Jumat, 22 Mei 2020

Pentigraf : KAYLA_7A_15

   Pentingnya Pendidikan Bagi Kehidupan

Karya : Kayla 7A_15
    
     Pendidikan adalah salah satu modal untuk mencapai kesuksesan. Pendidikan bukan hanya materi pelajaran yang diajarkan oleh Bapak/Ibu Guru di sekolah saja, tetapi ada juga pendidikan lainnya, contohnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter lebih menonjol kepada sikap s seorang seperti tata krama, sopan santun, dan masih banyak sikap baik lainnya. Maka dari itu pendidikan karakter lebih tinggi dibanding pendidikan materi. Tapi jangan salah pendidikan materi juga harus kita pelajari, seperti pepatah yang mengatakan "Kejarlah ilmu sampai ke Negeri Cina". Maka dari itu kita harus semangat menuntut ilmu agar tambah maju bangsa ini nantinya.
     Menurut Survei Pendidikan Dunia, Indonesia Indonesia mendapat peringkat 72 dari 77 negara. Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena banyak anak-anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya, ingin nikah muda, ataupun ingin bekerja saja karena sudah tidak ingin belajar. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia.
     Tetapi sekarang pemerintah sudah memiliki banyak program beasiswa ataupun bantuan untuk anak yang kurang mampu. Salah satu contohnya yaitu KIP (Kartu Indonesia Pintar). Jadi kita sebagai penerus bangsa harusnya kita semangat menuntut ilmu untuk masa depan kita sendiri dan juga masa depan bangsa.

Puisi : KAYLA_7A_15

Corona Virus Berbahaya

Karya : Kayla_7A_15

Cepatnya air sungai mengalir 
Kala hujan turun dengan lebat
Secepat itu pula ratusan nyawa hilang melayang
Karena virus yang sangat kecil bentuknya

Virus yang berasal dari Wuhan Cina
Virus yang sekarang tersebar luas sampai penjuru dunia
Virus yang belum di temukan obat penawarnya
Virus itu adalah virus Corona

Stay at home sekaranglah kuncinya
Kunci terjauh dari virus Corona
Ayo kita pasti bisa melawan Corona
Indonesia pasti bebas dari Corona

Pentigraf : NAJWA KIRANI_24_7B

Pendidikan

Oleh:Putri Najwa Kirani


Cerita ini berawal dari seorang anak yg bernama Rahma. Rahma adalah anak pintar, hampir semua mata pelajaran dikuasai oleh Rahma. Pada suatu hari di Sekolah, Ibu guru menjelaskan bahwa ada lomba cerdas cermat tingkat Provinsi Jateng, dan Ibu guru memilih siswa-siswanya. Dan akhirnya Rahma terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat Provinsi Jateng. Lomba pun dimulai setelah beberapa menit. Lomba selesai dan diumumkan juaranya, tidak menyangka akhirnya Rahma memenangkan lomba cerdas cermat tingkat provinsi Jateng. Ibu bapak Rahma sangat bangga dengan Rahma. Rahma mendapat piagam penghargaan dari Sekolah.


Di sekolah Rahma, sekarang teknologi sudah canggih. Maka dari itu Ibu Kepala Sekolah mengumumkan bahwa, "mulai sekarang kita belajar dengan Handphone ya anak-anak, besok semua murid harus membawa Handphone dari rumah masing-masing. Bel pulang pun berbunyi, Rahma bergegas pulang untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Ibu Kepala Sekolah tadi. Rahma pun berbicara kepada Bapaknya"Pak besok sekolah Rahma sudah mulai memakai Handphone untuk belajar,apakah Rahma boleh minta Bapak beliin Rahma Handphone?"Kata Rahma. Bapak Rahma pun menjawab Boleh nak,asalkan kamu harus lebih giat belajar.Rahma pun berkata "Asyikkk, Terimakasih Pak. Rahma pun lalai dengan janjinya kepada Bapaknya, Rahma setiap hari Asyikk bermain Game hingga dia lupa untuk belajar. Setiap hari dia bermain Game,dan Rahma pun lupa waktu. Pada waktu Penilaian akhir semester, nilai Rahma sangat jelek dan turun drastis dari yang sebelumnya. Rahma pun memeberitahu nilainya kepada Orang tuanya. Rahma pun berkata pada orang tuanya"Pak,Bu maafkan Rahma, nilai Rahma jelek dan turun drastis " kata Rahma. Ibu Rahma pun berkata"Gak papa nak, lain kali jangan lupa waktu kamu harus bisa membagi waktu antara belajar dengan main game nak" Kata ibu Rahma. Rahma pun berkata "iya bu, terimakasih atas nasihatnya"


Rahma pun mulai sadar bahwa yang diperbuatnya salah. Rahma menyesalinya. Semenjak Kejadian teesebut Rahma bisa membagi waktu antara belajar dengan bermain game.


SELESAI

 Sebagai anak bangsa, menjadilah jati diri yang baik dan harus menjadi contoh dalam generasi penerus bangsa yang semakin hebat dalam berfikir


Nama =Putri Najwa Kirani

Kelas =VIIB/24. SMPN 1 CILACAP




Pentigraf : KARIMA Z._17_7E

BUNGAKU PENYEJUK HATIKU

Karya : Karima Zafa Syaharni 17/7E

    Sebulan sudah aku mengurung diri dirumah karena adanya salah covid-19 ini. Sekolah libur, namun kegiatan belajar masih tetap ada melalui online. Semakin lama semakin bosan berada di dalam rumah.
    Suatu pagi aku keluar rumah berjemur diri untuk menghilangkan virus yang menempel. Aku liat di depan rumah ada sedikit halaman yang gersang. 
    Sambil kuperhatikan, akhirnya aku mendapatkan ide untuk merawat dan menanami tanaman bunga bunga yang sangat cantik yang bisa menghilangkan rasa bosan ini. Langsung saja aku mengambil cangkul untuk menggemburkan tanah dan ngambil tanyakan bunga yang sudah ada untuk dipindahkan ke tambah yang baru digembur itu. Kusiram  bunga bunga cantik itu sumpaya segar.
    Seminggu sudah aku merawat bunga itu. Hasilnya bunga itu mulai kejar berwarna warni segitu indah dipasang mata dan menyejukkan hati.

Puisi : KARIMA Z._17_7E

YANG TERKARANTINA

Karya : Karima Zafa Syaharani 17/7E

Sejak tiga bulan yang lalu engkau datang
Kau membawa pertama di seluruh dunia
Banyak korban yang engkau silahkan
Dari balita hingga orang tua menjadi sasarannya

Mengapa engkau mengusik hidup ini
Kami yang sedang belajar menurut umum
Hingga harus mengurung diri dirumah
Sampai waktu yang tak terhindar

Aku sudah rindu dengan teman
Aku sudah rindu dengan ibu dan bapak guru
Aku sudah rindu dengan sekolahan 
Namun aka daya semua harus dirumah saja

Puisi_Pentigraf : TRI DARA_31_7B


BERBAGI 

OLEH: Tri Daradista》31》VIIB

      Namaku Azmi, anak dari orang kurang mampu.Aku putus sekolah sejak bapakku meninggal. Pada saat perjalanan pulang dari pasar ,tiba-tiba dijalan ,aku dipanggil seseorang dari belakang.”Nak,tunggu nak!”.panggil nenek di blakang ku”Iya,ada apa nek!”,jawabku.Melihatnya aku tak tega,sebab ia seperti orang yang tidak terurus.
       “Nenek ingin meminta tolong,nenek sudah 1 minggu tidak makan ,bolehkah nenek minta uang untuk beli makan,nak!”kata nenek itu.Sebenarnya aku ada 10 ribu,tapi uang itu sisaan belanja.Nanti jika aku kasih uang ini ibu bisa marah ,karna ibu lagi gak punya uang.”Gimana ya,aku bingung banget.” lirihku dalam hati.Tapi aku ingat pesan guruku,kita harus saling tolong menolong.Lalu aku beri 10ribu nya pada nenek dengan ikhlas.”Nek aku punya 10 ribu saja,semoga nenek bisa makan dengan uang ini.”kataku ,sambil memberi uang itu.”Terimakasih sekali nak!”kata nenek.Aku pun lanjutkan perjalananku.
       Sesampainya dirumah”Bu ,ini belanjaan nya.”kataku.”Azmi tunggu,mana kembaliannya!”pangil ibu.Lalu aku ceritakan kejadian tadi pada ibu.”Apa!,kamu ini gimana sih kita kan orang miskin,ga punya uang,buat apa sodakoh hahh!”kata ibu sambil menjewerku.Tiba-tiba ada yang mengetok pintu.Aku bukak tidak ada orang,tapi ada sebuah kardus kecil,aku buka.Yaampun,isinya uang .Ibu melihat uang itu,sambil menangis dan memelukku.Ini pasti balasan Tuhan dari uang 10 ribu tadi .Terimakasih Tuhan.Aku percaya dengan berbagi,uang tidak akan penah habis.

Cilacap,25 Mei 2020  
Penulis : Tri Daradista》31》VIIB
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Menulis Puisi
TELAH DATANG CORONA
OLEH :  Tri Daradista》31》VIIB
Corona...
Kau datang ke bumi ini
Sebagai wabah penyakit
Karena mu aku sangat sedih
Kau datang sebagai kehancuran 

Corona...
Sejak engkau datang,
Aku tak bisa keluar rumah
Hanya bisa mengurung diri di dalam rumah
Mengunci semua pintu dan jendela

Corona...
Untuk apa kehadiranmu
Apakah untuk menghebohkan jagad raya ini
Kau tlah menjauhkan kami
Dari kerumunan-kerumunan

Telah datang Corona...
Pengusik ketenangan kami
Siapapun engkau,
Kami tidak takut
Karena kami punya iman di dalam jiwa.










                

Puisi_Pentigraf_Umami RM_7A_30

PUISI

Terasingkan Oleh Virus 

Karya : Umami R. M. 


Aku... 
Sudah lama di negeri orang 
Lalu, kembali ke kampung halaman
Namun, pulangku membawa kecemasan

Karena... 
Akibat virus yang merajalela
Membuat panik semua orang 
Salah satunya keluargaku

Hingga, akupun merasa teransingkan
Semua orang menakutiku
Seakan, akulah pembawa virus
Virus, kumohon cepatlah kau pergi



PENTIGRAF

Ramadhan Dalam Kesunyian

Karya : Umami R. M. 

   Dikisahkan dalam sebuah gubug reog yang bertiangkan bambu rapuh dan hampir roboh, beratapkan anyaman bambu tertata rapih namun sudah berlubang. Mereka tinggal hanya berdua sejak 8 tahun lamanya karena sang Ibu telah tiada sejak kelahiran Dhania. 
      Kini tepat tahun ke-8 Dhania dan Pak Rama merasakan ramadhan dalam kesunyian. Setiap momen seperti ini, Dhania selalu bertanya kepada Bapaknya tentang sosok Ibu yang selalu dirindukannya. Dhania bertanya kepada Bapak, "Pak, aku sering sekali rindu Ibu." Bapak menjawab, " Untuk apa merindukan seseorang yang selalu disini? “ Bapak meletakkan tangannya di dada Dhania sambil berkata " Yang lebih dekat dari pandangan matamu sendiri" Lalu Dhania menjawab dengan heran dan bingung "Aku tidak mengerti Pak, " "Suatu hari Nak, kau akan memahami merindukan kehadiran fisik adalah kerinduan paling rendah. " Dhania bertanya kembali "mengapa Ibu pergi terlalu cepat ? " Bapak menjawab dengan lembut "Karena ruhnya terlalu murni disangga tubuh manusia yang terbatas. Kehidupan di bumi bukan tempat yang cocok untuk sosok yang lebih murni dari Malaikat, maka Tuhan menyuruhnya pulang. " Dhania terdiam dan merenungi perkataan Bapaknya. 
     Dhania yang masih terjaga dalam renungannya ditemani  suara takbir yang bersahutan. Bapak Dhania menghampiri lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Dhania menangis terharu. Dihari lebaran berikutnya, Dhania tak pernah menanyakan tentang Ibu kepada Bapaknya. Dhania berusaha merelakan kepergian Ibunya.

Umami Rosana Mukhson 
7A/30

Putri_Najwa_Kirani_Puisi, 7B

Kedatangannya

Oleh:Putri Najwa Kirani


Hari ini penuh dengan kekhawatiran

Dimana dia terbaik selalu dipanjatkan

Bekerja,beribadah dan belajar sudah dirumahkan

Menunggu Nasib baik penuh harapan


Oh virus corona…..

Engkau datang dari China

Engkau telah ada dimana -mana

Kehadiranmu membuat resah dunia


Mungkin ini caranya 

Alam berbicara

Kepada kita semua

Beristirahat dirumah untuk sementara


Nama:Putri Najwa Kirani

Kelas/absen:VIIB/24. SMPN 1 Cilacap



PUISI & PENTIGRAF BUDIHARJO P.A.Y _ VIIA_04


Pahlawan Kesehatan
Oleh : Budiharjo Prasetyo Aji Yudhanto

Dimasa pandemi ini 

Engkau tegak berdiri

Tak goyah sedikitpun untuk mengabdi

Kepada ibu pertiwi

Para dokter dan perawat kesehatan

Jasamu tak pernah terlupakan

Keikhlasan dan ketulusan pengabdian

Semoga menjadi amal di hari baan Tuhan

PENTIGRAF :
                Pahlawan Kesehatan

     Bu Dewi adalah salah satu perawat yang menangani virus corona. Dia tinggal di sebuah kos - kosan kecil yang berada di tengah permukiman warga. Setiap pagi dia berangkat kerja dan pulang tengah malam.
     Ibu kosnya mulai khawatir bagaimana jika Bu Dewi tertular virus corona dari pasien - pasiennya? Lalu dia bertanya pada Bu Dewi, "Apakah Bu Dewi baik - baik saja?" Setiap hari ibu kosnya selalu bertanya pada Bu Dewi seperti itu, tetapi jawaban Bu Dewi selalu sama dia menjawab bahwa dia baik - baik saja. Semakin hari warga pun semakin resah karena keberadaan Bu Dewi, mereka takut Bu Dewi membawa virus dan menulari warga, warga pun serentak ingin mengusir Bu Dewi dari kos - kosannya. Saat Bu Dewi pulang ke kos - kosannya tiba - tiba terdapat kerumunan warga yang berteriak, "Bu Dewi pergi dari sini." Dia kaget saat mendengarnya, mereka mengancam apa bila tidak segera pergi maka mereka akan membakar barang - barang Bu Dewi.
     Bu Dewi pun pasrah dan akan segera pergi. Saat dia sedang mengemasi barang - barangnya tiba - tiba ada salah satu warga yang baru sembuh dari virus corona, dia berkata, "Saya adalah pasien virus corona yang baru sembuh, saya melihat perjuangan Ibu Dewi saat merawat pasien - pasiennya, dia bekerja mati - matian dan tanpa takut tertular virus corona dari pasiennya, dia adalah pahlawan kesehatan." Setelah mendengar penjelasannya warga pun terharu dan tidak jadi mengusir Bu Dewi, mereka malah memberi tepuk tangan dan semangat pada Bu Dewi.
 


Puisi & Pentigraf | Aji Tigana

Puisi 

Semua bermula dari Wuhan
Menyebar kemana-mana tanpa pemberitahuan
Melampaui batas negara dan jabatan
Memapar segala bangsa tanpa ampun
Hingga bangsa kita pun di serang oleh dia
Dan orang-orang tinggal di rumah
Dan baca buku
Dan dengarkan
Dan mereka beristirahat
Dan berolahraga
Dan membuat karya seni dan dimainkan
Dan belajar cara-cara baru
Dan berhenti dan dengarkan

Pentigraf

Ningsih berjalan tertatih-tatih, menyusuri lorong gelap di sebuah kampung terpencil. Mata sendunya menatap jalang pada apapun yang lalu lalang di hadapan ketika telah tiba di depan lorong. Keinginan menggebu telah menanti untuk terpuaskan. Dahaga yang sungguh menyiksa.

Juwita, kembang desa yang masih belia itu terlihat dari jauh hendak melintasinya. Senyum merekah, mekar di kedua sudut bibir. Pertanda penantiannya akan segera berakhir. "Hai Juwita, lihat Aku!" serunya sebelum gadis cantik itu berlalu terlalu jauh. 

Mendengar namanya disebut, ia segera menoleh. Senyuman Ningsih berdaya magis. Juwita tak berdaya ketika Ningsih menarik tangannya masuk ke dalam lorong gelap itu. Tak berapa lama kemudian, dari mulut lorong itu keluarlah seorang gadis cantik berparas sendu. Ningsih tersenyum bahagia. 

Nama : Aji Tigana H. P
Kelas : 8i
No. Absen : 2