Halaman

Kamis, 21 Mei 2020

Puisi & pentigraf_Talitha_27_7A

Puisi
 Musuh Tak Kasat Mata
Oleh: Talitha

Kau datang tanpa permisi
Kau menyerang tanpa izin
Kau membunuh tanpa persetujuan
Dan kau menetap dengan seenaknya

Kau menghantui bumi ini
Namamu terkenal di penjuru dunia
Kau menyebar tanpa arahan
Banyak korban yang berjatuhan karena ulahmu
Kau menghalangi kami terbang bebas di angkasa

Seluruh orang enggan akan hadirnya dirimu
Tetapi keadaan membuat kami terpenjara di istana kami sendiri
Banyak para pejuang yang kewalahan
Bahkan nyawapun menjadi taruhannya
Cepatlah engkau musnah dari dunia ini
Agar kami dapat menghirup udara segar seperti semula

Si Kecil Pembawa Malapetaka
Oleh: Talitha

Keberadaanmu sungguh mengenaskan
Kekuatanmu luar biasa
Tubuhmu ta sebanding dengan dampak yang kau limpahkan
Perlahan-lahan kau musnahkan manusia dari dunia ini
Suara sorak poranda tergantikan oleh suara isakan yang bergeming dimana saja

Kau mengubah dunia ini
Dunia yang dahulu sangat berwarna kini sirna karena ulahmu
Dunia yang dulu tersenyum kini pudar karenamu
Dunia yang dulunya ramai kini sepi bagai ta berpenghuni

Wahai Corona....
Kami ingin melihat dunia kembali seperti semula
Kami ingin kota- kota di penjuru dunia kembali hidup seperti semula
Kami ingin suara bergemuruh datang kembali
Semoga ini adalah cara Tuhan untuk menghilangkan
keegoisan yang tertanam di dalam diri manusia

Pentigraf
Wacana Yang Tertunda
Oleh: Talitha

Pada suatu hari, aku dan keluargaku hendak pergi mudik ke Cilacap. Aku sangat senang,
karena bisa bertemu dengan nenek dan teman-teman di kampung. Aku membantu ibuku
mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa. Sebelum berangkat kami berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan.

Pada pukul 09.00 kami sudah beranjak dari rumah. Aku sungguh tak sabar ingin bertemu teman-temanku. Di perjalanan aku tertidur pulas lalu bermimpi bahwa aku sudah sampai di desa tercintaku. Setelah beberapa hari kami menetap di rumah nenek, tiba-tiba nenek jatuh sakit. Badan nenek panas dan nenek sulit untuk bernafas, batuk kering dll. Kami bergegas mengantar nenek ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit nenek dinyatakan terkena virus "COVID-19". Kami terkejut mendengar kabar yang kurang mengenakan. Virus tersebut ternyata sudah menyebar satu kampung. Aku dan keluargaku merasa bersalah, karena kepulangan kami ternyata membawa virus yang sangat memastikan.

Akupun terbangun dari mimpiku, lalu aku menceritakan semua kepada ayah dan ibuku. Akhirnya mereka sadar pentingnya mematuhi peraturan pemerintah. Kita tidak boleh pulang kampung terlebih dahulu karena wabah ini. Kamipun putar balik untuk tetap tinggal di rumah tercinta kami agar bisa memutuskan tali penularan virus tersebut.

Nama.       : Talitha Aulia Zuriah Salsabila
Kelas         : VIIA
No. Absen: 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar