Sabtu, 30 Mei 2020
Pentigraf : TEGAR BAYU_26_8J
Pentigraf : TRANGGANA PURI_28_8J
Puisi : TRANGGANA PURI_28_8J
Puisi : TEGAR BAYU_26_8J
Pentigraf 4 : Sukarni_64
Pentigraf : YEHEZKIEL_32_8J
Pentigraf 3 : Sukarni_64
SAAT RAMADAN TIBA
Karya : Sukarni
Dengan santun Marbut Jaki mempersilakan
orang-orang untuk salat Zuhur di rumahnya masing-masing. “Siapa yang menyuruh
menutup masjid? Ini rumah Allah, selama kita di rumah-Nya, kita akan dijaga-Nya,”
jawab Haji Mukri. Siang itu Haji Mukri bersama beberapa orang berhasil salat di
masjid. Jaki yang yatim piatu dan masih muda itu tak punya kekuatan apa pun
untuk menghentikan langkahnya.
Sudah tiga hari Ustadz Arif
sakit. Ketua takmir masjid itu memasrahkan urusan masjid kepada Marbut Jaki. Ia
jugalah yang menyuruh Jaki untuk menyampaikan pada warga agar memenuhi anjuran
Pemerintah yaitu berdiam di rumah. Semua orang harus patuh agar penyebaran corona
bisa dihentikan. Keributan serupa siang terjadi lagi. Kali ini Haji Mukri
mencak-mencak dan membuka paksa pintu masjid yang sudah ditutup Jaki. Dengan
lantang ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa.
Saat tangan Haji Mukri menjangkau pintu masjid, terdengar suara batuk-batuk
Ustadz Arif. Mengenakan masker, tertatih-tatih menaiki undakan masjid. Kerumunan
menyibak, menjaga jarak. Haji Mukri merah padam. Nyalinya ciut. Kerumunan
diminta bubar dan salat di rumah. Saat semua orang sudah membalikkan badan,
tiba-tiba ada yang bertanya, apakah ada salat tarawih saat Ramadan nanti.
Semua
orang kembali berbalik dan menatap Ustadz Arif. “Pulanglah kalian, kita
perbaiki akidah kita dengan salat dan berdoa di rumah. Jangan tanya, Ramadan
nanti ada tarawih tidak, tapi mari kita merenung diri, Ramadan nanti kita masih
ada atau tidak?” jawabnya. Tanpa kata, kerumunan itu membubarkan diri.
Tentang
Penulis
Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta
warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung
dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan
Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota.
Hasil
karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.
Alamat
surel: sukarni.angel64@gmail.com.
Pentigraf 2 : Sukarni_64
ODP
Oleh: Sukarni
Vonis
dokter bahwa kami sekeluarga dalam pemantauan (ODP) membuatku tercenung. Hal
pertama yang harus aku beri tahu adalah keluargaku, saudara, dan atasanku.
Sebagai guru, dalam masa lock down
ini aku masih harus masuk kerja untuk piket. Jika aku tetap masuk, aku khawatir
menjadi carrier. Aku tidak mau
teman-temanku sakit karenaku.
Malam
harinya, kuberanikan diri menyampaikan pada pada Pak Gondo, Kepala Sekolahku.
Aku tidak meneleponnya, tetapi WA. Aku memberi keleluasaan pada beliau untuk
memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalahku.
Satu lagi yang aku beri tahu kondisiku yaitu Humas. Pak Gondo melarangku memberi
tahu siapa pun tentang kondisiku. Dua hari kemudian, di grup sekolah ada edaran
dari Humas tentang piket harian yang dimulai minggu depan. Namaku tidak ada.
Tapi, tunggu dulu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang yang usianya di atas 55
tahun tidak diikutsertakan dalam tugas piket. Umurku 56 tahun.
Aku
tersenyum lega. Dalam hati aku berterima kasih pada Pak Gondo yang telah menyelamatkan
aku. Aku memuji kebijakannya. Tak bisa kubayangkan jika semua orang mengetahui
statusku. Mungkinkah aku ditolak pulang ke rumahku?
Tentang
Penulis
Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta
warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung
dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan
Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota.
Hasil
karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.
Alamat
surel: sukarni.angel64@gmail.com.