ODP
Oleh: Sukarni
Vonis
dokter bahwa kami sekeluarga dalam pemantauan (ODP) membuatku tercenung. Hal
pertama yang harus aku beri tahu adalah keluargaku, saudara, dan atasanku.
Sebagai guru, dalam masa lock down
ini aku masih harus masuk kerja untuk piket. Jika aku tetap masuk, aku khawatir
menjadi carrier. Aku tidak mau
teman-temanku sakit karenaku.
Malam
harinya, kuberanikan diri menyampaikan pada pada Pak Gondo, Kepala Sekolahku.
Aku tidak meneleponnya, tetapi WA. Aku memberi keleluasaan pada beliau untuk
memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalahku.
Satu lagi yang aku beri tahu kondisiku yaitu Humas. Pak Gondo melarangku memberi
tahu siapa pun tentang kondisiku. Dua hari kemudian, di grup sekolah ada edaran
dari Humas tentang piket harian yang dimulai minggu depan. Namaku tidak ada.
Tapi, tunggu dulu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang yang usianya di atas 55
tahun tidak diikutsertakan dalam tugas piket. Umurku 56 tahun.
Aku
tersenyum lega. Dalam hati aku berterima kasih pada Pak Gondo yang telah menyelamatkan
aku. Aku memuji kebijakannya. Tak bisa kubayangkan jika semua orang mengetahui
statusku. Mungkinkah aku ditolak pulang ke rumahku?
Tentang
Penulis
Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta
warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung
dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan
Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota.
Hasil
karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.
Alamat
surel: sukarni.angel64@gmail.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar