Halaman
Minggu, 31 Mei 2020
Puisi : JONATHAN/8J/13
Sabtu, 30 Mei 2020
Puisi : MAULANA D._22_8I
Pentigraf : MAULANA D_22_8I
Pentigraf : TEGAR BAYU_26_8J
Pentigraf : TRANGGANA PURI_28_8J
Puisi : TRANGGANA PURI_28_8J
Puisi : TEGAR BAYU_26_8J
Pentigraf 4 : Sukarni_64
Pentigraf : YEHEZKIEL_32_8J
Pentigraf 3 : Sukarni_64
SAAT RAMADAN TIBA
Karya : Sukarni
Dengan santun Marbut Jaki mempersilakan
orang-orang untuk salat Zuhur di rumahnya masing-masing. “Siapa yang menyuruh
menutup masjid? Ini rumah Allah, selama kita di rumah-Nya, kita akan dijaga-Nya,”
jawab Haji Mukri. Siang itu Haji Mukri bersama beberapa orang berhasil salat di
masjid. Jaki yang yatim piatu dan masih muda itu tak punya kekuatan apa pun
untuk menghentikan langkahnya.
Sudah tiga hari Ustadz Arif
sakit. Ketua takmir masjid itu memasrahkan urusan masjid kepada Marbut Jaki. Ia
jugalah yang menyuruh Jaki untuk menyampaikan pada warga agar memenuhi anjuran
Pemerintah yaitu berdiam di rumah. Semua orang harus patuh agar penyebaran corona
bisa dihentikan. Keributan serupa siang terjadi lagi. Kali ini Haji Mukri
mencak-mencak dan membuka paksa pintu masjid yang sudah ditutup Jaki. Dengan
lantang ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa.
Saat tangan Haji Mukri menjangkau pintu masjid, terdengar suara batuk-batuk
Ustadz Arif. Mengenakan masker, tertatih-tatih menaiki undakan masjid. Kerumunan
menyibak, menjaga jarak. Haji Mukri merah padam. Nyalinya ciut. Kerumunan
diminta bubar dan salat di rumah. Saat semua orang sudah membalikkan badan,
tiba-tiba ada yang bertanya, apakah ada salat tarawih saat Ramadan nanti.
Semua
orang kembali berbalik dan menatap Ustadz Arif. “Pulanglah kalian, kita
perbaiki akidah kita dengan salat dan berdoa di rumah. Jangan tanya, Ramadan
nanti ada tarawih tidak, tapi mari kita merenung diri, Ramadan nanti kita masih
ada atau tidak?” jawabnya. Tanpa kata, kerumunan itu membubarkan diri.
Tentang
Penulis
Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta
warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung
dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan
Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota.
Hasil
karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.
Alamat
surel: sukarni.angel64@gmail.com.
Pentigraf 2 : Sukarni_64
ODP
Oleh: Sukarni
Vonis
dokter bahwa kami sekeluarga dalam pemantauan (ODP) membuatku tercenung. Hal
pertama yang harus aku beri tahu adalah keluargaku, saudara, dan atasanku.
Sebagai guru, dalam masa lock down
ini aku masih harus masuk kerja untuk piket. Jika aku tetap masuk, aku khawatir
menjadi carrier. Aku tidak mau
teman-temanku sakit karenaku.
Malam
harinya, kuberanikan diri menyampaikan pada pada Pak Gondo, Kepala Sekolahku.
Aku tidak meneleponnya, tetapi WA. Aku memberi keleluasaan pada beliau untuk
memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalahku.
Satu lagi yang aku beri tahu kondisiku yaitu Humas. Pak Gondo melarangku memberi
tahu siapa pun tentang kondisiku. Dua hari kemudian, di grup sekolah ada edaran
dari Humas tentang piket harian yang dimulai minggu depan. Namaku tidak ada.
Tapi, tunggu dulu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang yang usianya di atas 55
tahun tidak diikutsertakan dalam tugas piket. Umurku 56 tahun.
Aku
tersenyum lega. Dalam hati aku berterima kasih pada Pak Gondo yang telah menyelamatkan
aku. Aku memuji kebijakannya. Tak bisa kubayangkan jika semua orang mengetahui
statusku. Mungkinkah aku ditolak pulang ke rumahku?
Tentang
Penulis
Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta
warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung
dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan
Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota.
Hasil
karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.
Alamat
surel: sukarni.angel64@gmail.com.
Puisi : ARMENIA_03_7A
Pentigraf : ANASTASYA_03_7E
Puisi : ANASTASYA_03_7E
Pentigraf : JONATHAN_13_8J
Jumat, 29 Mei 2020
Puisi : CINTA RIMA_07_8J
Pentigraf : CINTA RIMA_07_8J
Puisi : VIANNEY_31_8J
Rabu, 27 Mei 2020
Pentigraf : MARCHEL_15_8J
Keadilan
Namaku adalah Alex, aku dilahirkan dari keluarga yang tak mampu. Hitam, jelek, gendut itulah rupaku aku bersekolah di SMAN 5 Jaya Raya.
Di sekolah aku sering kali di bully oleh teman-temanku. Mereka sering kali menyebutku buruk rupa. Sampai disitu hari aku di hajar habis-habisan oleh teman-temanku hanya karena aku dituduh menghilangkan pulpen. Aku pulang dengan keadaan babak belur, sampai dijalan aku bertemu wanita berpakaian jas mendekatiku. "Ada apa denganmu?" Tanyanya. "Tidak apa-apa, ini sudah biasa" jawabku. "Cepat katakan sejujurnya!" Tanyanya dengan nada tegas, akupun bercerita semuanya yang aku alami. "Sudah keterlaluan! Aku akan menegakkan keadilan untukmu. Perkenalkan aku adalah kuasa hukum disini, perlakuan temanmu itu sudah keterlaluan". "Aku tidak mau, biarlah mereka lakukan. Aku ini orang miskin, bagaimana aku menuntut mereka?". "Kau tidak usah khawatir, aku akan menanggung semuanya. Tak peduli tingkatanmu, kau berhak mendapat keadilan". Aku hanya mengangguk dan sampai di suatu hari setelah aku selesai menuntut mereka, akhirnya mereka tertangkap. Mereka mengancamku, tapi aku sudah tidak takut lagi. Akupun diberi rumah yang layak oleh pemerintah, aku belajar dengan giat dan tekun agar dapat beasiswa sampai akhirnya kehidupanku berubah. Aku telah sukses menggapai cita-citaku menjadi kuasai hukum agar Nani aku bisa menegakkan keadilan untuk orang diluar sana.
Keadilan tidak melihat betapa kaya orang itu dan berapa lemah orang itu. Setiap warga NKRI berhak mendapat keadilan, dan keadilan adalah hal tertinggi dalam kehidupan.
Puisi : MARCHEL_15_8J
Kelabu Di Negeriku
Terdengar dengan jelas
Rintih demi rintih kesakitan
Kau renggut keramaian kota
Ku bunuh tawa anak bermain
Hilang sudah tawa mereka
Detik demi detik hilang
Canda tawa telah tiada
Semua lenyap seketika
Tanpa bekas tanpa jejak
Tenggelam dalam kesediham
Hanya pilu yang terdengar
Lenyap sudah canda tawa itu
Tuhan...bantulah kami
Usaikan cerita kelam ini
Kembalikanlah canda tawa mereka
Senin, 25 Mei 2020
Pentigraf : ARMENIA_03_7A
Minggu, 24 Mei 2020
Puisi : YEHEZKIEL_32_8J
Sabtu, 23 Mei 2020
Pentigraf : VANNESA.S.P_30_8J
Puisi : VANESSA S. P_30_8J
Puisi : NAILAH AIDA_17_8J
Pentigraf : NAILAH AIDA_17_8J
Puisi : AMELIA A._04_8J
Pentigraf : AMELIA A._04_8J
Jumat, 22 Mei 2020
Pentigraf : KAYLA_7A_15
Puisi : KAYLA_7A_15
Pentigraf : NAJWA KIRANI_24_7B
Pendidikan
Oleh:Putri Najwa Kirani
Cerita ini berawal dari seorang anak yg bernama Rahma. Rahma adalah anak pintar, hampir semua mata pelajaran dikuasai oleh Rahma. Pada suatu hari di Sekolah, Ibu guru menjelaskan bahwa ada lomba cerdas cermat tingkat Provinsi Jateng, dan Ibu guru memilih siswa-siswanya. Dan akhirnya Rahma terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat Provinsi Jateng. Lomba pun dimulai setelah beberapa menit. Lomba selesai dan diumumkan juaranya, tidak menyangka akhirnya Rahma memenangkan lomba cerdas cermat tingkat provinsi Jateng. Ibu bapak Rahma sangat bangga dengan Rahma. Rahma mendapat piagam penghargaan dari Sekolah.
Di sekolah Rahma, sekarang teknologi sudah canggih. Maka dari itu Ibu Kepala Sekolah mengumumkan bahwa, "mulai sekarang kita belajar dengan Handphone ya anak-anak, besok semua murid harus membawa Handphone dari rumah masing-masing. Bel pulang pun berbunyi, Rahma bergegas pulang untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Ibu Kepala Sekolah tadi. Rahma pun berbicara kepada Bapaknya"Pak besok sekolah Rahma sudah mulai memakai Handphone untuk belajar,apakah Rahma boleh minta Bapak beliin Rahma Handphone?"Kata Rahma. Bapak Rahma pun menjawab Boleh nak,asalkan kamu harus lebih giat belajar.Rahma pun berkata "Asyikkk, Terimakasih Pak. Rahma pun lalai dengan janjinya kepada Bapaknya, Rahma setiap hari Asyikk bermain Game hingga dia lupa untuk belajar. Setiap hari dia bermain Game,dan Rahma pun lupa waktu. Pada waktu Penilaian akhir semester, nilai Rahma sangat jelek dan turun drastis dari yang sebelumnya. Rahma pun memeberitahu nilainya kepada Orang tuanya. Rahma pun berkata pada orang tuanya"Pak,Bu maafkan Rahma, nilai Rahma jelek dan turun drastis " kata Rahma. Ibu Rahma pun berkata"Gak papa nak, lain kali jangan lupa waktu kamu harus bisa membagi waktu antara belajar dengan main game nak" Kata ibu Rahma. Rahma pun berkata "iya bu, terimakasih atas nasihatnya"
Rahma pun mulai sadar bahwa yang diperbuatnya salah. Rahma menyesalinya. Semenjak Kejadian teesebut Rahma bisa membagi waktu antara belajar dengan bermain game.
SELESAI
Sebagai anak bangsa, menjadilah jati diri yang baik dan harus menjadi contoh dalam generasi penerus bangsa yang semakin hebat dalam berfikir
Nama =Putri Najwa Kirani
Kelas =VIIB/24. SMPN 1 CILACAP
Pentigraf : KARIMA Z._17_7E
Puisi : KARIMA Z._17_7E
Puisi_Pentigraf : TRI DARA_31_7B
Puisi_Pentigraf_Umami RM_7A_30
Putri_Najwa_Kirani_Puisi, 7B
Kedatangannya
Oleh:Putri Najwa Kirani
Hari ini penuh dengan kekhawatiran
Dimana dia terbaik selalu dipanjatkan
Bekerja,beribadah dan belajar sudah dirumahkan
Menunggu Nasib baik penuh harapan
Oh virus corona…..
Engkau datang dari China
Engkau telah ada dimana -mana
Kehadiranmu membuat resah dunia
Mungkin ini caranya
Alam berbicara
Kepada kita semua
Beristirahat dirumah untuk sementara
Nama:Putri Najwa Kirani
Kelas/absen:VIIB/24. SMPN 1 Cilacap

