Halaman

Minggu, 31 Mei 2020

Puisi : JONATHAN/8J/13


Virus Corona datang menerjang
Menyebar luas tanpa diketahui
Menembus dunia yang tak terbatas
Membuat segala bangsa geger 

Setiap hari penuh dengan kekhawatiran
Nyawa setiap orang mulai hilang
Tenaga medis berjuang sebaik mungkin
Bahkan mengorbankan nyawanya

Para ahli berusaha dengan giat
Untuk menemukan obat dan vaksin
Segala doa telah dipanjatkan
Akhirnya kepada Tuhan jualah kami memohon

Sabtu, 30 Mei 2020

Puisi : MAULANA D._22_8I

CORONA
Karya : Maulana Dicky A (8I/22)

Setiap hari penuh kekhawatiran....
Segala doa doa terbaik sudah di panjatkan....
Semua kegiatan aktivitas sudah di rumahkan....
Semua tenaga medis sudah berjuang sebaik mungkin....

Virus ini sudah menyebar luas hingga kepelosok....
Melanda tanah suci yaitu mekkah....
Memapar seluruh umat manusia....
Dan menyebar luas tanpa di ketahui....

Ya allah, berikanlah kuasamu....
Untuk menemukan vaksin covid
Agar umat manusia dapat beribadah di tanah suci lagi....
Semoga kau mengabulkannya, Aminnn....

Pentigraf : MAULANA D_22_8I

Tersangka ODP

Karya : Maulana Dicky Adriansyah (8i/22)

        Dari hasil rapid tes, ustad syaiful dinilai negatif covid 19, tetapi banyak orang yang belum percaya jika ustad syaiful negatif covid 19 karena beliau baru pulang dari Gowa,Sulawesi habis hijrah
        Warga meminta ustad syaiful isolasi mandiri di dalam rumahnya. Karena warga khawatir jika beliau positif, karena belum melakukan tes swab. Tetapi warga sekitar selalu membantu kebutuhanya dan mendo'a kannya selalu agar ustad syaiful negatif covid 19. Esok harinya ustad di periksa dan di tes swab, dari hadilnya tertulis negatif covid.
       Dan akhirnya warga tersenyum lega. Ustad syaiful pun berterimakasih pada tetangganya karena sudah di bantu keluarganya dan di doa kan selalu.

Pentigraf : TEGAR BAYU_26_8J

BERTAHAN HIDUP  

    Brig mengangkat kedua tangannya dengan lemah. Meraba-raba benda di atas kepalanya yang lelah terbaring. Jemari kecilnya menyentuh lingkaran korona keemasan hadiah untuk ulang tahunnya yang ke-enam tahun dua hari lalu. Pesta itu telah berlalu dan menyisakan hadiah tambahan tak terduga, virus korona di dalam tubuh kecilnya.

      “Princess pasti kuat!” Tulisan itu tertempel di dinding bangsal rumah sakit sejauh juluran tangannya. Ada foto dirinya, Mama, dan almarhum Papa di kertas putih itu. Mama yang menuliskannya.

      “Apakah Brigitta tahun depan masih bisa berulang tahun, Ma?” tanya Briggita ketika Mamanya didesak oleh perawat untuk segera meninggalkan bangsal itu. Mama belum menjawabnya sampai sekarang. 

Pentigraf : TRANGGANA PURI_28_8J

LABORATORIUM

      Tom tertawa kecil. Dia baca sekali lagi  pujian spesial dari komandannya. Puas rasanya. Kerja 340 hari di dalam laboratorium bawah tanah yang melelahkan, penuh tantangan, dan risiko besar telah dia lalui dengan hasil amat gemilang. Dia seruput kopi putihnya sembari meninggalkan lima lapis pakaian laboratoriumnya.

      “Dunia akan berterima kasih kepadamu, Doktor hebat. Virus Korona telah berhasil kamu ubah menjadi varian baru yang tidak lagi liar. Hanya berpindah dari orang ke orang. Tak bisa berpindah melalui udara. Mudah disimpan dan dipindahkan di dalam suhu normal, serta hanya berefek pada mereka yang rendah daya tahan tubuhnya. Dunia militer berterima kasih padamu, Doktor!”

      Esok, saya boleh memulai cuti panjang, kata Tom dalam hati sembari menengok tiket penerbangan Royal Class bertanggal 1 Maret 1995.

Puisi : TRANGGANA PURI_28_8J

TEGURAN SEMESTA

Hadirmu bagai sebuah pilu
Duka dalam yang tak menentu
Hadir mengisi jiwaku
Membuat diriku diam tak berseru

Mengapa kau begitu tega
Datang mengambil tanpa kira
Pergi begitu saja tanpa lara 
Membuat hati ini sedih tanpa tawa

Puisi : TEGAR BAYU_26_8J

PERGI KAU VIRUS CORONA


Kau datang tanpa salam
Tanpa salampun kau  buat geger bumi ini
Kau buat semua orang membicarakan mu
Membicarakan kedatanganmu yang tak diharapkan

Satu persatu tenaga medis kau buat tumbang 
Mereka berjuang di garis terdepan
Berjuang untuk membuatmu pergi
Berjuang untuk melindungi kami dari dirimu
Rasa lelah lapar untuk membantu korbanmu 
Cepat lah kau pergi virus Corona

Pentigraf 4 : Sukarni_64

Antara Damalang – Pasar Gede 

Oleh: Sukarni 
 
        Angkot jurusan Damalang – Pasar Gede berjalan perlahan. Dalam angkot panas dan pengap karena ada penumpang yang merokok. Aku kesal sekali. 

        Di depan RSUD, dua penumpang naik. Belum lima menit, seorang nenek membawa ember tempat ikan masuk. Hidungku tersumbat, bau amis yang luar biasa menyeruak, membuatku sesak napas. Nenek itu mengambil tempat persis di sebelahku. Aku berusaha menjauh, tapi tak ada tempat lagi. Yang bisa kulakukan hanya menutup hidung. Bau keringat campur amis membuatku makin pening. Sayang, nenek ini cerewet sekali. Ia menanyaiku macam-macam. Aku menjawab sekenanya sambil membuang muka. Sampai Kebon Baru, kondektur menarik karcis. Betapa terkejutnya aku ketika kubuka tas ternyata dompetku tak ada. Sampai semua anakan kugeledah, tak  kutemukan selembar uang pun. Wajahku memanas, bingung. Kulihat nenek itu menarik ujung stagen-nya, mengeluarkan uang recehnya, menghitung, dan menyerahkannya pada kondektur. Ia hendak membundelnya lagi ketika tiba-tiba ia melihatku. Ia tentu melihat wajahku yang pucat dengan tas masih terbuka. Ia tidak jadi membundel ujung stagen-nya. “Ini ongkos angkot Neng ini,” katanya. “Hati-hati, Neng!” katanya sebelum berlalu.  

        Leherku sakit, tak bisa berkata-kata.  Mataku berkaca-kaca.... Ya Tuhan..., maafkan aku, hari ini aku belajar sesuatu.  

Pendapa Kabupaten Cilacap, 7 September 2016 

Pentigraf : YEHEZKIEL_32_8J

Rencana Bermain Badminton Bersama Teman

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


     Pagi ini cuaca cerah,sambil berjalan di koridor sekolah menuju kelas,aku mangingat-ingat adakah pr yang belum ku kerjakan.Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang yang membuatku terkejut,ternyata itu adalah Nicho teman baikku.Nicho mengajakku bermain badminton pukul 2 siang.

     Selama pelajaran aku memikirkan ajakkan Nicho.Aku senang bermain badminton,tapi aku ragu apakah ibuku mengijinkan aku karena pukul 2 siang adalah waktu untuk istirahat sepulang sekolah.

     Sepulang sekolah,aku memarkirkan sepedaku di luar rumah.Saat masuk rumah aku ditanya ibuku kenapa sepedaku tidak dibawa masuk ke dalam rumah.Aku mengatakan alasannya karena aku mau main badminton pukul 2 siang nanti bersama Nicho ibuku mengijinkan aku untuk pergi bermain badminton bersama Nicho. Tapi aku harus makan siang dan istirahat walau sebentar.Lega rasanya karena aku diijinkan oleh ibuku.Memang orang tua kadang membatasi anaknya tapi itu pasti ada alasannya.Itu juga demi manfaat anaknya.Kalau anaknya taat orang tua pasti lebih banyak memberikan keleluasaan.

Pentigraf 3 : Sukarni_64

SAAT RAMADAN TIBA

Karya : Sukarni

        Dengan santun Marbut Jaki mempersilakan orang-orang untuk salat Zuhur di rumahnya masing-masing. “Siapa yang menyuruh menutup masjid? Ini rumah Allah, selama kita di rumah-Nya, kita akan dijaga-Nya,” jawab Haji Mukri. Siang itu Haji Mukri bersama beberapa orang berhasil salat di masjid. Jaki yang yatim piatu dan masih muda itu tak punya kekuatan apa pun untuk menghentikan langkahnya.

        Sudah tiga hari Ustadz Arif sakit. Ketua takmir masjid itu memasrahkan urusan masjid kepada Marbut Jaki. Ia jugalah yang menyuruh Jaki untuk menyampaikan pada warga agar memenuhi anjuran Pemerintah yaitu berdiam di rumah. Semua orang harus patuh agar penyebaran corona bisa dihentikan. Keributan serupa siang terjadi lagi. Kali ini Haji Mukri mencak-mencak dan membuka paksa pintu masjid yang sudah ditutup Jaki. Dengan lantang ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Saat tangan Haji Mukri menjangkau pintu masjid, terdengar suara batuk-batuk Ustadz Arif. Mengenakan masker, tertatih-tatih menaiki undakan masjid. Kerumunan menyibak, menjaga jarak. Haji Mukri merah padam. Nyalinya ciut. Kerumunan diminta bubar dan salat di rumah. Saat semua orang sudah membalikkan badan, tiba-tiba ada yang bertanya, apakah ada salat tarawih saat Ramadan nanti.

            Semua orang kembali berbalik dan menatap Ustadz Arif. “Pulanglah kalian, kita perbaiki akidah kita dengan salat dan berdoa di rumah. Jangan tanya, Ramadan nanti ada tarawih tidak, tapi mari kita merenung diri, Ramadan nanti kita masih ada atau tidak?” jawabnya. Tanpa kata, kerumunan itu membubarkan diri.




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.


Pentigraf 2 : Sukarni_64

ODP

Oleh: Sukarni

            Vonis dokter bahwa kami sekeluarga dalam pemantauan (ODP) membuatku tercenung. Hal pertama yang harus aku beri tahu adalah keluargaku, saudara, dan atasanku. Sebagai guru, dalam masa lock down ini aku masih harus masuk kerja untuk piket. Jika aku tetap masuk, aku khawatir menjadi carrier. Aku tidak mau teman-temanku sakit karenaku.

            Malam harinya, kuberanikan diri menyampaikan pada pada Pak Gondo, Kepala Sekolahku. Aku tidak meneleponnya, tetapi WA. Aku memberi keleluasaan pada beliau untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalahku. Satu lagi yang aku beri tahu kondisiku yaitu Humas. Pak Gondo melarangku memberi tahu siapa pun tentang kondisiku. Dua hari kemudian, di grup sekolah ada edaran dari Humas tentang piket harian yang dimulai minggu depan. Namaku tidak ada. Tapi, tunggu dulu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang yang usianya di atas 55 tahun tidak diikutsertakan dalam tugas piket. Umurku 56 tahun.

            Aku tersenyum lega. Dalam hati aku berterima kasih pada Pak Gondo yang telah menyelamatkan aku. Aku memuji kebijakannya. Tak bisa kubayangkan jika semua orang mengetahui statusku. Mungkinkah aku ditolak pulang ke rumahku?




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.


Puisi : ARMENIA_03_7A

Indonesia yang Suram

Karya : Armenia Zendy Purwanto (7A/03)



Negaraku 
Kini engkau sedang dilanda oleh virus
Virus yang sangat mematikan
Virus yang membunuh rakyat mu secara perlahan


Kini negara mu menjadi sepi dan suram
Tiada manusia yang berkeliaran
Tiada manusia yang melakukan kegiatan di luar
Hanya angin yang bertiup melambai


Hening lingkungan dan kota
Duka yang sangat lara
Hanya bisa berharap negara mu kembali pulih
Duka ini pasti cepat selesai


Pentigraf : ANASTASYA_03_7E

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN 
by. Anastasya Nur Safitri 
Kelas 7E 
No. Absen 03 


Pada suatu hari di daerah lingkungan tempat tinggali, ada seorang anak tetanggaku yg sakit, dia sangat cantik tapi sayangnya dia dan keluarganya tidak suka membersihkan rumah.

Beberapa hari kemudian anak itu jatuh sakit. Dia terkena penyakit Demam Berdarah(DB), suhu badannya sangat panas (demam). Tidak lama kemudian dia dibawa oleh orangtuanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, anak itu dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan medis dari dokter dan perawat.

Anak itu diambil darahnya untuk di cek di laboratorium, dan hasil nya positif Demam Berdarah (DB). Dokter menyarankan agar anak tersebut harus opname agar bisa dipantau oleh dokter dan perawat, agar suhu tubuhnya kembali normal dan trombositnya cepat naik, supaya anak tersebut cepat sembuh. Dokter mengatakan kepada orang tua anak tersebut kalau harus menjaga kebersihan dan makan dengan teratur agar terhindar dari penyakit, apalagi DB disebabkan oleh gigitan nyamuk, kalau kita tidak benar-benar membersihkan lingkungan, karena nyamuk akan senang di tempat yg kotor. Setelah mendengar dari dokter orang tua anak tersebut mulai menerapkan hidup bersih kaerna kesehatan yang paling utama. Bahagia berawal dari lingkungan yang bersih dan sehat.

Puisi : ANASTASYA_03_7E

 PUISI 1
CORONA
Anastasya Nur Safitri
Kelas 7E 
No. Absen 03


Corona kau datang tanpa permisi
Kau hancurkan negara ini
Hingga kami tak bisa berkata apa-apa lagi 
Ya Allah kasihanilah kami, lindungilah negara ini

Sudah cukup banyak mayat bergelimpangan dimana-mana
Tak pandang tua, muda, bahkan anak kecilpun kau ambil juga
Corona kapan kau pergi dari negara ini
Agar kita bisa tersenyum dan berkumpul lagi seperti dulu

Terima kasih untuk para medis
Kau tak mengenal lelah,tak. Perdulikan nyawamu 
Dengan tulus,ikhlas kau berkorban menyelamatkan nyawa semua orang demi negara ini

CORONA
Corona kau datang tak berujud
Kau ambil nyawa saudara saudara kami
Kau buat kami hidup dalam ketakutan 
Kau buat kami berdiam diri di rmh, beribadah di ruma, sekolah di rumah, bahkan kerja pun di rumah.
Tak pandang tua muda
Kau ambil nyawanya
Tak cukup satu , dua nyawa
Kau bahkan ambil ribuan nyawa 

Kupercaya akan mukjizatmu Ya Allah, Engkau pasti akan berikan vaksin, kirimkan tenaga medis untuk menyembuhkan yg terkena virus corona
Corona kapan kau pergi dari negara ini
Karna kepergian mu kami rindukan

Pentigraf : JONATHAN_13_8J

PENTIGRAF 

CORONA
Oleh : Jonathan (8J/13)

    Tahun ini menurutku adalah tahun yang membosankan. Karena kita harus melakukan aktivitas dirumah. Kita tidak boleh keluar dari rumah, jika pergi keluar dari rumah harus menggunakan masker dan menjaga jarak dari orang lain. Aku merasa bosan karena setiap hari dirumah, tidak bisa bermain diluar, dan harus mengerjakan tugas dari guru. Karena merasa bosan aku akhirnya pergi keluar untuk berbelanja, tetapi aku lupa menggunakan masker. Dan saat pulang aku juga lupa mencuci tangan.

    Setelah beberapa hari sejak aku pergi ke pasar tanpa menggunakan masker. Badanku terasa panas, lemas, dan demam. Orang tua ku pun khawatir sehingga aku dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku langsung segera di periksa dokter, ternyata aku dinyatakan ODP. Badanku langsung lemas dan aku pun pasrah. Aku langsung dibawa ke ruang isolasi. Pikiranku sudah kemana mana, aku sempat berpikir kalau aku bakal segera menemui ajalku. Panas ku pun semakin menjadi. Batukku semakin parah. Tenggorokan ku sangat kering dan sakit, walaupun sudah minum air yang banyak tetap saja tenggorokanku sakit. Badanku terasa sangat berat. Aku tak bisa melakukan apa apa. Saat malam hari aku pun pasrah dan menyerahkan hidupku pada Tuhan, aku pun berdoa kepada Tuhan agar aku bisa sembuh dan bisa kumpul bersama keluarga lagi.

    Setelah 14 hari di ruang isolasi badanku mulai terasa ringan dan mulai membaik. Dan aku tetap berdoa kepada Tuhan agar aku bisa sembuh dan agar badanku terus tetap membaik. Puji Tuhan, doa ku pun di jawab oleh Tuhan. Aku akhirnya bisa sembuh dan dinyatakan negatif dari virus corona dan aku pun dapat himbauan dari dokter agar tetap menjaga jarak dan tetap waspada. Aku pun sangat senang karena bisa sembuh dan kumpul bersama keluarga.

Jumat, 29 Mei 2020

Puisi : CINTA RIMA_07_8J

Lemah

Oleh : Cinta Rima T_07_8J

Suhu tubuhku meninggi 
Imunku melemah
Demam....
Sungguh aku benci 
Tuhanku
Berilah hamba kekuatan 
Kupuji diri-Mu 
Dengan doa 
Angin membuka tirai
Bintang-bintang sembunyi dibalik awan 
Mataku terpejam 
Tuhanku
Kau memanggilku 
Kau terlalu sayang kepadaku 
Meredakan sakitku untuk selamanya
Dan membuatku melihat bintang

Pentigraf : CINTA RIMA_07_8J

Quaratine

Oleh :
Cinta Rima T_07_8J

    Minggu pagi memang sangat cocok untuk menikmati susu hangat dan biskuit, apalagi sambil menonton televisi. Jemariku bergerak menekan tombol on  pada remote. "Yah, lagi-lagi berita yang muncul? Aku kan nggak suka nonton berita." Tetapi tunggu dulu, mereka memberitakan virus yang dibicarakan teman-teman di sekolah kemaren. Aku pun melanjutkan menonton berita tersebut. Jujur, aku belum terlalu paham tentang penyakit ini.

    Jantungku berdetak lebih cepat. Pikiranku melayang kemana-mana. Penyakit menular yang setiap waktu dapat meningkat drastis sudah sampai di Indonesia. Oh tidak! Susu dan biskuit tidak lagi kuhiraukan. Cepat-cepat aku membuka handphoneku. Betapa terkejutnya aku membaca surat dari kepala sekolah bahwa selama 14 hari kami belajar di rumah karena Covid-19. Berhari-hari, sudah aku lalui, semakin lama. Berawal dari 14 hari, 30 hari, sampai 62 hari dan masih terus berlanjut.

    Masa karantina, kini semua dilakukan secara online dari belajar, bekerja, belanja, dan lain sebagainya. Setetes air tumpah dari mataku, ingin rasanya aku kembali bersekolah. Aku rindu tentang masa-masa itu. Bintang-bintang mengerlip aku melihat hanya ada satu di langit, dalam hati aku berdoa semoga cobaan dari-Mu ini cepat berlalu dan aku dapat bersekolah lagi bertemu dengan teman-teman yang aku rindukan.                

Puisi : VIANNEY_31_8J

UNTUKMU, YANG TERDEPAN

Oleh : Vianney C.W


Kulihat ...
Kau yang menjadi pelindung
Kau yang menjadi terdepan
Dan kau pula yang menjadi tameng bagi kami
    
Kami ...
Di sini hanya bisa
Berharap dan melafalkan
Doa yang terbaik untukmu

Jangan pernah patah semangat
Jangan pernah menyerah
Kami ada di sini 'tuk mendukungmu
Dan merasa bangga padamu

Rabu, 27 Mei 2020

Pentigraf : MARCHEL_15_8J

Keadilan

by : Marchel D.A.W (VIIIJ/15)

    Namaku adalah Alex, aku dilahirkan dari keluarga yang tak mampu. Hitam, jelek, gendut itulah rupaku aku bersekolah di SMAN 5 Jaya Raya.

    Di sekolah aku sering kali di bully oleh teman-temanku. Mereka sering kali menyebutku buruk rupa. Sampai disitu hari aku di hajar habis-habisan oleh teman-temanku hanya karena aku dituduh menghilangkan pulpen. Aku pulang dengan keadaan babak belur, sampai dijalan aku bertemu wanita berpakaian jas mendekatiku. "Ada apa denganmu?" Tanyanya. "Tidak apa-apa, ini sudah biasa" jawabku. "Cepat katakan sejujurnya!" Tanyanya dengan nada tegas, akupun bercerita semuanya yang aku alami. "Sudah keterlaluan! Aku akan menegakkan keadilan untukmu. Perkenalkan aku adalah kuasa hukum disini, perlakuan temanmu itu sudah keterlaluan". "Aku tidak mau, biarlah mereka lakukan. Aku ini orang miskin, bagaimana aku menuntut mereka?". "Kau tidak usah khawatir, aku akan menanggung semuanya. Tak peduli tingkatanmu, kau berhak mendapat keadilan". Aku hanya mengangguk dan sampai di suatu hari setelah aku selesai menuntut mereka, akhirnya mereka tertangkap. Mereka mengancamku, tapi aku sudah tidak takut lagi. Akupun diberi rumah yang layak oleh pemerintah, aku belajar dengan giat dan tekun agar dapat beasiswa sampai akhirnya kehidupanku berubah. Aku telah sukses menggapai cita-citaku menjadi kuasai hukum agar Nani aku bisa menegakkan keadilan untuk orang diluar sana.

    Keadilan tidak melihat betapa kaya orang itu dan berapa lemah orang itu. Setiap warga NKRI berhak mendapat keadilan, dan keadilan adalah hal tertinggi dalam kehidupan.



Puisi : MARCHEL_15_8J

Kelabu Di Negeriku

Oleh : Marchel Dimas Angger Wahyono (VIIIJ/15)

Terdengar dengan jelas

Rintih demi rintih kesakitan

Kau renggut keramaian kota

Ku bunuh tawa anak bermain

Hilang sudah tawa mereka

 

Detik demi detik hilang

Canda tawa telah tiada

Semua lenyap seketika

Tanpa bekas tanpa jejak

Tenggelam dalam kesediham


Hanya pilu yang terdengar

Lenyap sudah canda tawa itu

Tuhan...bantulah kami

Usaikan cerita kelam ini

Kembalikanlah canda tawa mereka



Senin, 25 Mei 2020

Pentigraf : ARMENIA_03_7A

Keluarga ODP

Karya  : Armenia Zendy Purwanto (7A/03)

          Keluarga ku semua adalah perantau, rumah kami berada di Bantarsari. Aku seorang pelajar yang bersekolah di Cilacap, ayah ku yang bekerja di Purwakarta, dan kakak ku sedang mencari pekerjaan di Bekasi. Sebelum PSBB dimulai, ayah ku dan kakak ku pulang dari rantau yang berbeda provinsi dari ku. Karena di daerah Jawa Barat dan sekitarnya sudah masuk zona merah. Aku khawatir, namun ayah ku selalu berkata padaku agar aku tidak boleh takut.

          Karena pada dasarnya jika kita merasa takut, maka imunitas kita akan turun. Dan mudah terserang Covid-19. Aku bersyukur semakin hari berlalu, keluarga ku tidak ada yang terkena Covid-19. Dan yang sangat ku syukuri adalah, ketika aku bisa berkumpul bersama keluarga ku. Ternyata Covid-19 juga mempunyai sisi baik nya. Aku jadi sering membantu ibu dan lebih banyak berinteraksi bersama keluarga.

         Jika terdapat sisi positif nya, pasti terdapat sisi negatif nya. Antara lain, sekolah-sekolah diliburkan, para pekerja wiraswata kehilangan pekerjaanya, dan para pemudik tidak bisa pulang ke kampung halaman.

Minggu, 24 Mei 2020

Puisi : YEHEZKIEL_32_8J

Puisi Tentang Corona:

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


Corona berjalan membabi buta
Tak terlihat tapi nyata
Membuat orang kehilangan nyawa 
Kita semua melihatnya di seluas dunia

                            Corona membatasi kita semua 
                            Semua bertanya mana obatnya
                            Ilmuwan berlomba dengan giat                               
                            Tenaga medis berjuang bahkan mengorbankan nyawa

Semua tertunduk berpasrah bersimpuh
Seolah sadar hidup tak bisa dihitung dengan waktu
Sekarang saatnya kita dengarkan petunjuk
Ayo rajin cuci tangan tinggal di rumah selalu


Sabtu, 23 Mei 2020

Pentigraf : VANNESA.S.P_30_8J

KURANGNYA KESADARAN

Oleh : Vanessa Sekar Pambajeng (30/8J)

        Aku pergi untuk membeli beberapa jajan takjil untuk berbuka puasa, tak lupa sesuai anjuran pemerintah, aku memakai masker dan cuci tangan sebelum keluar rumah. Namun, aku terkejut karena sewaktu di perjalanan, masih banyak warga yang tidak memakai masker, bahkan tidak memakai helm saat berkendara, aku ingin sekali mengingatkan, namun aku tidak berani, jujur aku menyesal karena tidak mengingatkan, harusnya aku melawan rasa takut dan berani mengingatkan, sebab situasi saat ini bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri.

        Rasa terkejutku bukan hanya sampai disana, sesampainya di sebuah gerobak kecil di pinggi jalan yang menyajikan jajanan takjil, aku terkejut akan betapa ramainya tempat itu. Benar mereka memakai masker, namun, bukannya menjaga jarak juga penting?. Namun, lagi-lagi aku takut untuk mengingatkan sebab rata-rata dari mereka adalah ibu-ibu, jika nanti aku dibilang sok tau, kan tidak lucu.

        Bukan hanya di kotaku yang seperti itu, baru-baru ini aku melihat di media sosial, ada beberapa orang yang masih menyepelekan pandemi ini, bahkan mereka berkata bahwa memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak itu tidak penting. Mereka yang berkata seperti itu sangatlah tidak menghargai tenaga medis. Bahkan ada beberapa oknum yang menggunakan pandemi ini untuk ajang mencari ketenaran, atau bisa di sebut pansos. Rasanya, kapan pandemi ini akan berakhir jikalau pikiran manusia masih seperti itu, aku menghela napas dan menutup ponselku. Melamun dan memikirkan betapa indahnya jikalau warga menaati aturan dan pandemi akan cepat berakhir

Puisi : VANESSA S. P_30_8J


Luka

Oleh : Vanessa Sekar Pambajeng (30/8J)

Bumi yang sudah menginjak masa tua
Pun meminta ketenangan
Meminta pada tuhan
Untuk mendamai sejenak

                Tuhan mengabulkan
                Sebab manusia sudah tak bisa terluruskan
                Luka menyerang
                Hiruk pikuk jalanan pun mulai melenggang

                                    Manusia berpikir
                                    Bawalah mereka yang paling dibutuhkan
                                    Nyatanya
                                    Bumi masih masih baik-baik saja tanpa manusia

                                                        Luka mendalam
                                                        Hidup manusia makin terendam
                                                        Saat yang tepat
                                                        Untuk berdoa dalam-dalam

Sadarlah, buka pikiran
Ini saatnya untuk melindungi
Bukan hanya diri sendiri
Namun juga demi saudara seisi bumi

                Berdoa, 
                berdiam, 
                bangkit mulai maju
                Membiarkan bumi menikmati ketenangan

                                    Menyembuhkan luka
                                    Meluruskan jiwa
                                    Menenangkan pikiran
                                    Memperbaiki kelakuan

                                                        Dan pasti suatu hari
                                                        Tuhan kan menyembuhkan
                                                        Bumi merindukan penduduknya
                                                        Manusia kembali ke jalan yang benar
                                                        Dan jiwa-jiwa pun mulai berdamai

Puisi : NAILAH AIDA_17_8J

PUISI  1

Bersatu Kita Melawan Virus Corona

Karya : Nailah Aida Apsarini/17/8J

Oh corona...
Kau telah menyebar kemana mana
Menyerang seluruh dunia
Tidak mengenal warna kulit dan ras

Untuk Indonesia marilah kita bersatu
Melawan virus corona
Patuhi anjuran pemerintah
Belajar, berkerja, dan beribadah di rumah saja 

Untuk dokter, perawatan, dan para medis
Terimakasih atas pengabdianmu
Berkerja dengan taruhan nyawa
Akhirnya kepada Tuhan jualah kita memohon
Agar virus corona segera berlalu 


PUISI  2


Dampak Virus Corona

Karya : Nailah Aida Apsarini/17/8J

Corona datang meluluhlantahkan kehidupan
Perekonomian terpuruk
Banyak pabrik tutup
PHK terjadi dimana – mana

Untuk Indonesia marilah kita bersatu
Bangkit melawan virus COVID-19
Jaga jarak dan hindari kerumunan
Gunakan masker bila keluar rumah

Ayo budayakan hidup bersih
Lindungi dirimu dan orang lain
Taatilah anjuran pemerintah
Agar pandemi corona segera berakhir








Pentigraf : NAILAH AIDA_17_8J

Akibat Sikap Acuh

Karya : Nailah Aida Apsarini (8J/17)


         Cilacap adalah sebuah kota kecil yang di padati oleh orang, pagi ini matahari muncul menyinari bumi, nyaris setiap hari begini, aku berdiam diri di kamar nyamanku, bermain hp kegiatanku setiap hari. Tiba-tiba aku dikejut berita yang muncul di hp ku, aku bergegas membacanya. Tetanggaku yang dulu tinggal di samping rumahku ternyata terkena virus corona. Dia bernama Ani, dia gadis yang baik, ramah, cantik, rambut panjang, berkulit kuning langsat. Ayahnya seorang pengangguran. Membaca beritanya  aku tersentuh tak terasa air mataku bergulir membasahi bantalku. Yang membuatku sangat sedih, keluarganya tak mempunyai uang untuk makan. Ibunya melamar pekerjaan kesana kemari namun, semua mengacuhkannya.
Seminggu yang lalu ia memasang status WhatsApp, “Aku tak takut pada virus corona,maka dari itu aku jalan jalan.” Kemudian hpnya mati tak dapat dihubungi.
         Aku tak bisa menjenguknya, karena memang sudah ketentuan kesehatan. Aku menghubungi keluarganya, mengucapkan belasungkawa. Lalu aku berinisiatif menggalang dana, allhamdulillah dalam seminggu dana yang terkumpul cukup banyak, lalu aku membeli sembako di warung dekat rumahku dan bergegas memberinya.
         Keluarganya sangat bersyukur mendapatkan sembako, lalu bergegas menghubungi ketua RT di rumahnya, “Pak,ada warga bapak yang tidak mampu, dan orang-orang sekitar acuh tak acuh, apakah bapak tidak tau?” Akhirnya warga sekitar membantu keluarga Ani dan membantu orang-orang yang tidak bisa makan karena adanya lockdown akibat virus corona yang sudah menyebar luas.

Puisi : AMELIA A._04_8J

Si  Mematikan

Karya : Amelia Archie P.S 8J/04


Covid-19 serangan mematikan di seluruh bumi
Kita dibuat buta virus menular dengan senang hati
Kehidupan tidak seperti biasa
Semua beristirahat dengan gemerlapnya kehidupan
Dibalik itu alam bersuka cita
Alam beristirahat dari egois nya manusia
Saatnya kita diam untuk membantu sang pahlawan
Ayolah manusia tentramkan hati diamlah sebentar

Pentigraf : AMELIA A._04_8J

Laki-Laki Besi Saya
Karya : Amelia Archi_8j_04

     Ayah..jika memperhatikan sosok Ayah sangatlah luar biasa tidak cukup hanya ditulis seperti ini,sosok Ayah memanglah sangat berharga dan seperti saya anak perempuan tunggal,Ayah memanglah cinta pertamaku dan seperti pahlawan.Bagi saya,Ayah saya adalah salah satu orang yang dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena leluconnya,nam na terkadang Ayah saya juga sedikit membuat saya kesal karena Ayah ketika bercanda suka membuat kesal,namun dengan hal itu yang membuat saya myanya tidak kaku seperti Ayah anak biasa tetapi juga bisa memposisikan sebagai teman untuk bercerita.
     Ayah saya bernama Triyogo Prihantoro,5 bersaudara yang tinggal di Secang,Magelang.Ayah saya kembar wajahnya sangat mirip hingga saat ini pun saya susah membedakan antara ayah dengan kembarannya memiliki kesamaan yang cukup banyak suara sama, cara tertawa sama,berjalannya pun sama,hanya yang membedakan Ayah saya lebih tinggi dibandingkan kembarannya.
     Ayah saya berkepribadian sangat disiplin,tegas,senang bercerita,mudah membuat orang lain tertawa, humoris,aangat  menyenangkan mempunyai Ayah seperti Ayah Triyogo Prihantoro.Ayah sehat sehat ya, terimakasih sudah membuat amel merasa jadi anak terbahagia di dunia ini.

Jumat, 22 Mei 2020

Pentigraf : KAYLA_7A_15

   Pentingnya Pendidikan Bagi Kehidupan

Karya : Kayla 7A_15
    
     Pendidikan adalah salah satu modal untuk mencapai kesuksesan. Pendidikan bukan hanya materi pelajaran yang diajarkan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah saja, tetapi ada juga pendidikan lainnya, contohnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter lebih menonjol kepada sikap s seorang seperti tata krama, sopan santun, dan masih banyak sikap baik lainnya. Maka dari itu pendidikan karakter lebih tinggi dibanding pendidikan materi. Tapi jangan salah pendidikan materi juga harus kita pelajari, seperti pepatah yang mengatakan "Kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina". Maka dari itu kita harus semangat menuntut ilmu agar tambah maju bangsa ini nantinya.
     Menurut Survei Pendidikan Dunia, Indonesia Indonesia mendapat peringkat 72 dari 77 negara. Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena banyak anak-anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya, ingin nikah muda, ataupun ingin bekerja saja karena sudah tidak ingin belajar. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia.
     Tetapi sekarang pemerintah sudah memiliki banyak program beasiswa ataupun bantuan untuk anak yang kurang mampu. Salah satu contohnya yaitu KIP (Kartu Indonesia Pintar). Jadi kita sebagai penerus bangsa harusnya kita semangat menuntut ilmu untuk masa depan kita sendiri dan juga masa depan bangsa.

Puisi : KAYLA_7A_15

Corona Virus Berbahaya

Karya : Kayla_7A_15

Cepatnya air sungai mengalir 
Kala hujan turun dengan lebat
Secepat itu pula ratusan nyawa hilang melayang
Karena virus yang sangat kecil bentuknya

Virus yang berasal dari Wuhan Cina
Virus yang sekarang tersebar luas sampai penjuru dunia
Virus yang belum di temukan obat penawarnya
Virus itu adalah virus Corona

Stay at home sekaranglah kuncinya
Kunci terjauh dari virus Corona
Ayo kita pasti bisa melawan Corona
Indonesia pasti bebas dari Corona

Pentigraf : NAJWA KIRANI_24_7B

Pendidikan

Oleh:Putri Najwa Kirani


Cerita ini berawal dari seorang anak yg bernama Rahma. Rahma adalah anak pintar, hampir semua mata pelajaran dikuasai oleh Rahma. Pada suatu hari di Sekolah, Ibu guru menjelaskan bahwa ada lomba cerdas cermat tingkat Provinsi Jateng, dan Ibu guru memilih siswa-siswanya. Dan akhirnya Rahma terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat Provinsi Jateng. Lomba pun dimulai setelah beberapa menit. Lomba selesai dan diumumkan juaranya, tidak menyangka akhirnya Rahma memenangkan lomba cerdas cermat tingkat provinsi Jateng. Ibu bapak Rahma sangat bangga dengan Rahma. Rahma mendapat piagam penghargaan dari Sekolah.


Di sekolah Rahma, sekarang teknologi sudah canggih. Maka dari itu Ibu Kepala Sekolah mengumumkan bahwa, "mulai sekarang kita belajar dengan Handphone ya anak-anak, besok semua murid harus membawa Handphone dari rumah masing-masing. Bel pulang pun berbunyi, Rahma bergegas pulang untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Ibu Kepala Sekolah tadi. Rahma pun berbicara kepada Bapaknya"Pak besok sekolah Rahma sudah mulai memakai Handphone untuk belajar,apakah Rahma boleh minta Bapak beliin Rahma Handphone?"Kata Rahma. Bapak Rahma pun menjawab Boleh nak,asalkan kamu harus lebih giat belajar.Rahma pun berkata "Asyikkk, Terimakasih Pak. Rahma pun lalai dengan janjinya kepada Bapaknya, Rahma setiap hari Asyikk bermain Game hingga dia lupa untuk belajar. Setiap hari dia bermain Game,dan Rahma pun lupa waktu. Pada waktu Penilaian akhir semester, nilai Rahma sangat jelek dan turun drastis dari yang sebelumnya. Rahma pun memeberitahu nilainya kepada Orang tuanya. Rahma pun berkata pada orang tuanya"Pak,Bu maafkan Rahma, nilai Rahma jelek dan turun drastis " kata Rahma. Ibu Rahma pun berkata"Gak papa nak, lain kali jangan lupa waktu kamu harus bisa membagi waktu antara belajar dengan main game nak" Kata ibu Rahma. Rahma pun berkata "iya bu, terimakasih atas nasihatnya"


Rahma pun mulai sadar bahwa yang diperbuatnya salah. Rahma menyesalinya. Semenjak Kejadian teesebut Rahma bisa membagi waktu antara belajar dengan bermain game.


SELESAI

 Sebagai anak bangsa, menjadilah jati diri yang baik dan harus menjadi contoh dalam generasi penerus bangsa yang semakin hebat dalam berfikir


Nama =Putri Najwa Kirani

Kelas =VIIB/24. SMPN 1 CILACAP




Pentigraf : KARIMA Z._17_7E

BUNGAKU PENYEJUK HATIKU

Karya : Karima Zafa Syaharni 17/7E

    Sebulan sudah aku mengurung diri dirumah karena adanya salah covid-19 ini. Sekolah libur, namun kegiatan belajar masih tetap ada melalui online. Semakin lama semakin bosan berada di dalam rumah.
    Suatu pagi aku keluar rumah berjemur diri untuk menghilangkan virus yang menempel. Aku liat di depan rumah ada sedikit halaman yang gersang. 
    Sambil kuperhatikan, akhirnya aku mendapatkan ide untuk merawat dan menanami tanaman bunga bunga yang sangat cantik yang bisa menghilangkan rasa bosan ini. Langsung saja aku mengambil cangkul untuk menggemburkan tanah dan ngambil tanyakan bunga yang sudah ada untuk dipindahkan ke tambah yang baru digembur itu. Kusiram  bunga bunga cantik itu sumpaya segar.
    Seminggu sudah aku merawat bunga itu. Hasilnya bunga itu mulai kejar berwarna warni segitu indah dipasang mata dan menyejukkan hati.

Puisi : KARIMA Z._17_7E

YANG TERKARANTINA

Karya : Karima Zafa Syaharani 17/7E

Sejak tiga bulan yang lalu engkau datang
Kau membawa pertama di seluruh dunia
Banyak korban yang engkau silahkan
Dari balita hingga orang tua menjadi sasarannya

Mengapa engkau mengusik hidup ini
Kami yang sedang belajar menurut umum
Hingga harus mengurung diri dirumah
Sampai waktu yang tak terhindar

Aku sudah rindu dengan teman
Aku sudah rindu dengan ibu dan bapak guru
Aku sudah rindu dengan sekolahan 
Namun aka daya semua harus dirumah saja

Puisi_Pentigraf : TRI DARA_31_7B


BERBAGI 

OLEH: Tri Daradista》31》VIIB

      Namaku Azmi, anak dari orang kurang mampu.Aku putus sekolah sejak bapakku meninggal. Pada saat perjalanan pulang dari pasar ,tiba-tiba dijalan ,aku dipanggil seseorang dari belakang.”Nak,tunggu nak!”.panggil nenek di blakang ku”Iya,ada apa nek!”,jawabku.Melihatnya aku tak tega,sebab ia seperti orang yang tidak terurus.
       “Nenek ingin meminta tolong,nenek sudah 1 minggu tidak makan ,bolehkah nenek minta uang untuk beli makan,nak!”kata nenek itu.Sebenarnya aku ada 10 ribu,tapi uang itu sisaan belanja.Nanti jika aku kasih uang ini ibu bisa marah ,karna ibu lagi gak punya uang.”Gimana ya,aku bingung banget.” lirihku dalam hati.Tapi aku ingat pesan guruku,kita harus saling tolong menolong.Lalu aku beri 10ribu nya pada nenek dengan ikhlas.”Nek aku punya 10 ribu saja,semoga nenek bisa makan dengan uang ini.”kataku ,sambil memberi uang itu.”Terimakasih sekali nak!”kata nenek.Aku pun lanjutkan perjalananku.
       Sesampainya dirumah”Bu ,ini belanjaan nya.”kataku.”Azmi tunggu,mana kembaliannya!”pangil ibu.Lalu aku ceritakan kejadian tadi pada ibu.”Apa!,kamu ini gimana sih kita kan orang miskin,ga punya uang,buat apa sodakoh hahh!”kata ibu sambil menjewerku.Tiba-tiba ada yang mengetok pintu.Aku bukak tidak ada orang,tapi ada sebuah kardus kecil,aku buka.Yaampun,isinya uang .Ibu melihat uang itu,sambil menangis dan memelukku.Ini pasti balasan Tuhan dari uang 10 ribu tadi .Terimakasih Tuhan.Aku percaya dengan berbagi,uang tidak akan penah habis.

Cilacap,25 Mei 2020  
Penulis : Tri Daradista》31》VIIB
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Menulis Puisi
TELAH DATANG CORONA
OLEH :  Tri Daradista》31》VIIB
Corona...
Kau datang ke bumi ini
Sebagai wabah penyakit
Karena mu aku sangat sedih
Kau datang sebagai kehancuran 

Corona...
Sejak engkau datang,
Aku tak bisa keluar rumah
Hanya bisa mengurung diri di dalam rumah
Mengunci semua pintu dan jendela

Corona...
Untuk apa kehadiranmu
Apakah untuk menghebohkan jagad raya ini
Kau tlah menjauhkan kami
Dari kerumunan-kerumunan

Telah datang Corona...
Pengusik ketenangan kami
Siapapun engkau,
Kami tidak takut
Karena kami punya iman di dalam jiwa.










                

Puisi_Pentigraf_Umami RM_7A_30

PUISI

Terasingkan Oleh Virus 

Karya : Umami R. M. 


Aku... 
Sudah lama di negeri orang 
Lalu, kembali ke kampung halaman
Namun, pulangku membawa kecemasan

Karena... 
Akibat virus yang merajalela
Membuat panik semua orang 
Salah satunya keluargaku

Hingga, akupun merasa teransingkan
Semua orang menakutiku
Seakan, akulah pembawa virus
Virus, kumohon cepatlah kau pergi



PENTIGRAF

Ramadhan Dalam Kesunyian

Karya : Umami R. M. 

   Dikisahkan dalam sebuah gubug reog yang bertiangkan bambu rapuh dan hampir roboh, beratapkan anyaman bambu tertata rapih namun sudah berlubang. Mereka tinggal hanya berdua sejak 8 tahun lamanya karena sang Ibu telah tiada sejak kelahiran Dhania. 
      Kini tepat tahun ke-8 Dhania dan Pak Rama merasakan ramadhan dalam kesunyian. Setiap momen seperti ini, Dhania selalu bertanya kepada Bapaknya tentang sosok Ibu yang selalu dirindukannya. Dhania bertanya kepada Bapak, "Pak, aku sering sekali rindu Ibu." Bapak menjawab, " Untuk apa merindukan seseorang yang selalu disini? “ Bapak meletakkan tangannya di dada Dhania sambil berkata " Yang lebih dekat dari pandangan matamu sendiri" Lalu Dhania menjawab dengan heran dan bingung "Aku tidak mengerti Pak, " "Suatu hari Nak, kau akan memahami merindukan kehadiran fisik adalah kerinduan paling rendah. " Dhania bertanya kembali "mengapa Ibu pergi terlalu cepat ? " Bapak menjawab dengan lembut "Karena ruhnya terlalu murni disangga tubuh manusia yang terbatas. Kehidupan di bumi bukan tempat yang cocok untuk sosok yang lebih murni dari Malaikat, maka Tuhan menyuruhnya pulang. " Dhania terdiam dan merenungi perkataan Bapaknya. 
     Dhania yang masih terjaga dalam renungannya ditemani  suara takbir yang bersahutan. Bapak Dhania menghampiri lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dhania menangis terharu. Dihari lebaran berikutnya, Dhania tak pernah menanyakan tentang Ibu kepada Bapaknya. Dhania berusaha merelakan kepergian Ibunya.

Umami Rosana Mukhson 
7A/30

Putri_Najwa_Kirani_Puisi, 7B

Kedatangannya

Oleh:Putri Najwa Kirani


Hari ini penuh dengan kekhawatiran

Dimana dia terbaik selalu dipanjatkan

Bekerja,beribadah dan belajar sudah dirumahkan

Menunggu Nasib baik penuh harapan


Oh virus corona…..

Engkau datang dari China

Engkau telah ada dimana -mana

Kehadiranmu membuat resah dunia


Mungkin ini caranya 

Alam berbicara

Kepada kita semua

Beristirahat dirumah untuk sementara


Nama:Putri Najwa Kirani

Kelas/absen:VIIB/24. SMPN 1 Cilacap



PUISI & PENTIGRAF BUDIHARJO P.A.Y _ VIIA_04


Pahlawan Kesehatan
Oleh : Budiharjo Prasetyo Aji Yudhanto

Dimasa pandemi ini 

Engkau tegak berdiri

Tak goyah sedikitpun untuk mengabdi

Kepada ibu pertiwi

Para dokter dan perawat kesehatan

Jasamu tak pernah terlupakan

Keikhlasan dan ketulusan pengabdian

Semoga menjadi amal di hari baan Tuhan

PENTIGRAF :
                Pahlawan Kesehatan

     Bu Dewi adalah salah satu perawat yang menangani virus corona. Dia tinggal di sebuah kos - kosan kecil yang berada di tengah permukiman warga. Setiap pagi dia berangkat kerja dan pulang tengah malam.
     Ibu kosnya mulai khawatir bagaimana jika Bu Dewi tertular virus corona dari pasien - pasiennya? Lalu dia bertanya pada Bu Dewi, "Apakah Bu Dewi baik - baik saja?" Setiap hari ibu kosnya selalu bertanya pada Bu Dewi seperti itu, tetapi jawaban Bu Dewi selalu sama dia menjawab bahwa dia baik - baik saja. Semakin hari warga pun semakin resah karena keberadaan Bu Dewi, mereka takut Bu Dewi membawa virus dan menulari warga, warga pun serentak ingin mengusir Bu Dewi dari kos - kosannya. Saat Bu Dewi pulang ke kos - kosannya tiba - tiba terdapat kerumunan warga yang berteriak, "Bu Dewi pergi dari sini." Dia kaget saat mendengarnya, mereka mengancam apa bila tidak segera pergi maka mereka akan membakar barang - barang Bu Dewi.
     Bu Dewi pun pasrah dan akan segera pergi. Saat dia sedang mengemasi barang - barangnya tiba - tiba ada salah satu warga yang baru sembuh dari virus corona, dia berkata, "Saya adalah pasien virus corona yang baru sembuh, saya melihat perjuangan Ibu Dewi saat merawat pasien - pasiennya, dia bekerja mati - matian dan tanpa takut tertular virus corona dari pasiennya, dia adalah pahlawan kesehatan." Setelah mendengar penjelasannya warga pun terharu dan tidak jadi mengusir Bu Dewi, mereka malah memberi tepuk tangan dan semangat pada Bu Dewi.
 


Puisi & Pentigraf | Aji Tigana

Puisi 

Semua bermula dari Wuhan
Menyebar kemana-mana tanpa pemberitahuan
Melampaui batas negara dan jabatan
Memapar segala bangsa tanpa ampun
Hingga bangsa kita pun di serang oleh dia
Dan orang-orang tinggal di rumah
Dan baca buku
Dan dengarkan
Dan mereka beristirahat
Dan berolahraga
Dan membuat karya seni dan dimainkan
Dan belajar cara-cara baru
Dan berhenti dan dengarkan

Pentigraf

Ningsih berjalan tertatih-tatih, menyusuri lorong gelap di sebuah kampung terpencil. Mata sendunya menatap jalang pada apapun yang lalu lalang di hadapan ketika telah tiba di depan lorong. Keinginan menggebu telah menanti untuk terpuaskan. Dahaga yang sungguh menyiksa.

Juwita, kembang desa yang masih belia itu terlihat dari jauh hendak melintasinya. Senyum merekah, mekar di kedua sudut bibir. Pertanda penantiannya akan segera berakhir. "Hai Juwita, lihat Aku!" serunya sebelum gadis cantik itu berlalu terlalu jauh. 

Mendengar namanya disebut, ia segera menoleh. Senyuman Ningsih berdaya magis. Juwita tak berdaya ketika Ningsih menarik tangannya masuk ke dalam lorong gelap itu. Tak berapa lama kemudian, dari mulut lorong itu keluarlah seorang gadis cantik berparas sendu. Ningsih tersenyum bahagia. 

Nama : Aji Tigana H. P
Kelas : 8i
No. Absen : 2 

PUISI & PENTIGRAF TEGAR YP_VIIA_28

 PergilahCorona
Oleh:TegarYogaPrakoso

Semua berasal dari cina
Menyebar keseluruh dunia begitu cepatnya
Sekarang engkau sudah ada di pulau jawa
Sudah bosan rasanya untuk di rumah saja

Corona... kumohon pergilah
Hati ini sudah sangat gelisah
Sekarang aku hanya bisa pasrah
Dan tak berani untuk keluar rumah

Corona...engkau memakan banyak korban
Banyak juga orang yang kehilangan jabatan
Semoga engkau pergi setelah ramadhan
Agar aku bisa berkumpul bersama rekan

BerawaldariCorona
Oleh:TegarYogaPrakoso

Engkau berasal dari wuhan
Engkau membuatbhari-hariku terasa bosan
setiap hari kau membawa kekhawatiran
Hanya meningkatkan iman yang membuatku aman

Corona...oh Corona...
Engkau telah menyerang Indonesia
Negeri yang amat kucinta
Negeri dimana aku terlahir kedunia

Berawal dari engkau
Semua menjadi kacau
Sudah tak ada lagi senda gurau
Engkau membuat hatiku galau

Gerakan Penghijauan

    Saat berangkat sekolah, Rizky bertemu keempat teman akrabnya, yaitu, Wahyu, Firman, Adit, dan Fais. Mereka sudah berteman sejak di bangku TK. "Hai, teman-teman!", sapa Rizky. "Oh, halo, Rizky", jawab mereka berempat. Mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

    Setelah mereka sampai di gerbang sekolah ,diseberang mereka melihat ada sebuah tanah lapang bekas penebangan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Mereka langsung menghampiri tanah lapang
tersebut. "Lihatlah!Apa maksud orang dewasa menebangi pohon tanpa izin resmi dari pemerintah?" ,ucap Firman dengan kesal. "Apa mereka tidak memikirkan dampak pada masa yang akan datang?" , 
Adit mengepalkan tangannya. "Sudah-sudah, besok kan kita libur, bagaimana kalau kita menanam kembali tempat ini?"
, saran Rizky. "Boleh juga tuh, ayo kita tanam kembali tanah yang tandus ini!"
, seru Fais. "Eh, yuk balik ke sekolah, nanti kalau kita terlambat bakal dihukum loh."
, ujar Rizky. Akhirnya
mereka berlima kembali kesekolah untuk mengikuti pembelajaran.


Esok hari, matahari sudah sedikit muncul di
ufuk timur, mereka menuju ke tanah lapang tersebut untuk menanam kembali. "Sudah siap teman teman?", tanya Fais. "Sudah dong, hehehe....", balas Wahyu. Mereka langsung mengeluarkan alat-alat untuk menanam serta tumbuhan yang akan
ditanamnya. Mereka menanam bibit pohon pisang dan jambu. "Ayo teman-teman mulai menanam pohon!", seru Firman dengan penuh semangat. "Ayo!", sorak mereka berempat. Akhirnya mereka mulai menanam lahan tersebut agar hijau kembali.