Minggu, 31 Mei 2020

Puisi : JONATHAN/8J/13


Virus Corona datang menerjang
Menyebar luas tanpa diketahui
Menembus dunia yang tak terbatas
Membuat segala bangsa geger 

Setiap hari penuh dengan kekhawatiran
Nyawa setiap orang mulai hilang
Tenaga medis berjuang sebaik mungkin
Bahkan mengorbankan nyawanya

Para ahli berusaha dengan giat
Untuk menemukan obat dan vaksin
Segala doa telah dipanjatkan
Akhirnya kepada Tuhan jualah kami memohon

Sabtu, 30 Mei 2020

Puisi : MAULANA D._22_8I

CORONA
Karya : Maulana Dicky A (8I/22)

Setiap hari penuh kekhawatiran....
Segala doa doa terbaik sudah di panjatkan....
Semua kegiatan aktivitas sudah di rumahkan....
Semua tenaga medis sudah berjuang sebaik mungkin....

Virus ini sudah menyebar luas hingga kepelosok....
Melanda tanah suci yaitu mekkah....
Memapar seluruh umat manusia....
Dan menyebar luas tanpa di ketahui....

Ya allah, berikanlah kuasamu....
Untuk menemukan vaksin covid
Agar umat manusia dapat beribadah di tanah suci lagi....
Semoga kau mengabulkannya, Aminnn....

Pentigraf : MAULANA D_22_8I

Tersangka ODP

Karya : Maulana Dicky Adriansyah (8i/22)

        Dari hasil rapid tes, ustad syaiful dinilai negatif covid 19, tetapi banyak orang yang belum percaya jika ustad syaiful negatif covid 19 karena beliau baru pulang dari Gowa,Sulawesi habis hijrah
        Warga meminta ustad syaiful isolasi mandiri di dalam rumahnya. Karena warga khawatir jika beliau positif, karena belum melakukan tes swab. Tetapi warga sekitar selalu membantu kebutuhanya dan mendo'a kannya selalu agar ustad syaiful negatif covid 19. Esok harinya ustad di periksa dan di tes swab, dari hadilnya tertulis negatif covid.
       Dan akhirnya warga tersenyum lega. Ustad syaiful pun berterimakasih pada tetangganya karena sudah di bantu keluarganya dan di doa kan selalu.

Pentigraf : TEGAR BAYU_26_8J

BERTAHAN HIDUP  

    Brig mengangkat kedua tangannya dengan lemah. Meraba-raba benda di atas kepalanya yang lelah terbaring. Jemari kecilnya menyentuh lingkaran korona keemasan hadiah untuk ulang tahunnya yang ke-enam tahun dua hari lalu. Pesta itu telah berlalu dan menyisakan hadiah tambahan tak terduga, virus korona di dalam tubuh kecilnya.

      “Princess pasti kuat!” Tulisan itu tertempel di dinding bangsal rumah sakit sejauh juluran tangannya. Ada foto dirinya, Mama, dan almarhum Papa di kertas putih itu. Mama yang menuliskannya.

      “Apakah Brigitta tahun depan masih bisa berulang tahun, Ma?” tanya Briggita ketika Mamanya didesak oleh perawat untuk segera meninggalkan bangsal itu. Mama belum menjawabnya sampai sekarang. 

Pentigraf : TRANGGANA PURI_28_8J

LABORATORIUM

      Tom tertawa kecil. Dia baca sekali lagi  pujian spesial dari komandannya. Puas rasanya. Kerja 340 hari di dalam laboratorium bawah tanah yang melelahkan, penuh tantangan, dan risiko besar telah dia lalui dengan hasil amat gemilang. Dia seruput kopi putihnya sembari meninggalkan lima lapis pakaian laboratoriumnya.

      “Dunia akan berterima kasih kepadamu, Doktor hebat. Virus Korona telah berhasil kamu ubah menjadi varian baru yang tidak lagi liar. Hanya berpindah dari orang ke orang. Tak bisa berpindah melalui udara. Mudah disimpan dan dipindahkan di dalam suhu normal, serta hanya berefek pada mereka yang rendah daya tahan tubuhnya. Dunia militer berterima kasih padamu, Doktor!”

      Esok, saya boleh memulai cuti panjang, kata Tom dalam hati sembari menengok tiket penerbangan Royal Class bertanggal 1 Maret 1995.

Puisi : TRANGGANA PURI_28_8J

TEGURAN SEMESTA

Hadirmu bagai sebuah pilu
Duka dalam yang tak menentu
Hadir mengisi jiwaku
Membuat diriku diam tak berseru

Mengapa kau begitu tega
Datang mengambil tanpa kira
Pergi begitu saja tanpa lara 
Membuat hati ini sedih tanpa tawa

Puisi : TEGAR BAYU_26_8J

PERGI KAU VIRUS CORONA


Kau datang tanpa salam
Tanpa salampun kau  buat geger bumi ini
Kau buat semua orang membicarakan mu
Membicarakan kedatanganmu yang tak diharapkan

Satu persatu tenaga medis kau buat tumbang 
Mereka berjuang di garis terdepan
Berjuang untuk membuatmu pergi
Berjuang untuk melindungi kami dari dirimu
Rasa lelah lapar untuk membantu korbanmu 
Cepat lah kau pergi virus Corona

Pentigraf 4 : Sukarni_64

Antara Damalang – Pasar Gede 

Oleh: Sukarni 
 
        Angkot jurusan Damalang – Pasar Gede berjalan perlahan. Dalam angkot panas dan pengap karena ada penumpang yang merokok. Aku kesal sekali. 

        Di depan RSUD, dua penumpang naik. Belum lima menit, seorang nenek membawa ember tempat ikan masuk. Hidungku tersumbat, bau amis yang luar biasa menyeruak, membuatku sesak napas. Nenek itu mengambil tempat persis di sebelahku. Aku berusaha menjauh, tapi tak ada tempat lagi. Yang bisa kulakukan hanya menutup hidung. Bau keringat campur amis membuatku makin pening. Sayang, nenek ini cerewet sekali. Ia menanyaiku macam-macam. Aku menjawab sekenanya sambil membuang muka. Sampai Kebon Baru, kondektur menarik karcis. Betapa terkejutnya aku ketika kubuka tas ternyata dompetku tak ada. Sampai semua anakan kugeledah, tak  kutemukan selembar uang pun. Wajahku memanas, bingung. Kulihat nenek itu menarik ujung stagen-nya, mengeluarkan uang recehnya, menghitung, dan menyerahkannya pada kondektur. Ia hendak membundelnya lagi ketika tiba-tiba ia melihatku. Ia tentu melihat wajahku yang pucat dengan tas masih terbuka. Ia tidak jadi membundel ujung stagen-nya. “Ini ongkos angkot Neng ini,” katanya. “Hati-hati, Neng!” katanya sebelum berlalu.  

        Leherku sakit, tak bisa berkata-kata.  Mataku berkaca-kaca.... Ya Tuhan..., maafkan aku, hari ini aku belajar sesuatu.  

Pendapa Kabupaten Cilacap, 7 September 2016 

Pentigraf : YEHEZKIEL_32_8J

Rencana Bermain Badminton Bersama Teman

Karya : Yehezkiel Supadi (32/8J)


     Pagi ini cuaca cerah,sambil berjalan di koridor sekolah menuju kelas,aku mangingat-ingat adakah pr yang belum ku kerjakan.Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang yang membuatku terkejut,ternyata itu adalah Nicho teman baikku.Nicho mengajakku bermain badminton pukul 2 siang.

     Selama pelajaran aku memikirkan ajakkan Nicho.Aku senang bermain badminton,tapi aku ragu apakah ibuku mengijinkan aku karena pukul 2 siang adalah waktu untuk istirahat sepulang sekolah.

     Sepulang sekolah,aku memarkirkan sepedaku di luar rumah.Saat masuk rumah aku ditanya ibuku kenapa sepedaku tidak dibawa masuk ke dalam rumah.Aku mengatakan alasannya karena aku mau main badminton pukul 2 siang nanti bersama Nicho ibuku mengijinkan aku untuk pergi bermain badminton bersama Nicho. Tapi aku harus makan siang dan istirahat walau sebentar.Lega rasanya karena aku diijinkan oleh ibuku.Memang orang tua kadang membatasi anaknya tapi itu pasti ada alasannya.Itu juga demi manfaat anaknya.Kalau anaknya taat orang tua pasti lebih banyak memberikan keleluasaan.

Pentigraf 3 : Sukarni_64

SAAT RAMADAN TIBA

Karya : Sukarni

        Dengan santun Marbut Jaki mempersilakan orang-orang untuk salat Zuhur di rumahnya masing-masing. “Siapa yang menyuruh menutup masjid? Ini rumah Allah, selama kita di rumah-Nya, kita akan dijaga-Nya,” jawab Haji Mukri. Siang itu Haji Mukri bersama beberapa orang berhasil salat di masjid. Jaki yang yatim piatu dan masih muda itu tak punya kekuatan apa pun untuk menghentikan langkahnya.

        Sudah tiga hari Ustadz Arif sakit. Ketua takmir masjid itu memasrahkan urusan masjid kepada Marbut Jaki. Ia jugalah yang menyuruh Jaki untuk menyampaikan pada warga agar memenuhi anjuran Pemerintah yaitu berdiam di rumah. Semua orang harus patuh agar penyebaran corona bisa dihentikan. Keributan serupa siang terjadi lagi. Kali ini Haji Mukri mencak-mencak dan membuka paksa pintu masjid yang sudah ditutup Jaki. Dengan lantang ia mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Saat tangan Haji Mukri menjangkau pintu masjid, terdengar suara batuk-batuk Ustadz Arif. Mengenakan masker, tertatih-tatih menaiki undakan masjid. Kerumunan menyibak, menjaga jarak. Haji Mukri merah padam. Nyalinya ciut. Kerumunan diminta bubar dan salat di rumah. Saat semua orang sudah membalikkan badan, tiba-tiba ada yang bertanya, apakah ada salat tarawih saat Ramadan nanti.

            Semua orang kembali berbalik dan menatap Ustadz Arif. “Pulanglah kalian, kita perbaiki akidah kita dengan salat dan berdoa di rumah. Jangan tanya, Ramadan nanti ada tarawih tidak, tapi mari kita merenung diri, Ramadan nanti kita masih ada atau tidak?” jawabnya. Tanpa kata, kerumunan itu membubarkan diri.




Tentang Penulis

Sukarni, kelahiran Klaten 1964. Pencinta warna abu-abu dan makanan manis ini punya hobi membaca novel. Ia bergabung dalam projek Kitab Pentigraf 2 berjudul Papan Iklan di Pintu Depan dan Kitab Pentigraf 3 berjudul Laron-Laron Kota. 

Hasil karyanya sendiri berupa antologi cerpen yang sudah terbit berjudul “Lentera Hati”.

Alamat surel: sukarni.angel64@gmail.com.