Sabtu, 30 Mei 2020

Pentigraf : TEGAR BAYU_26_8J

BERTAHAN HIDUP  

    Brig mengangkat kedua tangannya dengan lemah. Meraba-raba benda di atas kepalanya yang lelah terbaring. Jemari kecilnya menyentuh lingkaran korona keemasan hadiah untuk ulang tahunnya yang ke-enam tahun dua hari lalu. Pesta itu telah berlalu dan menyisakan hadiah tambahan tak terduga, virus korona di dalam tubuh kecilnya.

      “Princess pasti kuat!” Tulisan itu tertempel di dinding bangsal rumah sakit sejauh juluran tangannya. Ada foto dirinya, Mama, dan almarhum Papa di kertas putih itu. Mama yang menuliskannya.

      “Apakah Brigitta tahun depan masih bisa berulang tahun, Ma?” tanya Briggita ketika Mamanya didesak oleh perawat untuk segera meninggalkan bangsal itu. Mama belum menjawabnya sampai sekarang. 

Pentigraf : TRANGGANA PURI_28_8J

LABORATORIUM

      Tom tertawa kecil. Dia baca sekali lagi  pujian spesial dari komandannya. Puas rasanya. Kerja 340 hari di dalam laboratorium bawah tanah yang melelahkan, penuh tantangan, dan risiko besar telah dia lalui dengan hasil amat gemilang. Dia seruput kopi putihnya sembari meninggalkan lima lapis pakaian laboratoriumnya.

      “Dunia akan berterima kasih kepadamu, Doktor hebat. Virus Korona telah berhasil kamu ubah menjadi varian baru yang tidak lagi liar. Hanya berpindah dari orang ke orang. Tak bisa berpindah melalui udara. Mudah disimpan dan dipindahkan di dalam suhu normal, serta hanya berefek pada mereka yang rendah daya tahan tubuhnya. Dunia militer berterima kasih padamu, Doktor!”

      Esok, saya boleh memulai cuti panjang, kata Tom dalam hati sembari menengok tiket penerbangan Royal Class bertanggal 1 Maret 1995.

Puisi : TRANGGANA PURI_28_8J

TEGURAN SEMESTA

Hadirmu bagai sebuah pilu
Duka dalam yang tak menentu
Hadir mengisi jiwaku
Membuat diriku diam tak berseru

Mengapa kau begitu tega
Datang mengambil tanpa kira
Pergi begitu saja tanpa lara 
Membuat hati ini sedih tanpa tawa

Puisi : TEGAR BAYU_26_8J

PERGI KAU VIRUS CORONA


Kau datang tanpa salam
Tanpa salampun kau  buat geger bumi ini
Kau buat semua orang membicarakan mu
Membicarakan kedatanganmu yang tak diharapkan

Satu persatu tenaga medis kau buat tumbang 
Mereka berjuang di garis terdepan
Berjuang untuk membuatmu pergi
Berjuang untuk melindungi kami dari dirimu
Rasa lelah lapar untuk membantu korbanmu 
Cepat lah kau pergi virus Corona

Pentigraf 4 : Sukarni_64

Antara Damalang – Pasar Gede 

Oleh: Sukarni 
 
        Angkot jurusan Damalang – Pasar Gede berjalan perlahan. Dalam angkot panas dan pengap karena ada penumpang yang merokok. Aku kesal sekali. 

        Di depan RSUD, dua penumpang naik. Belum lima menit, seorang nenek membawa ember tempat ikan masuk. Hidungku tersumbat, bau amis yang luar biasa menyeruak, membuatku sesak napas. Nenek itu mengambil tempat persis di sebelahku. Aku berusaha menjauh, tapi tak ada tempat lagi. Yang bisa kulakukan hanya menutup hidung. Bau keringat campur amis membuatku makin pening. Sayang, nenek ini cerewet sekali. Ia menanyaiku macam-macam. Aku menjawab sekenanya sambil membuang muka. Sampai Kebon Baru, kondektur menarik karcis. Betapa terkejutnya aku ketika kubuka tas ternyata dompetku tak ada. Sampai semua anakan kugeledah, tak  kutemukan selembar uang pun. Wajahku memanas, bingung. Kulihat nenek itu menarik ujung stagen-nya, mengeluarkan uang recehnya, menghitung, dan menyerahkannya pada kondektur. Ia hendak membundelnya lagi ketika tiba-tiba ia melihatku. Ia tentu melihat wajahku yang pucat dengan tas masih terbuka. Ia tidak jadi membundel ujung stagen-nya. “Ini ongkos angkot Neng ini,” katanya. “Hati-hati, Neng!” katanya sebelum berlalu.  

        Leherku sakit, tak bisa berkata-kata.  Mataku berkaca-kaca.... Ya Tuhan..., maafkan aku, hari ini aku belajar sesuatu.  

Pendapa Kabupaten Cilacap, 7 September 2016 

Pentigraf : YEHEZKIEL_32_8J

Rencana Bermain Badminton Bersama Teman

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


     Pagi ini cuaca cerah,sambil berjalan di koridor sekolah menuju kelas,aku mangingat-ingat adakah pr yang belum ku kerjakan.Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang yang membuatku terkejut,ternyata itu adalah Nicho teman baikku.Nicho mengajakku bermain badminton pukul 2 siang.

     Selama pelajaran aku memikirkan ajakkan Nicho.Aku senang bermain badminton,tapi aku ragu apakah ibuku mengijinkan aku karena pukul 2 siang adalah waktu untuk istirahat sepulang sekolah.

     Sepulang sekolah,aku memarkirkan sepedaku di luar rumah.Saat masuk rumah aku ditanya ibuku kenapa sepedaku tidak dibawa masuk ke dalam rumah.Aku mengatakan alasannya karena aku mau main badminton pukul 2 siang nanti bersama Nicho ibuku mengijinkan aku untuk pergi bermain badminton bersama Nicho. Tapi aku harus makan siang dan istirahat walau sebentar.Lega rasanya karena aku diijinkan oleh ibuku.Memang orang tua kadang membatasi anaknya tapi itu pasti ada alasannya.Itu juga demi manfaat anaknya.Kalau anaknya taat orang tua pasti lebih banyak memberikan keleluasaan.

Pentigraf 3 : Sukarni_64

SAAT RAMADAN TIBA

Karya : Sukarni

        Dengan santun Marbut Jaki mempersilakan orang-orang untuk salat Zuhur di rumahnya masing-masing. “Siapa yang menyuruh menutup masjid? Ini rumah Allah, selama kita di rumah-Nya, kita akan dijaga-Nya,” jawab Haji Mukri. Siang itu Haji Mukri bersama beberapa orang berhasil salat di masjid. Jaki yang yatim piatu dan masih muda itu tak punya kekuatan apa pun untuk menghentikan langkahnya.

        Sudah tiga hari Ustadz Arif sakit. Ketua takmir masjid itu memasrahkan urusan masjid kepada Marbut Jaki. Ia jugalah yang menyuruh Jaki untuk menyampaikan pada warga agar memenuhi anjuran Pemerintah yaitu berdiam di rumah. Semua orang harus patuh agar penyebaran corona bisa dihentikan. Keributan serupa siang terjadi lagi. Kali ini Haji Mukri mencak-mencak dan membuka paksa pintu masjid yang sudah ditutup Jaki. Dengan lantang ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Saat tangan Haji Mukri menjangkau pintu masjid, terdengar suara batuk-batuk Ustadz Arif. Mengenakan masker, tertatih-tatih menaiki undakan masjid. Kerumunan menyibak, menjaga jarak. Haji Mukri merah padam. Nyalinya ciut. Kerumunan diminta bubar dan salat di rumah. Saat semua orang sudah membalikkan badan, tiba-tiba ada yang bertanya, apakah ada salat tarawih saat Ramadan nanti.

            Semua orang kembali berbalik dan menatap Ustadz Arif. “Pulanglah kalian, kita perbaiki akidah kita dengan salat dan berdoa di rumah. Jangan tanya, Ramadan nanti ada tarawih tidak, tapi mari kita merenung diri, Ramadan nanti kita masih ada atau tidak?” jawabnya. Tanpa kata, kerumunan itu membubarkan diri.




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.


Pentigraf 2 : Sukarni_64

ODP

Oleh: Sukarni

            Vonis dokter bahwa kami sekeluarga dalam pemantauan (ODP) membuatku tercenung. Hal pertama yang harus aku beri tahu adalah keluargaku, saudara, dan atasanku. Sebagai guru, dalam masa lock down ini aku masih harus masuk kerja untuk piket. Jika aku tetap masuk, aku khawatir menjadi carrier. Aku tidak mau teman-temanku sakit karenaku.

            Malam harinya, kuberanikan diri menyampaikan pada pada Pak Gondo, Kepala Sekolahku. Aku tidak meneleponnya, tetapi WA. Aku memberi keleluasaan pada beliau untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalahku. Satu lagi yang aku beri tahu kondisiku yaitu Humas. Pak Gondo melarangku memberi tahu siapa pun tentang kondisiku. Dua hari kemudian, di grup sekolah ada edaran dari Humas tentang piket harian yang dimulai minggu depan. Namaku tidak ada. Tapi, tunggu dulu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang yang usianya di atas 55 tahun tidak diikutsertakan dalam tugas piket. Umurku 56 tahun.

            Aku tersenyum lega. Dalam hati aku berterima kasih pada Pak Gondo yang telah menyelamatkan aku. Aku memuji kebijakannya. Tak bisa kubayangkan jika semua orang mengetahui statusku. Mungkinkah aku ditolak pulang ke rumahku?




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.


Puisi : ARMENIA_03_7A

Indonesia yang Suram

Karya : Armenia Zendy Purwanto (7A/03)



Negaraku 
Kini engkau sedang dilanda oleh virus
Virus yang sangat mematikan
Virus yang membunuh rakyat mu secara perlahan


Kini negara mu menjadi sepi dan suram
Tiada manusia yang berkeliaran
Tiada manusia yang melakukan kegiatan di luar
Hanya angin yang bertiup melambai


Hening lingkungan dan kota
Duka yang sangat lara
Hanya bisa berharap negara mu kembali pulih
Duka ini pasti cepat selesai


Pentigraf : ANASTASYA_03_7E

PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN 
by. Anastasya Nur Safitri 
Kelas 7E 
No. Absen 03 


Pada suatu hari di daerah lingkungan tempat tinggali, ada seorang anak tetanggaku yg sakit, dia sangat cantik tapi sayangnya dia dan keluarganya tidak suka membersihkan rumah.

Beberapa hari kemudian anak itu jatuh sakit. Dia terkena penyakit Demam Berdarah(DB), suhu badannya sangat panas (demam). Tidak lama kemudian dia dibawa oleh orangtuanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, anak itu dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan medis dari dokter dan perawat.

Anak itu diambil darahnya untuk di cek di laboratorium, dan hasil nya positif Demam Berdarah (DB). Dokter menyarankan agar anak tersebut harus opname agar bisa dipantau oleh dokter dan perawat, agar suhu tubuhnya kembali normal dan trombositnya cepat naik, supaya anak tersebut cepat sembuh. Dokter mengatakan kepada orang tua anak tersebut kalau harus menjaga kebersihan dan makan dengan teratur agar terhindar dari penyakit, apalagi DB disebabkan oleh gigitan nyamuk, kalau kita tidak benar-benar membersihkan lingkungan, karena nyamuk akan senang di tempat yg kotor. Setelah mendengar dari dokter orang tua anak tersebut mulai menerapkan hidup bersih kaerna kesehatan yang paling utama. Bahagia berawal dari lingkungan yang bersih dan sehat.