Halaman

Kamis, 21 Mei 2020

Puisi dan Pentigraf (Ade Keisya Nurizka Raputri/01/8J)



Pentigraf:



PENYEBARAN COVID-19
Pada tanggal 2 Maret 2020 Bapak Presiden Jokowi mengumumkan orang Indonesia yang pertama kali terkena virus covid-19. Dua orang warga Negara Indonesia (WNI) yang pertama kali terkena virus covid-19 sempat berkontak langsung dengan warga Negara asing. Setelah kejadian itu aku terkejut dan protocol kesehatan sudah mulai diberlakukan dimana-mana. Pemerintah menyarankan untuk menjalankan PHBS yaitu dengan menggunakan masker ketika keluar rumah dan selalu cuci tangan sesering mungkin ketika sedang beraktifitas. Aku pun langsung menjalankan aturan pemerintah tersebut.

Di wilayah rumah aku terdapat dua orang yang sudah positif terkena virus covid-19. Mereka melakukan perjalanan bersama-sama. Awal mulanya satu orang tersebut mengalami gejala seperti demam, flu, sakit tenggorokan dan sesak nafas. Kemudian orang tersebut di karantina mandiri selama 14 hari dirumahnya. Namun, setelah ada laporan dari warga sekitar rumahnya karena orang tersebut tidak menaati aturan karantina akhirnya dijemput paksa oleh pihak medis dan dilakukan karantina dirumah sakit. Kejadian tersebut membuat aku dan keluarga semakin lebih menjaga kebersihan.

Dampak dari penyebaran virus covid-19 ini aku harus belajar dirumah selama 14 hari atau mungkin bisa lebih karena virus covid-19 terus menyebar. Maka dari itu untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 pemerintah menganjurkan untuk belajar dirumah, beribadah dirumah, dan bekerja dirumah. Sebenarnya aku sagat berat mendengar kata kata seperti itu, tetapi itu sudah aturan dari pemerintah dan harus dijalankan demi memutus mata rantai penyebaran. Selama belajar dirumah ini aku sangat bosan sekali dan ingin cepat-cepat virus covid-19 usai agar bisa belajar disekolah seperti sedia kala lagi.







 Puisi:







COVID-19
Engkau datang secara tiba tiba
Bagaikan bala tentara dalam operasi senyap
Yang menembaki ribuan orang di dunia
Padahal kami hanya orang yang tidak punya senjata

Pada akhirnya, kami mengalah untuk mengurung diri dirumah
Tapi kami tidak sedang mengalah begitu saja
Kami sedang menyiapkan peluru-peluru dari doa
Yang setiap hari kami panjatkan

Dan kami sedang berusaha untuk melawanmu
Agar hilang dari dunia ini
Yang sudah menyakiti dan membunuh ribuan orang
Sampai tenaga medis berkorban hingga titik darah penghabisan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar