosok....
Melanda tanah suci yaitu mekkah....
Memapar seluruh umat manusia....
Dan menyebar luas tanpa di ketahui....

Ya allah, berikanlah kuasamu....
Untuk menemukan vaksin covid
Agar umat manusia dapat beribadah di tanah suci lagi....
Semoga kau mengabulkannya, Aminnn....

Pentigraf : MAULANA D_22_8I

Tersangka ODP

Karya : Maulana Dicky Adriansyah (8i/22)

        Dari hasil rapid tes, ustad syaiful dinilai negatif covid 19, tetapi banyak orang yang belum percaya jika ustad syaiful negatif covid 19 karena beliau baru pulang dari Gowa,Sulawesi habis hijrah
        Warga meminta ustad syaiful isolasi mandiri di dalam rumahnya. Karena warga khawatir jika beliau positif, karena belum melakukan tes swab. Tetapi warga sekitar selalu membantu kebutuhanya dan mendo'a kannya selalu agar ustad syaiful negatif covid 19. Esok harinya ustad di periksa dan di tes swab, dari hadilnya tertulis negatif covid.
       Dan akhirnya warga tersenyum lega. Ustad syaiful pun berterimakasih pada tetangganya karena sudah di bantu keluarganya dan di doa kan selalu.

Pentigraf : TEGAR BAYU_26_8J

BERTAHAN HIDUP  

    Brig mengangkat kedua tangannya dengan lemah. Meraba-raba benda di atas kepalanya yang lelah terbaring. Jemari kecilnya menyentuh lingkaran korona keemasan hadiah untuk ulang tahunnya yang ke-enam tahun dua hari lalu. Pesta itu telah berlalu dan menyisakan hadiah tambahan tak terduga, virus korona di dalam tubuh kecilnya.

      “Princess pasti kuat!” Tulisan itu tertempel di dinding bangsal rumah sakit sejauh juluran tangannya. Ada foto dirinya, Mama, dan almarhum Papa di kertas putih itu. Mama yang menuliskannya.

      “Apakah Brigitta tahun depan masih bisa berulang tahun, Ma?” tanya Briggita ketika Mamanya didesak oleh perawat untuk segera meninggalkan bangsal itu. Mama belum menjawabnya sampai sekarang. 

Pentigraf : TRANGGANA PURI_28_8J

LABORATORIUM

      Tom tertawa kecil. Dia baca sekali lagi  pujian spesial dari komandannya. Puas rasanya. Kerja 340 hari di dalam laboratorium bawah tanah yang melelahkan, penuh tantangan, dan risiko besar telah dia lalui dengan hasil amat gemilang. Dia seruput kopi putihnya sembari meninggalkan lima lapis pakaian laboratoriumnya.

      “Dunia akan berterima kasih kepadamu, Doktor hebat. Virus Korona telah berhasil kamu ubah menjadi varian baru yang tidak lagi liar. Hanya berpindah dari orang ke orang. Tak bisa berpindah melalui udara. Mudah disimpan dan dipindahkan di dalam suhu normal, serta hanya berefek pada mereka yang rendah daya tahan tubuhnya. Dunia militer berterima kasih padamu, Doktor!”

      Esok, saya boleh memulai cuti panjang, kata Tom dalam hati sembari menengok tiket penerbangan Royal Class bertanggal 1 Maret 1995.

Puisi : TRANGGANA PURI_28_8J

TEGURAN SEMESTA

Hadirmu bagai sebuah pilu
Duka dalam yang tak menentu
Hadir mengisi jiwaku
Membuat diriku diam tak berseru

Mengapa kau begitu tega
Datang mengambil tanpa kira
Pergi begitu saja tanpa lara 
Membuat hati ini sedih tanpa tawa

Puisi : TEGAR BAYU_26_8J

PERGI KAU VIRUS CORONA


Kau datang tanpa salam
Tanpa salampun kau  buat geger bumi ini
Kau buat semua orang membicarakan mu
Membicarakan kedatanganmu yang tak diharapkan

Satu persatu tenaga medis kau buat tumbang 
Mereka berjuang di garis terdepan
Berjuang untuk membuatmu pergi
Berjuang untuk melindungi kami dari dirimu
Rasa lelah lapar untuk membantu korbanmu 
Cepat lah kau pergi virus Corona

Pentigraf 4 : Sukarni_64

Antara Damalang – Pasar Gede 

Oleh: Sukarni 
 
        Angkot jurusan Damalang – Pasar Gede berjalan perlahan. Dalam angkot panas dan pengap karena ada penumpang yang merokok. Aku kesal sekali. 

        Di depan RSUD, dua penumpang naik. Belum lima menit, seorang nenek membawa ember tempat ikan masuk. Hidungku tersumbat, bau amis yang luar biasa menyeruak, membuatku sesak napas. Nenek itu mengambil tempat persis di sebelahku. Aku berusaha menjauh, tapi tak ada tempat lagi. Yang bisa kulakukan hanya menutup hidung. Bau keringat campur amis membuatku makin pening. Sayang, nenek ini cerewet sekali. Ia menanyaiku macam-macam. Aku menjawab sekenanya sambil membuang muka. Sampai Kebon Baru, kondektur menarik karcis. Betapa terkejutnya aku ketika kubuka tas ternyata dompetku tak ada. Sampai semua anakan kugeledah, tak  kutemukan selembar uang pun. Wajahku memanas, bingung. Kulihat nenek itu menarik ujung stagen-nya, mengeluarkan uang recehnya, menghitung, dan menyerahkannya pada kondektur. Ia hendak membundelnya lagi ketika tiba-tiba ia melihatku. Ia tentu melihat wajahku yang pucat dengan tas masih terbuka. Ia tidak jadi membundel ujung stagen-nya. “Ini ongkos angkot Neng ini,” katanya. “Hati-hati, Neng!” katanya sebelum berlalu.  

        Leherku sakit, tak bisa berkata-kata.  Mataku berkaca-kaca.... Ya Tuhan..., maafkan aku, hari ini aku belajar sesuatu.  

Pendapa Kabupaten Cilacap, 7 September 2016 

Pentigraf : YEHEZKIEL_32_8J

Rencana Bermain Badminton Bersama Teman

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


     Pagi ini cuaca cerah,sambil berjalan di koridor sekolah menuju kelas,aku mangingat-ingat adakah pr yang belum ku kerjakan.Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang yang membuatku terkejut,ternyata itu adalah Nicho teman baikku.Nicho mengajakku bermain badminton pukul 2 siang.

     Selama pelajaran aku memikirkan ajakkan Nicho.Aku senang bermain badminton,tapi aku ragu apakah ibuku mengijinkan aku karena pukul 2 siang adalah waktu untuk istirahat sepulang sekolah.

     Sepulang sekolah,aku memarkirkan sepedaku di luar rumah.Saat masuk rumah aku ditanya ibuku kenapa sepedaku tidak dibawa masuk ke dalam rumah.Aku mengatakan alasannya karena aku mau main badminton pukul 2 siang nanti bersama Nicho ibuku mengijinkan aku untuk pergi bermain badminton bersama Nicho. Tapi aku harus makan siang dan istirahat walau sebentar.Lega rasanya karena aku diijinkan oleh ibuku.Memang orang tua kadang membatasi anaknya tapi itu pasti ada alasannya.Itu juga demi manfaat anaknya.Kalau anaknya taat orang tua pasti lebih banyak memberikan keleluasaan.

Pentigraf 3 : Sukarni_64

SAAT RAMADAN TIBA

Karya : Sukarni

        Dengan santun Marbut Jaki mempersilakan orang-orang untuk salat Zuhur di rumahnya masing-masing. “Siapa yang menyuruh menutup masjid? Ini rumah Allah, selama kita di rumah-Nya, kita akan dijaga-Nya,” jawab Haji Mukri. Siang itu Haji Mukri bersama beberapa orang berhasil salat di masjid. Jaki yang yatim piatu dan masih muda itu tak punya kekuatan apa pun untuk menghentikan langkahnya.

        Sudah tiga hari Ustadz Arif sakit. Ketua takmir masjid itu memasrahkan urusan masjid kepada Marbut Jaki. Ia jugalah yang menyuruh Jaki untuk menyampaikan pada warga agar memenuhi anjuran Pemerintah yaitu berdiam di rumah. Semua orang harus patuh agar penyebaran corona bisa dihentikan. Keributan serupa siang terjadi lagi. Kali ini Haji Mukri mencak-mencak dan membuka paksa pintu masjid yang sudah ditutup Jaki. Dengan lantang ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Saat tangan Haji Mukri menjangkau pintu masjid, terdengar suara batuk-batuk Ustadz Arif. Mengenakan masker, tertatih-tatih menaiki undakan masjid. Kerumunan menyibak, menjaga jarak. Haji Mukri merah padam. Nyalinya ciut. Kerumunan diminta bubar dan salat di rumah. Saat semua orang sudah membalikkan badan, tiba-tiba ada yang bertanya, apakah ada salat tarawih saat Ramadan nanti.

            Semua orang kembali berbalik dan menatap Ustadz Arif. “Pulanglah kalian, kita perbaiki akidah kita dengan salat dan berdoa di rumah. Jangan tanya, Ramadan nanti ada tarawih tidak, tapi mari kita merenung diri, Ramadan nanti kita masih ada atau tidak?” jawabnya. Tanpa kata, kerumunan itu membubarkan diri.




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.


Pentigraf 2 : Sukarni_64

ODP

Oleh: Sukarni

            Vonis dokter bahwa kami sekeluarga dalam pemantauan (ODP) membuatku tercenung. Hal pertama yang harus aku beri tahu adalah keluargaku, saudara, dan atasanku. Sebagai guru, dalam masa lock down ini aku masih harus masuk kerja untuk piket. Jika aku tetap masuk, aku khawatir menjadi carrier. Aku tidak mau teman-temanku sakit karenaku.

            Malam harinya, kuberanikan diri menyampaikan pada pada Pak Gondo, Kepala Sekolahku. Aku tidak meneleponnya, tetapi WA. Aku memberi keleluasaan pada beliau untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalahku. Satu lagi yang aku beri tahu kondisiku yaitu Humas. Pak Gondo melarangku memberi tahu siapa pun tentang kondisiku. Dua hari kemudian, di grup sekolah ada edaran dari Humas tentang piket harian yang dimulai minggu depan. Namaku tidak ada. Tapi, tunggu dulu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang yang usianya di atas 55 tahun tidak diikutsertakan dalam tugas piket. Umurku 56 tahun.

            Aku tersenyum lega. Dalam hati aku berterima kasih pada Pak Gondo yang telah menyelamatkan aku. Aku memuji kebijakannya. Tak bisa kubayangkan jika semua orang mengetahui statusku. Mungkinkah aku ditolak pulang ke rumahku?




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.


Puisi : ARMENIA_03_7A

Indonesia yang Suram

Karya : Armenia Zendy Purwanto (7A/03)



Negaraku 
Kini engkau sedang dilanda oleh virus
Virus yang sangat mematikan
Virus yang membunuh rakyat mu secara perlahan


Kini negara mu menjadi sepi dan suram
Tiada manusia yang berkeliaran
Tiada manusia yang melakukan kegiatan di luar
Hanya angin yang bertiup melambai


Hening lingkungan dan kota
Duka yang sangat lara
Hanya bisa berharap negara mu kembali pulih
Duka ini pasti cepat selesai


Pentigraf : ANASTASYA_03_7E

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN 
by. Anastasya Nur Safitri 
Kelas 7E 
No. Absen 03 


Pada suatu hari di daerah lingkungan tempat tinggali, ada seorang anak tetanggaku yg sakit, dia sangat cantik tapi sayangnya dia dan keluarganya tidak suka membersihkan rumah.

Beberapa hari kemudian anak itu jatuh sakit. Dia terkena penyakit Demam Berdarah(DB), suhu badannya sangat panas (demam). Tidak lama kemudian dia dibawa oleh orangtuanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, anak itu dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan medis dari dokter dan perawat.

Anak itu diambil darahnya untuk di cek di laboratorium, dan hasil nya positif Demam Berdarah (DB). Dokter menyarankan agar anak tersebut harus opname agar bisa dipantau oleh dokter dan perawat, agar suhu tubuhnya kembali normal dan trombositnya cepat naik, supaya anak tersebut cepat sembuh. Dokter mengatakan kepada orang tua anak tersebut kalau harus menjaga kebersihan dan makan dengan teratur agar terhindar dari penyakit, apalagi DB disebabkan oleh gigitan nyamuk, kalau kita tidak benar-benar membersihkan lingkungan, karena nyamuk akan senang di tempat yg kotor. Setelah mendengar dari dokter orang tua anak tersebut mulai menerapkan hidup bersih kaerna kesehatan yang paling utama. Bahagia berawal dari lingkungan yang bersih dan sehat.

Puisi : ANASTASYA_03_7E

 PUISI 1
CORONA
Anastasya Nur Safitri
Kelas 7E 
No. Absen 03


Corona kau datang tanpa permisi
Kau hancurkan negara ini
Hingga kami tak bisa berkata apa-apa lagi 
Ya Allah kasihanilah kami, lindungilah negara ini

Sudah cukup banyak mayat bergelimpangan dimana-mana
Tak pandang tua, muda, bahkan anak kecilpun kau ambil juga
Corona kapan kau pergi dari negara ini
Agar kita bisa tersenyum dan berkumpul lagi seperti dulu

Terima kasih untuk para medis
Kau tak mengenal lelah,tak. Perdulikan nyawamu 
Dengan tulus,ikhlas kau berkorban menyelamatkan nyawa semua orang demi negara ini

CORONA
Corona kau datang tak berujud
Kau ambil nyawa saudara saudara kami
Kau buat kami hidup dalam ketakutan 
Kau buat kami berdiam diri di rmh, beribadah di ruma, sekolah di rumah, bahkan kerja pun di rumah.
Tak pandang tua muda
Kau ambil nyawanya
Tak cukup satu , dua nyawa
Kau bahkan ambil ribuan nyawa 

Kupercaya akan mukjizatmu Ya Allah, Engkau pasti akan berikan vaksin, kirimkan tenaga medis untuk menyembuhkan yg terkena virus corona
Corona kapan kau pergi dari negara ini
Karna kepergian mu kami rindukan

Pentigraf : JONATHAN_13_8J

PENTIGRAF 

CORONA
Oleh : Jonathan (8J/13)

    Tahun ini menurutku adalah tahun yang membosankan. Karena kita harus melakukan aktivitas dirumah. Kita tidak boleh keluar dari rumah, jika pergi keluar dari rumah harus menggunakan masker dan menjaga jarak dari orang lain. Aku merasa bosan karena setiap hari dirumah, tidak bisa bermain diluar, dan harus mengerjakan tugas dari guru. Karena merasa bosan aku akhirnya pergi keluar untuk berbelanja, tetapi aku lupa menggunakan masker. Dan saat pulang aku juga lupa mencuci tangan.

    Setelah beberapa hari sejak aku pergi ke pasar tanpa menggunakan masker. Badanku terasa panas, lemas, dan demam. Orang tua ku pun khawatir sehingga aku dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku langsung segera di periksa dokter, ternyata aku dinyatakan ODP. Badanku langsung lemas dan aku pun pasrah. Aku langsung dibawa ke ruang isolasi. Pikiranku sudah kemana mana, aku sempat berpikir kalau aku bakal segera menemui ajalku. Panas ku pun semakin menjadi. Batukku semakin parah. Tenggorokan ku sangat kering dan sakit, walaupun sudah minum air yang banyak tetap saja tenggorokanku sakit. Badanku terasa sangat berat. Aku tak bisa melakukan apa apa. Saat malam hari aku pun pasrah dan menyerahkan hidupku pada Tuhan, aku pun berdoa kepada Tuhan agar aku bisa sembuh dan bisa kumpul bersama keluarga lagi.

    Setelah 14 hari di ruang isolasi badanku mulai terasa ringan dan mulai membaik. Dan aku tetap berdoa kepada Tuhan agar aku bisa sembuh dan agar badanku terus tetap membaik. Puji Tuhan, doa ku pun di jawab oleh Tuhan. Aku akhirnya bisa sembuh dan dinyatakan negatif dari virus corona dan aku pun dapat himbauan dari dokter agar tetap menjaga jarak dan tetap waspada. Aku pun sangat senang karena bisa sembuh dan kumpul bersama keluarga.

Jumat, 29 Mei 2020

Puisi : CINTA RIMA_07_8J

Lemah

Oleh : Cinta Rima T_07_8J

Suhu tubuhku meninggi 
Imunku melemah
Demam....
Sungguh aku benci 
Tuhanku
Berilah hamba kekuatan 
Kupuji diri-Mu 
Dengan doa 
Angin membuka tirai
Bintang-bintang sembunyi dibalik awan 
Mataku terpejam 
Tuhanku
Kau memanggilku 
Kau terlalu sayang kepadaku 
Meredakan sakitku untuk selamanya
Dan membuatku melihat bintang

Pentigraf : CINTA RIMA_07_8J

Quaratine

Oleh :
Cinta Rima T_07_8J

    Minggu pagi memang sangat cocok untuk menikmati susu hangat dan biskuit, apalagi sambil menonton televisi. Jemariku bergerak menekan tombol on  pada remote. "Yah, lagi-lagi berita yang muncul? Aku kan nggak suka nonton berita." Tetapi tunggu dulu, mereka memberitakan virus yang dibicarakan teman-teman di sekolah kemaren. Aku pun melanjutkan menonton berita tersebut. Jujur, aku belum terlalu paham tentang penyakit ini.

    Jantungku berdetak lebih cepat. Pikiranku melayang kemana-mana. Penyakit menular yang setiap waktu dapat meningkat drastis sudah sampai di Indonesia. Oh tidak! Susu dan biskuit tidak lagi kuhiraukan. Cepat-cepat aku membuka handphoneku. Betapa terkejutnya aku membaca surat dari kepala sekolah bahwa selama 14 hari kami belajar di rumah karena Covid-19. Berhari-hari, sudah aku lalui, semakin lama. Berawal dari 14 hari, 30 hari, sampai 62 hari dan masih terus berlanjut.

    Masa karantina, kini semua dilakukan secara online dari belajar, bekerja, belanja, dan lain sebagainya. Setetes air tumpah dari mataku, ingin rasanya aku kembali bersekolah. Aku rindu tentang masa-masa itu. Bintang-bintang mengerlip aku melihat hanya ada satu di langit, dalam hati aku berdoa semoga cobaan dari-Mu ini cepat berlalu dan aku dapat bersekolah lagi bertemu dengan teman-teman yang aku rindukan.                

Puisi : VIANNEY_31_8J

UNTUKMU, YANG TERDEPAN

Oleh : Vianney C.W


Kulihat ...
Kau yang menjadi pelindung
Kau yang menjadi terdepan
Dan kau pula yang menjadi tameng bagi kami
    
Kami ...
Di sini hanya bisa
Berharap dan melafalkan
Doa yang terbaik untukmu

Jangan pernah patah semangat
Jangan pernah menyerah
Kami ada di sini 'tuk mendukungmu
Dan merasa bangga padamu

Rabu, 27 Mei 2020

Pentigraf : MARCHEL_15_8J

Keadilan

by : Marchel D.A.W (VIIIJ/15)

    Namaku adalah Alex, aku dilahirkan dari keluarga yang tak mampu. Hitam, jelek, gendut itulah rupaku aku bersekolah di SMAN 5 Jaya Raya.

    Di sekolah aku sering kali di bully oleh teman-temanku. Mereka sering kali menyebutku buruk rupa. Sampai disitu hari aku di hajar habis-habisan oleh teman-temanku hanya karena aku dituduh menghilangkan pulpen. Aku pulang dengan keadaan babak belur, sampai dijalan aku bertemu wanita berpakaian jas mendekatiku. "Ada apa denganmu?" Tanyanya. "Tidak apa-apa, ini sudah biasa" jawabku. "Cepat katakan sejujurnya!" Tanyanya dengan nada tegas, akupun bercerita semuanya yang aku alami. "Sudah keterlaluan! Aku akan menegakkan keadilan untukmu. Perkenalkan aku adalah kuasa hukum disini, perlakuan temanmu itu sudah keterlaluan". "Aku tidak mau, biarlah mereka lakukan. Aku ini orang miskin, bagaimana aku menuntut mereka?". "Kau tidak usah khawatir, aku akan menanggung semuanya. Tak peduli tingkatanmu, kau berhak mendapat keadilan". Aku hanya mengangguk dan sampai di suatu hari setelah aku selesai menuntut mereka, akhirnya mereka tertangkap. Mereka mengancamku, tapi aku sudah tidak takut lagi. Akupun diberi rumah yang layak oleh pemerintah, aku belajar dengan giat dan tekun agar dapat beasiswa sampai akhirnya kehidupanku berubah. Aku telah sukses menggapai cita-citaku menjadi kuasai hukum agar Nani aku bisa menegakkan keadilan untuk orang diluar sana.

    Keadilan tidak melihat betapa kaya orang itu dan berapa lemah orang itu. Setiap warga NKRI berhak mendapat keadilan, dan keadilan adalah hal tertinggi dalam kehidupan.



Puisi : MARCHEL_15_8J

Kelabu Di Negeriku

Oleh : Marchel Dimas Angger Wahyono (VIIIJ/15)

Terdengar dengan jelas

Rintih demi rintih kesakitan

Kau renggut keramaian kota

Ku bunuh tawa anak bermain

Hilang sudah tawa mereka

 

Detik demi detik hilang

Canda tawa telah tiada

Semua lenyap seketika

Tanpa bekas tanpa jejak

Tenggelam dalam kesediham


Hanya pilu yang terdengar

Lenyap sudah canda tawa itu

Tuhan...bantulah kami

Usaikan cerita kelam ini

Kembalikanlah canda tawa mereka



Senin, 25 Mei 2020

Pentigraf : ARMENIA_03_7A

Keluarga ODP

Karya  : Armenia Zendy Purwanto (7A/03)

          Keluarga ku semua adalah perantau, rumah kami berada di Bantarsari. Aku seorang pelajar yang bersekolah di Cilacap, ayah ku yang bekerja di Purwakarta, dan kakak ku sedang mencari pekerjaan di Bekasi. Sebelum PSBB dimulai, ayah ku dan kakak ku pulang dari rantau yang berbeda provinsi dari ku. Karena di daerah Jawa Barat dan sekitarnya sudah masuk zona merah. Aku khawatir, namun ayah ku selalu berkata padaku agar aku tidak boleh takut.

          Karena pada dasarnya jika kita merasa takut, maka imunitas kita akan turun. Dan mudah terserang Covid-19. Aku bersyukur semakin hari berlalu, keluarga ku tidak ada yang terkena Covid-19. Dan yang sangat ku syukuri adalah, ketika aku bisa berkumpul bersama keluarga ku. Ternyata Covid-19 juga mempunyai sisi baik nya. Aku jadi sering membantu ibu dan lebih banyak berinteraksi bersama keluarga.

         Jika terdapat sisi positif nya, pasti terdapat sisi negatif nya. Antara lain, sekolah-sekolah diliburkan, para pekerja wiraswata kehilangan pekerjaanya, dan para pemudik tidak bisa pulang ke kampung halaman.

Minggu, 24 Mei 2020

Puisi : YEHEZKIEL_32_8J

Puisi Tentang Corona:

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


Corona berjalan membabi buta
Tak terlihat tapi nyata
Membuat orang kehilangan nyawa 
Kita semua melihatnya di seluas dunia

                            Corona membatasi kita semua 
                            Semua bertanya mana obatnya
                            Ilmuwan berlomba dengan giat                               
                            Tenaga medis berjuang bahkan mengorbankan nyawa

Semua tertunduk berpasrah bersimpuh
Seolah sadar hidup tak bisa dihitung dengan waktu
Sekarang saatnya kita dengarkan petunjuk
Ayo rajin cuci tangan tinggal di rumah selalu


Sabtu, 23 Mei 2020

Pentigraf : VANNESA.S.P_30_8J

KURANGNYA KESADARAN

Oleh : Vanessa Sekar Pambajeng (30/8J)

        Aku pergi untuk membeli beberapa jajan takjil untuk berbuka puasa, tak lupa sesuai anjuran pemerintah, aku memakai masker dan cuci tangan sebelum keluar rumah. Namun, aku terkejut karena sewaktu di perjalanan, masih banyak warga yang tidak memakai masker, bahkan tidak memakai helm saat berkendara, aku ingin sekali mengingatkan, namun aku tidak berani, jujur aku menyesal karena tidak mengingatkan, harusnya aku melawan rasa takut dan berani mengingatkan, sebab situasi saat ini bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri.

        Rasa terkejutku bukan hanya sampai disana, sesampainya di sebuah gerobak kecil di pinggi jalan yang menyajikan jajanan takjil, aku terkejut akan betapa ramainya tempat itu. Benar mereka memakai masker, namun, bukannya menjaga jarak juga penting?. Namun, lagi-lagi aku takut untuk mengingatkan sebab rata-rata dari mereka adalah ibu-ibu, jika nanti aku dibilang sok tau, kan tidak lucu.

        Bukan hanya di kotaku yang seperti itu, baru-baru ini aku melihat di media sosial, ada beberapa orang yang masih menyepelekan pandemi ini, bahkan mereka berkata bahwa memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak itu tidak penting. Mereka yang berkata seperti itu sangatlah tidak menghargai tenaga medis. Bahkan ada beberapa oknum yang menggunakan pandemi ini untuk ajang mencari ketenaran, atau bisa di sebut pansos. Rasanya, kapan pandemi ini akan berakhir jikalau pikiran manusia masih seperti itu, aku menghela napas dan menutup ponselku. Melamun dan memikirkan betapa indahnya jikalau warga menaati aturan dan pandemi akan cepat berakhir

Puisi : VANESSA S. P_30_8J


Luka

Oleh : Vanessa Sekar Pambajeng (30/8J)

Bumi yang sudah menginjak masa tua
Pun meminta ketenangan
Meminta pada tuhan
Untuk mendamai sejenak

                Tuhan mengabulkan
                Sebab manusia sudah tak bisa terluruskan
                Luka menyerang
                Hiruk pikuk jalanan pun mulai melenggang

                                    Manusia berpikir
                                    Bawalah mereka yang paling dibutuhkan
                                    Nyatanya
                                    Bumi masih masih baik-baik saja tanpa manusia

                                                        Luka mendalam
                                                        Hidup manusia makin terendam
                                                        Saat yang tepat
                                                        Untuk berdoa dalam-dalam

Sadarlah, buka pikiran
Ini saatnya untuk melindungi
Bukan hanya diri sendiri
Namun juga demi saudara seisi bumi

                Berdoa, 
                berdiam, 
                bangkit mulai maju
                Membiarkan bumi menikmati ketenangan

                                    Menyembuhkan luka
                                    Meluruskan jiwa
                                    Menenangkan pikiran
                                    Memperbaiki kelakuan

                                                        Dan pasti suatu hari
                                                        Tuhan kan menyembuhkan
                                                        Bumi merindukan penduduknya
                                                        Manusia kembali ke jalan yang benar
                                                        Dan jiwa-jiwa pun mulai berdamai

Puisi : NAILAH AIDA_17_8J

PUISI  1

Bersatu Kita Melawan Virus Corona

Karya : Nailah Aida Apsarini/17/8J

Oh corona...
Kau telah menyebar kemana mana
Menyerang seluruh dunia
Tidak mengenal warna kulit dan ras

Untuk Indonesia marilah kita bersatu
Melawan virus corona
Patuhi anjuran pemerintah
Belajar, berkerja, dan beribadah di rumah saja 

Untuk dokter, perawatan, dan para medis
Terimakasih atas pengabdianmu
Berkerja dengan taruhan nyawa
Akhirnya kepada Tuhan jualah kita memohon
Agar virus corona segera berlalu 


PUISI  2


Dampak Virus Corona

Karya : Nailah Aida Apsarini/17/8J

Corona datang meluluhlantahkan kehidupan
Perekonomian terpuruk
Banyak pabrik tutup
PHK terjadi dimana – mana

Untuk Indonesia marilah kita bersatu
Bangkit melawan virus COVID-19
Jaga jarak dan hindari kerumunan
Gunakan masker bila keluar rumah

Ayo budayakan hidup bersih
Lindungi dirimu dan orang lain
Taatilah anjuran pemerintah
Agar pandemi corona segera berakhir








Pentigraf : NAILAH AIDA_17_8J

Akibat Sikap Acuh

Karya : Nailah Aida Apsarini (8J/17)


         Cilacap adalah sebuah kota kecil yang di padati oleh orang, pagi ini matahari muncul menyinari bumi, nyaris setiap hari begini, aku berdiam diri di kamar nyamanku, bermain hp kegiatanku setiap hari. Tiba-tiba aku dikejut berita yang muncul di hp ku, aku bergegas membacanya. Tetanggaku yang dulu tinggal di samping rumahku ternyata terkena virus corona. Dia bernama Ani, dia gadis yang baik, ramah, cantik, rambut panjang, berkulit kuning langsat. Ayahnya seorang pengangguran. Membaca beritanya  aku tersentuh tak terasa air mataku bergulir membasahi bantalku. Yang membuatku sangat sedih, keluarganya tak mempunyai uang untuk makan. Ibunya melamar pekerjaan kesana kemari namun, semua mengacuhkannya.
Seminggu yang lalu ia memasang status WhatsApp, “Aku tak takut pada virus corona,maka dari itu aku jalan jalan.” Kemudian hpnya mati tak dapat dihubungi.
         Aku tak bisa menjenguknya, karena memang sudah ketentuan kesehatan. Aku menghubungi keluarganya, mengucapkan belasungkawa. Lalu aku berinisiatif menggalang dana, allhamdulillah dalam seminggu dana yang terkumpul cukup banyak, lalu aku membeli sembako di warung dekat rumahku dan bergegas memberinya.
         Keluarganya sangat bersyukur mendapatkan sembako, lalu bergegas menghubungi ketua RT di rumahnya, “Pak,ada warga bapak yang tidak mampu, dan orang-orang sekitar acuh tak acuh, apakah bapak tidak tau?” Akhirnya warga sekitar membantu keluarga Ani dan membantu orang-orang yang tidak bisa makan karena adanya lockdown akibat virus corona yang sudah menyebar luas.

Puisi : AMELIA A._04_8J

Si  Mematikan

Karya : Amelia Archie P.S 8J/04


Covid-19 serangan mematikan di seluruh bumi
Kita dibuat buta virus menular dengan senang hati
Kehidupan tidak seperti biasa
Semua beristirahat dengan gemerlapnya kehidupan
Dibalik itu alam bersuka cita
Alam beristirahat dari egois nya manusia
Saatnya kita diam untuk membantu sang pahlawan
Ayolah manusia tentramkan hati diamlah sebentar

Pentigraf : AMELIA A._04_8J

Laki-Laki Besi Saya
Karya : Amelia Archi_8j_04

     Ayah..jika memperhatikan sosok Ayah sangatlah luar biasa tidak cukup hanya ditulis seperti ini,sosok Ayah memanglah sangat berharga dan seperti saya anak perempuan tunggal,Ayah memanglah cinta pertamaku dan seperti pahlawan.Bagi saya,Ayah saya adalah salah satu orang yang dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena leluconnya,nam na terkadang Ayah saya juga sedikit membuat saya kesal karena Ayah ketika bercanda suka membuat kesal,namun dengan hal itu yang membuat saya myanya tidak kaku seperti Ayah anak biasa tetapi juga bisa memposisikan sebagai teman untuk bercerita.
     Ayah saya bernama Triyogo Prihantoro,5 bersaudara yang tinggal di Secang,Magelang.Ayah saya kembar wajahnya sangat mirip hingga saat ini pun saya susah membedakan antara ayah dengan kembarannya memiliki kesamaan yang cukup banyak suara sama, cara tertawa sama,berjalannya pun sama,hanya yang membedakan Ayah saya lebih tinggi dibandingkan kembarannya.
     Ayah saya berkepribadian sangat disiplin,tegas,senang bercerita,mudah membuat orang lain tertawa, humoris,aangat  menyenangkan mempunyai Ayah seperti Ayah Triyogo Prihantoro.Ayah sehat sehat ya, terimakasih sudah membuat amel merasa jadi anak terbahagia di dunia ini.