SALAH PAHAM
Suatu hari, diriku terasa berseri. Aku mendapatkan pekerjaan di rumah orang
kaya. Walaupun hanya menjadi satpam, aku masih bersyukur masih mendapat
pekerjaan. Aku tinggal di rumah peninggalan orang tuaku bersama istri dan
anakku. Sejak aku terkena PHK, aku menjadi pengangguran. Hingga aku mendapatkan
pekerjaan ini.
Pagi hari, aku telah berada di pos. “Selamat pagi, Pak”, salamku kepada tuanku
sambil membukakan pintu mobil dan gerbang. Namun, dia hanya diam dan langsung
berangkat bekerja. Seketika, aku berpikir bahwa tuanku adalah orang sombong.
Setelah seminggu bekerja, aku selalu mendapatkan sembako di pos. Aku selalu
membawanya ke rumah. Hal itu terus terjadi hingga tuanku meninggal karena
kecelakaan. Sejak itu, aku tidak mendapatkan sembako. Kebutuhan keluargaku
menjadi sulit terpenuhi.
Suatu hari, aku meminta kepada istri tuanku untuk berhenti bekerja karena
kurang gaji. “Mengapa?”, pertanyaannya padaku. “Sebenarnya, kebutuhan
keluargaku dimudahkan oleh sembako yang selalu ada di pos.”, jawabku. Dia
langsung menangis. “Kamu adalah orang ke-7 yang mendapatkan santunan dari
suamiku.”, ucapnya. Ternyata, orang yang selalu menaruh sembako di pos adalah tuanku.
Bahkan, dia telah membiayai dan merencanakan sekolah anakku hingga kuliah.
“Suamiku mengalami masalah pendengaran, sehingga dia tidak bisa mendengar
sapaanmu yang lirih”, ucapnya. Akupun terkejut, karena selama ini aku salah
menilai tuanku.
Penulis : Gus Rangga Aditama
No./ kelas : 11/ 7A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar